Posts

Banjaran Karna

Image
Novel ​Kisah Kesetiaan, Pengorbanan, dan Takdir Sang Surya Putra ​ PEMALANG - Benih Dosa dan Bayang-Bayang Sang Surya, saat malam di Istana Mandura sunyi diguyur angin pegunungan. Dewi Kunti, putri Prabu Kuntiboja yang muda dan penuh rasa ingin tahu, duduk di peraduannya sambil memandangi mantra keramat pemberian Resi Druwasa—Mantra Adityahredaya. Mantra itu konon sanggup memanggil dewa mana pun yang diinginkan. ​Tergoda oleh rasa penasaran yang tak terbendung, Kunti merapalkan mantra tersebut dengan menyebut nama Batara Surya, sang Dewa Matahari. ​Seketika kamar itu dipenuhi cahaya keemasan yang menyilaukan. Dari berkas sinar menerobos masuk sesosok Dewa Agung berwajah tampan dan bersinar hangat—Batara Surya. Namun, pemanggilan dewa bukanlah permainan semata. Atas kehendak dewata, Kunti mengandung. ​Rasa takut dan cemas menghantam jiwa Kunti. Bagaimana mungkin seorang putri yang belum menikah melahirkan anak? Demi menjaga martabat dan kehormatan Kerajaan Mandura, den...

​Cak Nun Bahas Kepasrahan, Logika Beragama, hingga Dinamika Media Nasional

Image
​ PEMALANG — Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama seniman Sujiwo Tejo menyampaikan refleksi mendalam mengenai nilai keikhlasan, logika beragama, serta fenomena sosial-kebudayaan masyarakat Indonesia. Dialog ini diakhiri dengan ajakan untuk terus memperkuat persaudaraan, menjaga kerendahan hati, serta tidak mudah menilai hubungan seseorang dengan Sang Pencipta hanya dari tampilan luar semata. ​ ​Pembahasan diawali dari alasan Cak Nun yang memilih untuk tidak tampil di media atau televisi swasta nasional. Ia menyampaikan bahwa pilihan tersebut merupakan keputusan pribadi untuk lebih fokus hadir secara langsung di tengah-tengah masyarakat lokal melalui acara-acara kebudayaan dan keagamaan yang berlangsung berjam-jam. ​"Saya ingin membuktikan bahwa komunikasi itu tidak hanya lewat mata dan telinga, tetapi juga keterikatan batin," ujar Cak Nun. Cak Nun juga menepis anggapan bahwa masyarakat tidak siap menerima dialog panjang, membeberkan bukti kehadiran p...

Maturnuwun Gusti

Image
      Ilustrasi Tokoh Kawulo.  Cerpen. PEMALANG - ​Di sebuah sudut desa yang tenang, hiduplah seorang pria bernama Kawulo yang dalam hidupnya pernah melewati berbagai gelombang cobaan. Dahulu, Kawulo selalu mengejar ambisi dan rasa takut akan masa depan. Ia kerap merasa khawatir, menghitung-hitung apa yang belum ia miliki, dan merasa dibebani oleh riuh ujian duniawi. ​Suatu sore, Kawulo duduk bersimpuh di pendopo rumahnya saat angin berembus lembut melintasi dedaunan. Di tengah alunan tabuhan gamelan yang sayup-sayup terdengar, ia menarik napas dalam-dalam. Pada hela napas itu, ia menyadari sesuatu yang sederhana namun agung: setiap hela napas yang masih bisa ia hirup adalah bentuk kasih sayang Sang Pencipta yang tiada henti. ​Kawulo mulai menyadari bahwa hidup sejatinya hanyalah menjalankan peran (sadhermo nglakoni). Tugas manusia bukanlah memikul seluruh beban dunia sendirian, melainkan melangkah sebaik mungkin dan berserah diri secara penuh (pasr...

​Gus Baha Memaparkan Tentang Politik Ulama Jadikan Moralitas Sebagai Tolok Ukur Kepemimpinan Bangsa

Image
PEMALANG — KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) memaparkan pentingnya ijtihad dan keterlibatan para ulama dalam dunia politik serta kepemimpinan bangsa. Menurut Gus Baha, keterlibatan ulama dari zaman Walisongo hingga saat ini membawa keberkahan dan membentuk tradisi kepemimpinan yang berlandaskan moralitas. ​Berikut adalah poin-poin utama dari penjelasan Gus Baha: -​Ijtihad Fuqaha dan Sejarah Politik Ulama. Gus Baha menjelaskan sudut pandang fiqih (fuqaha) terkait posisi umat Islam serta dinamika politik. Keterlibatan para ulama dalam dunia politik bukanlah hal baru, melainkan telah berjalan sejak era Walisongo hingga masa kini. -​Tradisi Memimpin Membawa Keberkahan. Mengulas sejarah berdirinya Kerajaan Demak Bintoro dengan Raden Fatah sebagai raja pertama, Gus Baha mengutip pandangan KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) bahwa dinamika kepemimpinan Islam tetap membawa berkah karena membiasakan umat Islam untuk tampil memimpin. Beliau membandingkannya dengan kondisi di P...

Bimo Suci Kisah Tentang Pencarian Air Kehidupan

Image
PEMALANG - Cerita Lakon Bimo Suci (sering pula dikaitkan dengan lakon Dewa Ruci) menceritakan perjalanan spiritual Bima (Raden Werkudara) dalam mencari Tirta Perwitasari (air suci kehidupan) atas perintah gurunya, Resi Durna, demi mencapai kesempurnaan hidup (ngelmu kasampurnan). ​Perintah itu datangnya dari Resi Durna dan bentuk nyata Muslihat Kurawa. Bermula saat Resi Durna memberikan ujian spiritual kepada Bima. Atas bujukan para Kurawa yang berniat menyingkirkan Pandawa, Durna memerintahkan Bima mencari Tirta Perwitasari. ​Meskipun saudara-saudaranya di Pandawa merasa ragu dan khawatir akan adanya niat jahat di balik perintah tersebut, Bima tetap mematuhi perintah gurunya dengan tekad mulia dan patuh pada janji (setya tuhu). ​Pertempuran di Hutan Candradimuka / Gunung Candramuka, ​Bima mula-mula berjalan menuju Hutan Candradimuka untuk mencari air suci di bawah gua gunung. ​Di sana, Bima diserang oleh dua raksasa buas bernama Rukmuka dan Rukmakala. Dalam pertarungan...

​Mengulas Tiga Sungai Raksasa Pulau Jawa: Dari Tatar Sunda Hingga Bengawan Solo

Image
​ PEMALANG — Pulau Jawa menyimpan kekayaan alam dan sejarah peradaban yang tak lepas dari keberadaan sungai-sungai besarnya. Melalui aliran yang membentang dari puncak pegunungan hingga bermuara ke laut lepas, sungai-sungai ini berfungsi sebagai urat nadi kehidupan, penopang keanekaragaman hayati, sekaligus saksi bisu perkembangan peradaban manusia. ​Berdasarkan penelusuran fakta ekosistem dan lanskap geografis, berikut adalah ulasan mengenai tiga sungai terbesar di Pulau Jawa, dimulai dari kawasan Jawa Barat hingga sungai terpanjang di jantung Pulau Jawa. ​1. Sungai Citarum: Benteng Ekologis Tatar Sunda (±270 Km) ​Mengawali daftar ini di posisi ketiga adalah Sungai Citarum, sungai terpanjang di Tatar Sunda, Jawa Barat, dengan panjang aliran mencapai 270 kilometer. ​Hulu Suci di Situ Cisanti: Titik nol Citarum bermula dari Situ Cisanti di kaki Gunung Wayang. Kawasan hulu ini bertindak sebagai benteng pertahanan ekologis tempat hidupnya keanekaragaman hayati berharga, t...

Adipati Merasa Ada Roda Raksasa Yang Terus Berputar Di Bawah Lantai Kepatihan Kadipaten Ini, Menunggu Untuk Menggiling Saya

Image
PEMALANG - Di Agung Paseban Kadipaten Pusere Jawa dengan latar Ruang Pringgitan Kadipaten yang temaram. Obor-obor dinding memantulkan bayangan panjang. Di tengah ruangan, ADIPATI yang baru dilantik duduk di atas kursi ukir jati. Di sekelilingnya, para pejabat Kadipaten berdiri memegang naskah dan cawan.) ​ADIPATI mengetukkan jarinya di lengan kursi, menatap tajam ke sekeliling ruangan, dua kali ganti kepemimpinan, dua kali pula pimpinan Kadipaten ini diseret oleh Wiramerta! Rakyat di luar berpikir masalahnya hanya modal politik atau keserakahan pribadi. Tapi setelah saya duduk di sini... saya merasa ada roda raksasa yang terus berputar di bawah lantai kepatihan Kadipaten ini, menunggu untuk menggiling saya! ​JURU CARIK membungkuk hormat, suaranya tenang dan penuh kehati-hatian, Kanjeng Adipati... Roda itu tidak pernah berhenti sejak masa pendahulu. Sebagai Juru Carik yang mencatat seluruh alur administrasi dan pembukuan Kadipaten, saya hanya memastikan roda itu diolesi m...