Posts

​Soekarno Buka Suara, Dari Poros Jakarta-Peking, Hubungan dengan Barat, hingga Alasan Indonesia Keluar dari PBB

Image
PEMALANG — Dalam sebuah wawancara eksklusif di Istana Merdeka pada tahun 1965, Presiden Soekarno menegaskan kembali posisi politik luar negeri Indonesia yang independen namun progresif. Di tengah sorotan dunia internasional terkait sikap politik Indonesia, Bung Karno menjawab berbagai isu krusial, mulai dari tuduhan kedekatan dengan Tiongkok (China), hubungan dengan negara-negara Barat, hingga alasan mendasar di balik keputusan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). ​ ​Wawancara diawali dengan pertanyaan mengenai anggapan dunia bahwa Indonesia telah berpihak sangat erat kepada Tiongkok. Menjawab hal tersebut, Soekarno menegaskan bahwa Indonesia sejatinya berpihak pada seluruh kekuatan progresif dunia (New Emerging Forces). ​Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-Pyongyang sebagai gabungan dari negara-negara yang sama-sama memproklamasikan kemerdekaannya di sekitar tahun 1945. ​Menanggapi kekhawatiran bahwa Tiongkok memiliki ambisi imperialisme di Asia, Soekar...

Arjuna Melayangkan Tantangan Perang Tanding Secara Terbuka Kepada Prabu Palgunadi

Image
Novel diadaptasi dari Lakon Wayang Orang, "Palguna, Palgunadi". PEMALANG - ​Di Kerajaan Paranggelung, Prabu Palgunadi (yang juga dikenal sebagai Ekalaya) bertakhta didampingi permaisurinya yang jelita, Dewi Anggraini. Meski telah menjadi raja, Palgunadi tidak pernah merasa puas akan ilmu ketangkasan memanah. Hatinya senantiasa bergetar setiap kali mendengar nama Begawan Durna, guru besar dari Padepokan Sokolimo. ​Palgunadi memohon restu dari istrinya untuk menimba ilmu panah langsung di bawah bimbingan Sang Resi. Dengan keikhlasan dan pengabdian tinggi (guru bakti), Palgunadi menganggap Sang Resi Durna sebagai guru rohani tempat ia menyerahkan ketundukan jiwa dan raganya. ​ ​Di sisi lain, kedatangan Palgunadi ke wilayah Sokolimo menimbulkan gejolak. Raden Arjuna (yang juga bergelar Palguna), murid kesayangan Resi Durna, merasa terusik. Arjuna telah memegang janji Sang Guru bahwa tidak ada seorang pun di marcapada yang akan mengungguli kemampuannya dalam meman...

​Mengapa Hidup Makin Mudah tapi Makin Kosong, Abu Marlo Ungkap Rahasia Rasa Cukup dan Kebahagiaan

Image
​ PEMALANG — Di tengah kemajuan teknologi dan berbagai kemudahan hidup modern, banyak orang justru merasa hampa, stres, dan sulit merasakan kebahagiaan. Fenomena ini dibedah oleh mantan pesulap (magician) yang kini menjadi praktisi kesadaran, Abu Marlo, dalam perbincangannya di kanal YouTube Rory Asyari. ​Abu Marlo menjelaskan bahwa perubahan era modern membawa paradoks tersendiri. Kemudahan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesadaran diri justru memicu fenomena choice paralysis—kondisi di mana manusia terlalu banyak disodori pilihan dan informasi sehingga menjadi bingung serta sulit merasa puas. ​ ​Pria yang pernah berada di puncak popularitas sebagai pesulap ini mengungkapkan titik baliknya terjadi saat ia merasa kesepian dan hampa di tengah pencapaian materi dan ketenaran. ​"Orang menuju pencerahan itu tidak bisa kalau tidak melalui penderitaan (suffering). Penderitaan memanggil kita untuk pulang dan menyadari diri," ujar Abu Marlo. ​Ia menambahkan ba...

Langkah Kebenaran Prabu Salya Dibegal Saat Berada Perbatasan Perbukitan Mandaraka

Image
PEMALANG - Puncak konflik di tengah (saat Prabu Salya mengalami pangudarasa / frustrasi berat), lalu mundur ke awal (melihat bagaimana ia "dibegal" oleh Kurawa), dan diakhiri dengan melangkah maju ke masa depan (menerima pencerahan dari Semar & Batara Narada hingga menyongsong takdir Baratayudha). ​ ​Jeritan di Dalam Tenda Mandaraka, Malam Sebelum Baratayudha, ada ​Gamelan penobatan Senapati perang Kurawa telah surut di luar, meninggalkan keheningan yang mencekik di dalam kemah Prabu Salya. Sang Raja Mandaraka yang gagah berani itu terduduk di tanah. Mahkota emasnya tergeletak tak berdaya di atas debu. ​Rasa kecewa, hampa, dan kegagalan total membakar dada Salya hingga ke puncak tertinggi. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang menyimpan Aji Candrabirawa, kesaktian tanpa tanding yang kini terasa tak berguna. ​"Kanggo apa aku urip?" (Untuk apa aku hidup?) jerit Salya dalam kebatinan yang teramat dalam. ​"Kanggo apa aku kasinungan ...

​Tan Malaka, "Sosok Visioner dan "Bapak Republik" yang Terlupakan

Image
PEMALANG - Tan Malaka dikenal sebagai salah satu figur paling kontroversial, sering disalahpahami, sekaligus visioner dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jasanya luar biasa bagi bangsa ini, meski namanya sempat disingkirkan dan absen dari buku-buku pelajaran sejarah sepanjang era Orde Baru. ​Presenter Mata Najwa, Najwa Shihab, menggambarkan Tan Malaka sebagai seorang pahlawan nasional yang "revolusioner dan kesepian." Walau gigih menentang kolonialisme dan menggagas konsep Republik Indonesia sejak awal, akhir hayatnya justru tragis: ia terbunuh di medan gerilya di kaki Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949. ​ ​Lahir dengan nama Ibrahim di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897, Tan Malaka tumbuh dalam keluarga bangsawan. Kecerdasannya sudah menonjol sejak belia. Saat menempuh pendidikan guru (Kweekschool) di Bukittinggi, ia meraih nilai yang sempurna. Gurunya, Horensma, bahkan mendorongnya untuk melanjutkan studi k...

​Mata Najwa Ulas Jejak Perjuangan Tan Malaka, 'Bapak Republik' yang Terlupakan

Image
​ PEMALANG — Program bincang-bincang Mata Najwa kembali mengulas salah satu sosok paling fenomenal namun kerap tersingkir dari panggung sejarah utama Indonesia, yaitu Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Pemikir revolusioner dan pahlawan nasional ini dijuluki sebagai "Bapak Republik" karena menjadi orang pertama yang secara tertulis mencetuskan gagasan Republik Indonesia sebelum kemerdekaan diproklamasikan. ​Dalam tayangan tersebut, presenter Najwa Shihab menyoroti bagaimana Tan Malaka memperjuangkan kemerdekaan dengan gigih, namun harus menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan, pelarian, hingga berakhir tewas dieksekusi di Kediri, Jawa Timur pada 21 Februari 1949. ​​Keponakan Tan Malaka dari garis ayah, Zulfikar Kamarudin, membagikan kisah masa kecil sang pahlawan nasional yang lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Zulfikar menceritakan bahwa sejak kecil Tan Malaka merupakan sosok yang sangat cerdas. Saat bersekolah di Kweekschool (Sekolah R...

​Wawancara Eksklusif 1966, Bung Karno Bantah Isu Kudeta dan Penyerahan Kekuasaan

Image
​ PEMALANG — Presiden Soekarno secara tegas membantah berbagai rumor yang beredar di luar negeri terkait isu kudeta maupun penyerahan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto pasca-peristiwa Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), hal tersebut disampaikan Bung Karno dalam wawancara langsung dengan jurnalis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, pada tahun 1966. ​Dalam keterangannya, Bung Karno menepis laporan media-media asing yang menyebut dirinya telah digulingkan, dalam keadaan sakit parah, atau menyerahkan kekuasaan kepresidenan. ​ ​Bung Karno menegaskan bahwa dirinya masih memegang penuh tampuk pimpinan sebagai Presiden, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan Mandataris MPRS. Dirinya menjelaskan bahwa mandat yang diberikan kepada Jenderal Soeharto melalui Supersemar semata-mata adalah perintah teknis untuk memulihkan ketertiban, keutuhan, dan keamanan negara. ​"Mandat yang saya berikan kepada Jenderal Soeharto pada tanggal 11 Maret itu hanyalah perintah untuk menja...