Bayang-Bayang Wilwatikta, Narasi Kehancuran dan Kelahiran Sang Saka
PEMALANG - Abu di Atas Reruntuhan Singasari. Malam di Singasari bukan lagi malam yang dihiasi tembang dan nyala dipa keemasan. Malam itu adalah saksi bisu dari kepedihan yang merajam dada. Istana yang selama ini berdiri megah di bawah naungan Wangsa Rajasa kini tinggal puing-puing yang membara, menyisakan bau jelaga dan amis darah. Di hadapan puing-puing kejayaan yang runtuh itu, seorang pangeran muda berdiri dengan jemari mencengkeram hulu keris. Tatapannya kosong, namun di balik sorot matanya, bara dendam dan tanggung jawab bergemuruh hebat. "Jika aku gugur hari ini, Wangsa Rajasa akan berakhir," bisik Raden Wijaya pada angin malam yang dingin, suaranya parau menahan sesak. Namun, takdir belum berkehendak menyerurahkan garis keturunan kertajasa begitu saja. Di tengah kepungan maut yang ditebarkan oleh pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-Gelang, harapan terakhir Singasari kini sepenuhnya bertumpu di pundak pemuda tersebut. Demi para leluhur Wangsa Rajas...