Didalam Dada Baladewa Bersemayam Hati Yang Sangat Lurus, Jujur, Serta Tak Kenal Kompromi Terhadap Kejahatan
PEMALANG - Di puncak Kahyangan Junggring Salaka, suasana tidak lagi tenang. Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru) duduk bertahta didampingi oleh Sang Hyang Narada. Alam marcapada bergejolak parah—gunung-gunung meletus, kawah Candradimuka mendidih, dan angin puting beliung mengamuk hingga meretas ketentraman istana para dewa. "Kakang Narada," tutur Bathara Guru, "apakah yang menjadi muara dari gejolak hebat yang mengguncang bumi dan langit ini?" Penyebab dari keguncangan tersebut adalah keprihatinan serta keteguhan batin seorang ksatria utama yang sedang bertapa di Marcapada, yakni Prabu Baladewa (Kakrasana) dari Kerajaan Mandura. Demi membela kebenaran, menuntut keadilan, dan memohon anugerah keselamatan bagi negeri, doa serta prihatin Baladewa menembus hingga ke singgasana para dewa. Prabu Baladewa adalah sosok bertubuh kekar, berwajah merah murka, dan bersuara bagai guntur. Meski dari luar ia tampak pemberang dan cepat tersulut amarah, di bali...