Srikandi Senopati

Adaptasi Novel dari Lakon Wayang Kulit Purwa, ​"Nalika takdir prajurit wanito kapiji dadi benteng ing padhang Kurukshetra, panah kang lumepas dudu mung nembus dada... nanging uga nuntaske janji sukma kang wis nunggu antarane zaman."



PEMALANG - ​Angin malam berembus kencang menerpa dinding-dinding kain perkemahan Randuwatangan di padang Kurukshetra. Bau amis darah dan sangit minyak obor menyatu dengan aroma tanah kering yang tersiram embun dingin.

Di dalam kemah utama pihak Pandawa, suasana lengang berselimutkan kegelisahan yang amat pekat. Pelita minyak meliuk-liuk, memantulkan bayangan tubuh-tubuh agung yang diliputi beban amat berat.

​Prabu Puntadewa, sang Raja Amarta yang berjiwa suci, duduk tertunduk dengan jemari saling bertaut. Di sampingnya, Bima berdiri kokoh bagai gunung, namun raut mukanya menyiratkan amarah yang tertahan. Arjuna, sang pemanah ulung, menatap ujung busur Gandiva-nya tanpa suara.

Sepuluh hari Perang Bharatayudha telah berlalu, dan setiap harinya pasukan Pandawa digulung tanpa ampun oleh ketangguhan Resi Bisma—prajurit tua agung dari Hastinapura yang memiliki kesaktian tiada tanding.

​"Duh Kakang Kresna..." suara Puntadewa terdengar bergetar namun halus. "Bila setiap hari ribuan prajurit kita gugur di hadapan Resi Bisma, apakah perang ini hanya akan berujung pada kepunahan kita semua? Resi Bisma memiliki pusaka Sthanu dan sumpah Iccha-mrityu—ia tidak bisa mati kecuali atas kehendaknya sendiri. Bagaimana mungkin kita dapat menembus benteng Hastinapura itu?"

​Sri Kresna, yang duduk mendampingi para Pandawa sebagai penasihat agung, tersenyum tipis. Matanya tajam memandang ke luar jendela perkemahan, menembus kegelapan malam Kurukshetra. Ia berdiri melangkah anggun, lalu menghentikan pandangannya tepat pada sosok wanita yang berdiri tegak di dekat jajaran senjata.

​"Puntadewa, adikku..." kata Kresna mantap. "Rahasia kekalahan Bisma tidak terletak pada kedahsyatan gada Bima, tidak pula pada tajamnya panah Pasupati milik Arjuna. Ksatria pria mana pun di bumi ini tidak akan sanggup merubuhkan Bisma, sebab Bisma telah bersumpah tidak akan tunduk oleh laki-laki."

​Ruangan kemah mendadak sunyi. Bima mendongak, Arjuna mengangkat pandangannya. Kresna melangkah mendekati Dewi Srikandi, putri dari Kerajaan Pancala yang tangguh.
​"Sosok yang sanggup melumpuhkan Resi Bisma adalah seorang senopati wanita," lanjut Kresna tajam. "Ia adalah Dewi Srikandi!"


​Dewi Srikandi bukanlah wanita keraton biasa yang menghabiskan waktunya di dalam peraduan mewahnya. Sejak muda di Kerajaan Pancala, Srikandi adalah sosok putri yang gandrung akan seni olah kanuragan. Ketika Arjuna bertandang ke Pancala usai memenangkan sayembara meremuk garuda, Srikandi terpikat bukan hanya pada ketampanan sang Pandawa, melainkan pada kemahirannya memainkan busur panah.

​"Jadikan aku muridmu, Raden," kata Srikandi kala itu dengan mata menyala. "Aku ingin jemariku tidak hanya bisa memetik tali kecapi, tapi juga bisa melepaskan anak panah demi membela kebenaran."

​Arjuna yang terpesona oleh keberanian dan keteguhan hati Srikandi mengajarinya setiap teknik memanah: cara memegang jemparing, membaca arah angin, hingga memusatkan batin (heninging nalar).

Berkat ketekunan itu, Srikandi bertumbuh menjadi prajurit panah yang sangat ulung dan diperistri oleh Arjuna, sekaligus dipercaya menjaga keamanan Kesatrian Madukara.
​Kini, di tengah gemuruh Perang Bharatayudha, panggilan takdir yang sesungguhnya menghampiri Srikandi. Mendengar penunjukan Sri Kresna, Srikandi melangkah maju ke tengah majelis perkemahan. Ia berlutut menyembah Prabu Puntadewa.


​"Sinuwun," ujar Srikandi tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Jika memang takdir hamba harus memimpin barisan Pandawa di medan perang besok pagi, hamba siap mempertaruhkan jiwa dan raga. Keraguan kaum pria tidak akan menghalangi kewajiban hamba membela keadilan wahai Sabda Pandita Ratu."

​Prabu Puntadewa menatap Srikandi dengan rasa haru yang membuncah. Dengan tangan gemetar, sang Raja Amarta mengurapi dahi Srikandi dengan minyak suci dan menyerahkan mahkota Senopati Agung. Sang putri Pancala resmi diangkat menjadi Panglima Perang (Senopati) Pandawa untuk pertempuran hari ke-11.


​Malam semakin larut ketika Kresna mengajak Srikandi dan Arjuna menyendiri di tepi sungai yang mengalir di batas Kurukshetra. Di sana, Kresna membisikkan rahasia takdir alam semesta yang menyelimuti pertempuran esok hari.

​"Srikandi, ketahuilah," bisik Kresna penuh misteri. "Keberhasilanmu esok bukan semata karena ketepatan panahmu, melainkan karena kehendak dewa yang menitiskan sukma Dewi Amba ke dalam jiwamu."

​Kresna kemudian mengisahkan takdir masa lalu di Kerajaan Kasi. Dahulu kala, Bisma—yang saat itu masih bernama Dewabrata—membawa tiga putri Kasi (Amba, Ambika, dan Ambalika) dalam sebuah sayembara demi diabdikan kepada adiknya.

Namun, Dewi Amba jatuh hati kepada Bisma dan menuntut agar Bisma menanggapinya sebagai suami. Bisma, yang terikat sumpah wadat (suci tidak menikah seumur hidup), menolak niat Amba.

​Dalam percekcokan itu, Bisma merentangkan panah hanya untuk menakuti Amba agar pergi. Namun takdir berkata lain; anak panah itu melepaskan diri secara tidak sengaja dan menembus dada Dewi Amba. Sebelum menghembuskan napas terakhir, sukma Dewi Amba bersumpah: 'Wahai Bisma! Aku tidak akan masuk ke swargaloka sebelum menjemput rohmu! Aku akan menitis pada seorang prajurit wanita dalam perang besar Bharatayudha untuk mencabut nyawamu!'

​Srikandi mendengarkan cerita itu dengan dada bergemuruh. Ia meraba dadanya, merasakan kehangatan misterius yang seolah memberinya kekuatan supranatural. "Jadi... roh Dewi Amba menitis padaku untuk menuntaskan janji keadilan itu?" tanya Srikandi.
​"Benar," jawab Kresna. "Bisma tahu betul akan hal itu. Ia tidak akan pernah mengarahkan panahnya kepada wanita, apalagi wanita yang di dalamnya bersemayam sukma Amba. Esok adalah hari penuntasan janji karma."


​Fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan warna merah darah di atas langit Kurukshetra. Terompet kerang (sangka) ditiup bersahut-sahutan dari kedua belah pihak. Tambur perang bergemuruh memecah kesunyian fajar.

​Dari arah markas Pandawa, muncul sebuah kereta perang megah berukir kencana. Kereta itu dikemudikan oleh Arjuna yang memegang kendali kuda-kuda putih perkasa. Di atas kereta berdiri tegap Senopati Agung yang baru: Dewi Srikandi. Mengenakan pakaian garuda bercorak emas dan menyandang busur panah sakti Kyai Pasupati di punggungnya, Srikandi tampak sangat anggun sekaligus mengerikan bagi musuh.

​Di seberang lapangan, barisan Kurawa terperanjat saat melihat sosok senopati Pandawa hari itu. Adipati Karna dan Prabu Duryudana terperanjat melihat seorang wanita memimpin pasukan di garis paling depan. Namun di atas kereta perang utama Hastinapura, Resi Bisma yang berjanggut putih panjang menatap kedatangan Srikandi dengan mata berbinar lembut.

​"Srikandi..." bisik Resi Bisma pelan di tengah dentum senjata pertempuran. "Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba."

​Pertempuran dahsyat tak terelakkan. Pasukan prajurit meluncur bagai gelombang samudra. Panah-panah Srikandi melesat bagai hujan lebah, merontokkan prajurit Kurawa yang mencoba mendekat. Dengan cekatan dan ketangkasan tinggi, Srikandi memimpin pasukannya menembus barisan pertahanan depan musuh hingga langsung berhadapan dada demi dada dengan kereta perang Resi Bisma.


​Dua kereta perang kini berdiri berhadapan di tengah kecamuk perang. Resi Bisma berdiri tinggi gagah dengan busur pusakanya. Namun begitu matanya bertatap dengan mata Srikandi, penglihatan sang Resi tua berubah. Sosok Srikandi yang cantik perkasa mendadak menjelma menjadi bayangan ghaib Dewi Amba yang tersenyum penuh kedamaian di atas udara.

​"Selamat datang, Amba..." batin Bisma pasrah. Sang Resi menurunkan busur panahnya secara perlahan. Ia tidak lagi mengangkat senjata untuk bertahan maupun menyerang. Bisma merentangkan dadanya yang terlapis zirah kencana, siap menerima apa pun yang diputuskan oleh takdir.

​Di atas keretanya, Srikandi merasakan getaran hebat pada tali busurnya. Arjuna yang berdiri di sampingnya memegang tali kendali kuda seraya berbisik lembut, "Lepaskan panahmu, Yayi... Tuntaskan kewajiban ksatria ini."

​Srikandi menarik anak panah pusaka, membidik tepat ke dada Resi Bisma. Dalam hitungan detik, tali busur dilepaskan, wuzzzzh.....​Anak panah meluncur tajam menembus angin pagi Kurukshetra. Pada saat bersamaan, bayangan ghaib Dewi Amba seolah membimbing anak panah tersebut. Panah pertama menancap tepat di dada sang Resi Agung. Disusul oleh rentetan panah-panah penjelmaan yang melesat bagai hujan emas, menembus perisai dan tubuh perkasa Resi Bisma.

​Resi Bisma terhuyung dari atas keretanya. Tubuhnya yang terhujam puluhan anak panah roboh melayang ke tanah. Namun, tubuh sang ksatria tua tidak menyentuh tanah secara langsung; puluhan gagang panah yang menancap di punggungnya menahan tubuh Bisma hingga ia terbaring di atas "Kasur Panah" (Kasur Jamus / Wrekatita).


​Gugurnya Resi Bisma di tangan Srikandi menjadi titik balik terbesar dalam wiracarita Perang Bharatayudha. Sosok prajurit wanita yang semula dipandang sebelah mata telah mengukir sejarah agung di padang Kurukshetra. Srikandi telah membuktikan bahwa keberanian, ketulusan jiwa, dan keteguhan iman seorang wanita mampu meruntuhkan benteng kesaktian terbesar sekalipun.
​Srikandi Senopati bukan sekadar alur cerita perang, melainkan simbol emansipasi, keadilan karma, dan ketabahan raga wanita pewayangan Jawa yang abadi sepanjang zaman.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT