Posts

Didalam Dada Baladewa Bersemayam Hati Yang Sangat Lurus, Jujur, Serta Tak Kenal Kompromi Terhadap Kejahatan

Image
PEMALANG - ​Di puncak Kahyangan Junggring Salaka, suasana tidak lagi tenang. Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru) duduk bertahta didampingi oleh Sang Hyang Narada. Alam marcapada bergejolak parah—gunung-gunung meletus, kawah Candradimuka mendidih, dan angin puting beliung mengamuk hingga meretas ketentraman istana para dewa. ​"Kakang Narada," tutur Bathara Guru, "apakah yang menjadi muara dari gejolak hebat yang mengguncang bumi dan langit ini?" ​Penyebab dari keguncangan tersebut adalah keprihatinan serta keteguhan batin seorang ksatria utama yang sedang bertapa di Marcapada, yakni Prabu Baladewa (Kakrasana) dari Kerajaan Mandura. Demi membela kebenaran, menuntut keadilan, dan memohon anugerah keselamatan bagi negeri, doa serta prihatin Baladewa menembus hingga ke singgasana para dewa. ​ ​Prabu Baladewa adalah sosok bertubuh kekar, berwajah merah murka, dan bersuara bagai guntur. Meski dari luar ia tampak pemberang dan cepat tersulut amarah, di bali...

​Peringati Hari Pramuka ke-65, Kwaran Ampelgading Gelar Jambore Ranting 2026 di Lapangan Desa Karang Tengah

Image
​ PEMALANG — Kwartir Ranting (Kwaran) Gerakan Pramuka Ampelgading menggelar kegiatan Jambore Ranting (Jamran) sekaligus peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun 2026 yang mengusung tema nasional "Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045". "Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh para peserta didik tingkat SD, dan SMP hingga SMA/SMK, dan untuk tingkat SD, kegiatan perkemahan dipusatkan di Lapangan Desa Karangtengah kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang dari tanggal 12 hingga 13 Agustus 2026. Sedangkan peserta tingkat SMP dan SMA/SMK melangsungkan perkemahan di bumi perkemahan (Buper) masing-masing pangkalan", ucap Kisworo, selaku Ketua Kwaran Ampelgading, Rabu (12/8/2026). ​​Ketua Kwaran Ampelgading juga menyampaikan bahwa persiapan fisik para peserta sudah diimbau jauh-jauh hari melalui Ketua Majelis Pembimbing Gugusdepan (Kamabigus) di tiap-tiap sekolah. Mengingat tingginya di...

​Soekarno Buka Suara, Dari Poros Jakarta-Peking, Hubungan dengan Barat, hingga Alasan Indonesia Keluar dari PBB

Image
PEMALANG — Dalam sebuah wawancara eksklusif di Istana Merdeka pada tahun 1965, Presiden Soekarno menegaskan kembali posisi politik luar negeri Indonesia yang independen namun progresif. Di tengah sorotan dunia internasional terkait sikap politik Indonesia, Bung Karno menjawab berbagai isu krusial, mulai dari tuduhan kedekatan dengan Tiongkok (China), hubungan dengan negara-negara Barat, hingga alasan mendasar di balik keputusan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ​ ​Wawancara diawali dengan pertanyaan mengenai anggapan dunia bahwa Indonesia telah berpihak sangat erat kepada Tiongkok. Menjawab hal tersebut, Soekarno menegaskan bahwa Indonesia sejatinya berpihak pada seluruh kekuatan progresif dunia (New Emerging Forces). ​Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang sebagai gabungan dari negara-negara yang sama-sama memproklamasikan kemerdekaannya di sekitar tahun 1945. ​Menanggapi kekhawatiran bahwa Tiongkok memiliki ambisi imperialisme di Asia, Soekar...

Arjuna Melayangkan Tantangan Perang Tanding Secara Terbuka Kepada Prabu Palgunadi

Image
Novel diadaptasi dari Lakon Wayang Orang, "Palguna, Palgunadi". PEMALANG - ​Di Kerajaan Paranggelung, Prabu Palgunadi (yang juga dikenal sebagai Ekalaya) bertakhta didampingi permaisurinya yang jelita, Dewi Anggraini. Meski telah menjadi raja, Palgunadi tidak pernah merasa puas akan ilmu ketangkasan memanah. Hatinya senantiasa bergetar setiap kali mendengar nama Begawan Durna, guru besar dari Padepokan Sokolimo. ​Palgunadi memohon restu dari istrinya untuk menimba ilmu panah langsung di bawah bimbingan Sang Resi. Dengan keikhlasan dan pengabdian tinggi (guru bakti), Palgunadi menganggap Sang Resi Durna sebagai guru rohani tempat ia menyerahkan ketundukan jiwa dan raganya. ​ ​Di sisi lain, kedatangan Palgunadi ke wilayah Sokolimo menimbulkan gejolak. Raden Arjuna (yang juga bergelar Palguna), murid kesayangan Resi Durna, merasa terusik. Arjuna telah memegang janji Sang Guru bahwa tidak ada seorang pun di marcapada yang akan mengungguli kemampuannya dalam meman...

​Mengapa Hidup Makin Mudah tapi Makin Kosong, Abu Marlo Ungkap Rahasia Rasa Cukup dan Kebahagiaan

Image
​ PEMALANG — Di tengah kemajuan teknologi dan berbagai kemudahan hidup modern, banyak orang justru merasa hampa, stres, dan sulit merasakan kebahagiaan. Fenomena ini dibedah oleh mantan pesulap (magician) yang kini menjadi praktisi kesadaran, Abu Marlo, dalam perbincangannya di kanal YouTube Rory Asyari. ​Abu Marlo menjelaskan bahwa perubahan era modern membawa paradoks tersendiri. Kemudahan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesadaran diri justru memicu fenomena choice paralysis—kondisi di mana manusia terlalu banyak disodori pilihan dan informasi sehingga menjadi bingung serta sulit merasa puas. ​ ​Pria yang pernah berada di puncak popularitas sebagai pesulap ini mengungkapkan titik baliknya terjadi saat ia merasa kesepian dan hampa di tengah pencapaian materi dan ketenaran. ​"Orang menuju pencerahan itu tidak bisa kalau tidak melalui penderitaan (suffering). Penderitaan memanggil kita untuk pulang dan menyadari diri," ujar Abu Marlo. ​Ia menambahkan ba...

Langkah Kebenaran Prabu Salya Dibegal Saat Berada Perbatasan Perbukitan Mandaraka

Image
PEMALANG - Puncak konflik di tengah (saat Prabu Salya mengalami pangudarasa / frustrasi berat), lalu mundur ke awal (melihat bagaimana ia "dibegal" oleh Kurawa), dan diakhiri dengan melangkah maju ke masa depan (menerima pencerahan dari Semar & Batara Narada hingga menyongsong takdir Baratayudha). ​ ​Jeritan di Dalam Tenda Mandaraka, Malam Sebelum Baratayudha, ada ​Gamelan penobatan Senapati perang Kurawa telah surut di luar, meninggalkan keheningan yang mencekik di dalam kemah Prabu Salya. Sang Raja Mandaraka yang gagah berani itu terduduk di tanah. Mahkota emasnya tergeletak tak berdaya di atas debu. ​Rasa kecewa, hampa, dan kegagalan total membakar dada Salya hingga ke puncak tertinggi. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang menyimpan Aji Candrabirawa, kesaktian tanpa tanding yang kini terasa tak berguna. ​"Kanggo apa aku urip?" (Untuk apa aku hidup?) jerit Salya dalam kebatinan yang teramat dalam. ​"Kanggo apa aku kasinungan ...

​Tan Malaka, "Sosok Visioner dan "Bapak Republik" yang Terlupakan

Image
PEMALANG - Tan Malaka dikenal sebagai salah satu figur paling kontroversial, sering disalahpahami, sekaligus visioner dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jasanya luar biasa bagi bangsa ini, meski namanya sempat disingkirkan dan absen dari buku-buku pelajaran sejarah sepanjang era Orde Baru. ​Presenter Mata Najwa, Najwa Shihab, menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang pahlawan nasional yang "revolusioner dan kesepian." Walau gigih menentang kolonialisme dan menggagas konsep Republik Indonesia sejak awal, akhir hayatnya justru tragis: ia terbunuh di medan gerilya di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949. ​ ​Lahir dengan nama Ibrahim di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897, Tan Malaka tumbuh dalam keluarga bangsawan. Kecerdasannya sudah menonjol sejak belia. Saat menempuh pendidikan guru (Kweekschool) di Bukittinggi, ia meraih nilai yang sempurna. Gurunya, Horensma, bahkan mendorongnya untuk melanjutkan studi k...