Sepenggal Kisah Lama Yang Nampak di Bawah Lampu Temaram Malam
Cerpen. PEMALANG - Hujan gerimis baru saja mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan pantulan cahaya lampu jalan yang membias di kaca jendela kafe. Mitha duduk mematung di sudut ruangan yang remang. Di depannya, secangkir kopi hitam yang tadi dipesannya kini telah dingin, menyisakan jejak lingkaran hitam di dasar cangkir—sama seperti rasa hampa yang kini mengendap di dadanya. Dari panggung kecil di sudut lain kafe itu, petikan gitar blues mengalun lambat dan berat. Setiap nada yang bergetar seolah menyeret Mitha kembali pada lorong-lorong ingatan yang berusaha ia hindari. "Dunia ini memang penuh kepalsuan," bisiknya pelan, hampir tak terdengar, tersapu riuh rendah percakapan orang-orang di sekitarnya. Ada rasa perih yang begitu dalam setiap kali ia mengingat janji-janji yang dulu terucap manis. Dulu, kata-kata itu terasa seperti tempat berteduh yang paling aman, dahan kokoh yang siap menopang segala kerapuhan hatinya. Mitha menyerahkan seluruh kepercay...