Posts

Langkah Kebenaran Prabu Salya Dibegal Saat Berada Perbatasan Perbukitan Mandaraka

Image
PEMALANG - Puncak konflik di tengah (saat Prabu Salya mengalami pangudarasa / frustrasi berat), lalu mundur ke awal (melihat bagaimana ia "dibegal" oleh Kurawa), dan diakhiri dengan melangkah maju ke masa depan (menerima pencerahan dari Semar & Batara Narada hingga menyongsong takdir Baratayudha). ​ ​Jeritan di Dalam Tenda Mandaraka, Malam Sebelum Baratayudha, ada ​Gamelan penobatan Senapati perang Kurawa telah surut di luar, meninggalkan keheningan yang mencekik di dalam kemah Prabu Salya. Sang Raja Mandaraka yang gagah berani itu terduduk di tanah. Mahkota emasnya tergeletak tak berdaya di atas debu. ​Rasa kecewa, hampa, dan kegagalan total membakar dada Salya hingga ke puncak tertinggi. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang menyimpan Aji Candrabirawa, kesaktian tanpa tanding yang kini terasa tak berguna. ​"Kanggo apa aku urip?" (Untuk apa aku hidup?) jerit Salya dalam kebatinan yang teramat dalam. ​"Kanggo apa aku kasinungan ...

​Tan Malaka, "Sosok Visioner dan "Bapak Republik" yang Terlupakan

Image
PEMALANG - Tan Malaka dikenal sebagai salah satu figur paling kontroversial, sering disalahpahami, sekaligus visioner dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jasanya luar biasa bagi bangsa ini, meski namanya sempat disingkirkan dan absen dari buku-buku pelajaran sejarah sepanjang era Orde Baru. ​Presenter Mata Najwa, Najwa Shihab, menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang pahlawan nasional yang "revolusioner dan kesepian." Walau gigih menentang kolonialisme dan menggagas konsep Republik Indonesia sejak awal, akhir hayatnya justru tragis: ia terbunuh di medan gerilya di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949. ​ ​Lahir dengan nama Ibrahim di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897, Tan Malaka tumbuh dalam keluarga bangsawan. Kecerdasannya sudah menonjol sejak belia. Saat menempuh pendidikan guru (Kweekschool) di Bukittinggi, ia meraih nilai yang sempurna. Gurunya, Horensma, bahkan mendorongnya untuk melanjutkan studi k...

​Mata Najwa Ulas Jejak Perjuangan Tan Malaka, 'Bapak Republik' yang Terlupakan

Image
​ PEMALANG — Program bincang-bincang Mata Najwa kembali mengulas salah satu sosok paling fenomenal namun kerap tersingkir dari panggung sejarah utama Indonesia, yaitu Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Pemikir revolusioner dan pahlawan nasional ini dijuluki sebagai "Bapak Republik" karena menjadi orang pertama yang secara tertulis mencetuskan gagasan Republik Indonesia sebelum kemerdekaan diproklamasikan. ​Dalam tayangan tersebut, presenter Najwa Shihab menyoroti bagaimana Tan Malaka memperjuangkan kemerdekaan dengan gigih, namun harus menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan, pelarian, hingga berakhir tewas dieksekusi di Kediri, Jawa Timur pada 21 Februari 1949. ​​Keponakan Tan Malaka dari garis ayah, Zulfikar Kamarudin, membagikan kisah masa kecil sang pahlawan nasional yang lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Zulfikar menceritakan bahwa sejak kecil Tan Malaka merupakan sosok yang sangat cerdas. Saat bersekolah di Kweekschool (Sekolah R...

​Wawancara Eksklusif 1966, Bung Karno Bantah Isu Kudeta dan Penyerahan Kekuasaan

Image
​ PEMALANG — Presiden Soekarno secara tegas membantah berbagai rumor yang beredar di luar negeri terkait isu kudeta maupun penyerahan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto pasca-peristiwa Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), hal tersebut disampaikan Bung Karno dalam wawancara langsung dengan jurnalis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, pada tahun 1966. ​Dalam keterangannya, Bung Karno menepis laporan media-media asing yang menyebut dirinya telah digulingkan, dalam keadaan sakit parah, atau menyerahkan kekuasaan kepresidenan. ​ ​Bung Karno menegaskan bahwa dirinya masih memegang penuh tampuk pimpinan sebagai Presiden, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan Mandataris MPRS. Dirinya menjelaskan bahwa mandat yang diberikan kepada Jenderal Soeharto melalui Supersemar semata-mata adalah perintah teknis untuk memulihkan ketertiban, keutuhan, dan keamanan negara. ​"Mandat yang saya berikan kepada Jenderal Soeharto pada tanggal 11 Maret itu hanyalah perintah untuk menja...

​Jejak Pemikiran Bung Karno, Wawancara Langka 1965 Ungkap Penguasaan Bahasa Asing dan Gagasan Revolusi Dunia

Image
​ PEMALANG — Sebuah dokumen video wawancara sejarah yang direkam pada tahun 1965 memperlihatkan sisi kecerdasan intelektual dan kepiawaian berdiplomasi Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Dalam wawancara tersebut, Bung Karno tidak hanya menunjukkan kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Jerman dan Inggris, tetapi juga memaparkan perjalanan pemikirannya yang melahirkan ideologi Pancasila. ​Dalam percakapan awal yang hangat, jurnalis asal Jerman memberikan buku terbitan bahasa Jerman dan Belanda kepada Bung Karno. Mereka sempat bersenda gurau mengenai ejaan nama "Soekarno" menggunakan huruf "OE" atau "U". Saat ditanya mengenai penguasaan bahasa, Bung Karno mengungkapkan secara jenaka bahwa bahasa utamanya adalah bahasa Indonesia, namun ia juga menguasai berbagai bahasa daerah dan internasional, termasuk bahasa Jawa, Sunda, Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris. ​Dunia Pemikiran dan Literasi ​Bung Karno menceritakan kisah kehi...

​Suara di Balik Kabut "Menanti Kejujuran"

Image
PEMALANG - Mahkota yang Menjerat. -​Malam turun perlahan di atas dermaga tua. Angin laut membentur gaun tipis yang dikenakan Yasmi, membawa aroma garam dan ketidakpastian. Di tempat ini, di antara riak air yang tak pernah tenang, Yasmi berdiri menatap batas horizon. ​Tahun-tahun lalu, ia dibesarkan dalam narasi bahwa kebahagiaan seorang perempuan adalah menjadi pelabuhan bagi orang lain—menjadi penurut, penyabar, dan penampung janji-janji manis yang diucapkan oleh laki-laki yang ia percaya. Sepanjang hidupnya, ia telah dilatih untuk mengalah dan menunggu. ​"Apakah kedamaian yang kau janjikan hanyalah wujud lain dari kepatuhan yang kau tuntut dariku?" bisik Yasmi lirih pada kegelapan. ​Pertanyaan itu akhirnya terucap. Selama ini, janji-janji akan "kedamaian dan kebahagiaan" yang diberikan kepadanya ternyata menuntut harga yang sangat mahal: pangkasan atas cita-cita, pikiran, dan identitas dirinya sendiri. ​Memutus Rantai Persimpangan. -​Yasmi melan...

Brubuh Ngastina, ​Puncak Darah di Padang Kurusetra

Image
PEMALANG - ​Fajar Angin pagi di Kurusetra tidak lagi membawa aroma embun. Senja dan fajar di medan perang itu telah menyatu dalam bau amis darah dan jelaga perang Bharatayuddha yang telah melahap ribuan jiwa. Kereta-kereta perang hancur menjadi serpihan kayu, gajah-gajah tempur tergelak kaku, dan bumi Ngastina seakan meratap menampung tangisan para janda serta anak-anak yang kehilangan ayah mereka. ​Di kubu Pandawa, Prabu Puntadewa berdiri menatap hamparan padang yang porak-poranda. Wajah sang Raja Amarta yang tenang itu kini diselimuti kedukaan yang amat dalam. Di sampingnya, Sri Kresna—sang penasihat agung bertangan dingin—berdiri menatap lurus ke arah benteng Hastinapura. ​"Kakang Puntadewa," ucap Kresna lembut namun tegas. "Malam telah berganti fajar ke-18. Takdir perang ini harus segera dituntaskan. Kurawa hanya menyisakan beberapa orang, dan puncak dari kebathilan itu ada pada Duryudana." ​Raden Werkudara (Bima) melangkah mendekat. Langkah kaki...