Belajar Keseimbangan Hidup dari Filosofi Soko Guru Rumah Joglo
PEMALANG — Rumah adat Joglo dikenal dapat berdiri kokoh karena didukung oleh soko guru, yaitu tiang-tiang utama yang menopang bagian vital bangunan. Filosofi arsitektur tradisional ini dinilai sangat relevan dengan kehidupan manusia yang juga membutuhkan tiang penyangga agar tidak runtuh saat diterpa guncangan.
Sama halnya dengan empat soko guru pada rumah Joglo, manusia idealnya memiliki empat pilar utama dalam hidupnya ;
-Nilai Hidup (Prinsip), Fondasi moral yang menjadi pedoman untuk membedakan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
-Kesehatan, Elemen krusial yang menentukan kenyamanan hidup, sebab sebanyak apa pun pencapaian yang diraih akan sulit dinikmati tanpa kondisi tubuh dan pikiran yang sehat.
-Hubungan Sosial, Kehadiran keluarga, pasangan, maupun sahabat sebagai tempat untuk kembali dan berbagi.
-Tujuan Hidup, Alasan atau dorongan utama yang membuat seseorang tetap memiliki motivasi untuk melangkah.
Penelitian modern mengenai kualitas hidup turut mendukung konsep ini. Kesejahteraan manusia tidak hanya ditentukan oleh satu sektor saja, melainkan gabungan dari aspek kesehatan, pekerjaan, hingga hubungan sosial yang saling memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Sayangnya, masih banyak orang yang membangun hidupnya hanya berpijak pada satu pilar saja—misalnya hanya mengejar uang, pekerjaan, atau pengakuan semata. Ketika pilar tunggal tersebut runtuh, seluruh sendi kehidupan ikut merasa roboh.
Kekuatan rumah Joglo tidak sekadar terletak pada keindahan bentuknya, melainkan pada kokohnya tiang-tiang penyangga di dalamnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa hidup yang tangguh bukan tentang seberapa tinggi pencapaian yang dibangun, melainkan seberapa kuat fondasi dan penyangga yang dimilikinya.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment