Brubuh Ngastina, Puncak Darah di Padang Kurusetra
PEMALANG - Fajar Angin pagi di Kurusetra tidak lagi membawa aroma embun. Senja dan fajar di medan perang itu telah menyatu dalam bau amis darah dan jelaga perang Bharatayuddha yang telah melahap ribuan jiwa. Kereta-kereta perang hancur menjadi serpihan kayu, gajah-gajah tempur tergelak kaku, dan bumi Ngastina seakan meratap menampung tangisan para janda serta anak-anak yang kehilangan ayah mereka. Di kubu Pandawa, Prabu Puntadewa berdiri menatap hamparan padang yang porak-poranda. Wajah sang Raja Amarta yang tenang itu kini diselimuti kedukaan yang amat dalam. Di sampingnya, Sri Kresna—sang penasihat agung bertangan dingin—berdiri menatap lurus ke arah benteng Hastinapura. "Kakang Puntadewa," ucap Kresna lembut namun tegas. "Malam telah berganti fajar ke-18. Takdir perang ini harus segera dituntaskan. Kurawa hanya menyisakan beberapa orang, dan puncak dari kebathilan itu ada pada Duryudana." Raden Werkudara (Bima) melangkah mendekat. Langkah kaki...