Posts

Brubuh Ngastina, ​Puncak Darah di Padang Kurusetra

Image
PEMALANG - ​Fajar Angin pagi di Kurusetra tidak lagi membawa aroma embun. Senja dan fajar di medan perang itu telah menyatu dalam bau amis darah dan jelaga perang Bharatayuddha yang telah melahap ribuan jiwa. Kereta-kereta perang hancur menjadi serpihan kayu, gajah-gajah tempur tergelak kaku, dan bumi Ngastina seakan meratap menampung tangisan para janda serta anak-anak yang kehilangan ayah mereka. ​Di kubu Pandawa, Prabu Puntadewa berdiri menatap hamparan padang yang porak-poranda. Wajah sang Raja Amarta yang tenang itu kini diselimuti kedukaan yang amat dalam. Di sampingnya, Sri Kresna—sang penasihat agung bertangan dingin—berdiri menatap lurus ke arah benteng Hastinapura. ​"Kakang Puntadewa," ucap Kresna lembut namun tegas. "Malam telah berganti fajar ke-18. Takdir perang ini harus segera dituntaskan. Kurawa hanya menyisakan beberapa orang, dan puncak dari kebathilan itu ada pada Duryudana." ​Raden Werkudara (Bima) melangkah mendekat. Langkah kaki...

GUGURNYA BOMANARAKASURA (BOMA GUGUR)

Image
PEMALANG - ​Awal Prahara dari Benih Asmara Terlarang ​Di balik megahnya Istana Trajutrisna, takdir merajut benih bencana. Prabu Bomanarakasura (Setija), putra tertua Prabu Kresna dari Dewi Pretiwi, bertakhta dengan kekuasaan yang amat ditakuti. Namun, di dalam kediaman bahagianya, tersembunyi duka yang tenang. Dewi Hagnyanawati, sang permaisuri, menyimpan kerinduan mendalam yang tak pernah tertuju pada suaminya, melainkan kepada Raden Samba (Wisnubrata)—adik tiri Boma yang tampan dan rupawan dari Istana Dwarawati. ​Pertemuan rahasia antara Samba dan Hagnyanawati yang semula hanya bisikan asmara terselubung, lambat laun terendus oleh para prajurit dan Patih Pancatnyana. Kabar tak sedap itu akhirnya sampai ke telinga Sang Raja Trajutrisna. ​Murka Sang Raja Trajutrisna ketika suatu pagi ​Ufuk timur Trajutrisna mendadak merah membara bagai membakar dada Prabu Bomanarakasura. Saat mendapati bukti kebenaran perselingkuhan tersebut, kesabaran Boma hancur tak berbekas. Dikenal m...

Puntadewa ; Ksatria Sejati Tidak Boleh Menolak Undangan Kerabat, Jika Kita Menolak, Dunia Akan Menganggap Pandawa Sombong

Image
Novel diadopsi dari Lakon Wayang Pandawa kalah Dadu. PEMALANG - ​Kabut tebal membungkus gerbang perbatasan Hastinapura. Enam sosok bertubuh tegar melangkah perlahan menjauhi megahnya istana. Mereka tak lagi mengenakan mahkota kebesaran atau kain sutra berbenang emas, melainkan pakaian kulit kayu yang kasar. ​Prabu Puntadewa berjalan di paling depan dengan tatapan tenang namun menyimpan kepedihan mendalam. Di sampingnya, Dewi Drupadi melangkah dengan rambut panjang yang terurai berantakan—tanpa gelung, tanpa hiasan bunga. ​Di belakang mereka, Raden Bima menghentakkan kakinya ke tanah, menatap tajam ke arah benteng Hastinapura yang perlahan mengabur di balik kabut. ​"Tunggulah tiga belas tahun lagi..." bisik Bima dengan suara bagaikan guruh pelan. "Tiga belas tahun dari sekarang, tanah Kurukshetra akan meminum darah kalian semua!" ​Langkah kaki mereka adalah awal dari masa pengasingan selama 12 tahun di hutan belantara dan 1 tahun masa penyamaran. Se...

Pandawa Kalah Dadu

Image
Novel diadopsi dari ​(Lakon Pandawa Dadu – Pasca Sesaji Rajasuya) ​ PEMALANG - Sisa Kemegahan dan Benih Kedengkian ​Agung dan adiluhung dari Gelaran Sesaji Rajasuya di Kerajaan Amarta telah usai dengan penuh kejayaan. Seluruh raja dari mancanegara bertekuk lutut dan mengakui Prabu Puntadewa sebagai Raja Binathara—pemimpin para raja. Istana Amarta yang dibangun oleh Arsitek Maya berdiri begitu megah, dilapisi kristal, kaca, dan batu permata yang menyilaukan mata. ​Namun, di balik riak kegembiraan itu, ada mata yang membara oleh kedengkian. Prabu Duryudana, Raja Hastinapura, berjalan menyusuri balairung Amarta dengan dada sesak oleh rasa iri. Ketika melintasi aula tengah, ia mengira lantai kaca yang jernih adalah kolam air. Dengan sigap Duryudana mengangkat kain jariknya tinggi-tinggi agar tak basah. ​Suara gelak tawa menggema dari sudut balai. Dewi Drupadi dan adik-adik Pandawa secara tak sengaja tersenyum melihat kekecohan sang Raja Hastinapura. Rasa malu bercampur hina...

Rahasia Di Negeri Wiratha

Image
Novel diangkat dari lakon Wayang kulit WirataParwa ​ PEMALANG - Kegelisah di Singgasana Astina, ​Suasana Paseban Agung Kerajaan Astina terasa lengang meski dihadiri para tetua dan pimpinan istana. Prabu Duryudana duduk tertegun di atas singgasana emasnya. Gelisah menggerogoti jiwanya. Perjanjian judi dadu tiga belas tahun silam kini berada di ambang purna. Pandawa telah menjalani masa pembuangan dua belas tahun di Hutan Kamyaka dan kini memasuki tahun terakhir—tahun ketiga belas—di mana mereka harus menyamar tanpa boleh ketahuan oleh siapapun. ​Bila dalam tahun penyamaran ini keberadaan Pandawa terendus oleh pihak Kurawa, maka hukumannya amat berat: mereka wajib mengulang penyamaran dan pengasingan selama tiga belas tahun lagi. ​"Eyang Resi Bisma, Paman Sangkuni, serta Resi Durna," ucap Duryudana ragu. "Waktu penyamaran Pandawa tinggal beberapa hari lagi. Betapa hancurnya hati saya membayangkan penderitaan saudara-saudara saya, Pandawa, yang terus terpis...

Senyum Palsu Pemandu Lagu (Purel) Dan Gelas-gelas Minuman Yang Menguras Uang Belanja Rumah Tangga

Image
Cerpen diadopsi dari lagu Mangku Purel. ​ PEMALANG - Keharmonisan keluarga, jebakan hedonisme singkat, dan jalan pencerahan. Adalah Laki laki sekaligus Seorang Ayah dengan Nama Joko Lantur, seorang kepala keluarga yang terjebak dalam pusaran gemerlap malam dan kebiasaan "mangku purel" (foya-foya di tempat hiburan), harus memilih antara kesenangan semu yang merusak rumah tangganya atau kembali merajut masa depan bersama anak dan istrinya sebelum semuanya terlambat. ​ Dentum Bass dan Kaca Remang yang membuat dirinya mengenal dunia malam tempat Joko Lantur melarikan diri dari tekanan hidup. Senyum palsu pemandu lagu (purel) dan gelas-gelas minuman yang menguras uang belanja rumah tangga. ​Alasan Sunyinya Meja Makan menggambarkan kontras di rumah: Ningrum (istri Joko Lantur) yang setia menunggu hingga larut malam sambil menghangatkan lauk yang tak tersentuh, serta biaya sekolah anak yang tertunggak. ​Menyenangi Dentum Bass dan Kaca Remang, ​Bau tembakau bercamp...

Pemberian Hadiah Dari Ratu Balqis Yang Ditolak Raja Sulaiman, Membuat Ratu Balqis Sadar Bahwa Sulaiman Bukanlah Raja Biasa

Image
PEMALANG - ​Di bagian selatan Jazirah Arab, terbentang sebuah kerajaan yang makmur dan mengagumkan bernama Saba. Negeri ini dinaungi oleh tanah yang subur, sistem pengairan yang canggih, serta kedamaian rakyatnya. Di puncak pimpinan, bertakhtalah Ratu Balqis, seorang wanita cerdas, berwibawa, dan bijaksana yang selalu mengutamakan kemaslahatan rakyatnya. ​Kemegahan istana Saba dihiasi oleh sebuah pilar emas dan permata—singgasana agung yang menjadi simbol kejayaan. Namun, di balik kejayaan tersebut, Ratu Balqis beserta rakyatnya hidup menyembah matahari. Mereka menganggap sang surya sebagai sumber kehidupan utama dan bersujud menyembahnya setiap pagi. ​ ​Jauh dari Saba, Allah memuliakan Nabi Sulaiman AS dengan kerajaan luar biasa yang membawahi manusia, jin, hingga hewan. Saat memeriksa barisan pasukannya yang tertib, Nabi Sulaiman menyadari ketidakhadiran burung Hud-hud. ​Rupanya, burung Hud-hud sedang terbang jauh mendapati Negeri Saba. Ia menyaksikan kemakmuran Saba...