​Semar Mbangun Kayangan

PEMALANG - ​Angin malam berembus dingin menyapu dedaunan di Dusun Karangtumaritis. Di dalam gubuk kayu yang bersahaja, Kyai Semar Badranaya duduk bertafakur. Wajahnya yang bundar dan selalu tersenyum kini diselimuti kabut keprihatinan. Di luar, suara gareng, Petruk, dan Bagong yang biasanya riuh bercanda, mendadak redup melihat sang ayah tenggelam dalam kesedihan.

​Dunia sedang tidak baik-baik saja. Bencana melanda di mana-mana, peperangan tak kunjung usai, dan kemanusiaan seolah hilang dari dada para pejabat serta raja-raja.

​"Rama Semar... kenapa Rama terus melamun sejak matahari terbit tadi?" tanya Petruk sambil melangkah masuk, menyandarkan tubuhnya yang tinggi kurus ke tiang rumah.
​Semar menarik napas panjang. "Truk, negara ini sedang sakit. Para pimpinan lupa pada rakyatnya, para ksatria lupa pada sumpah jiwanya. Jika dibiarkan, bumi ini akan hancur."
​"Lalu kita harus bagaimana, Rama?" sahut Gareng yang berjalan pincang mendekati mereka.
​"Aku harus membangun Kayangan," ujar Semar tegas.
​Petruk dan Gareng saling pandang. Bagong, yang sejak tadi menyimak sambil mengunyah singkong bakar, hampir tersedak. "Mbangun Kayangan?! Rama mau bikin Istana di atas langit? Pakai semen sama batu bata berapa truk, Rama?!" cetus Bagong polos.

​Semar tersenyum tipis. "Kayangan yang kumaksud bukan bangunan fisik bertingkat emas, Bagong. Aku ingin membangun Kayangan Jiwa—mengembalikan sifat luhur, keteladanan, dan keadilan ke dalam dada para pimpinan Amarta. Dan untuk itu, aku membutuhkan tiga pusaka utama Amarta sebagai syaratnya: Jamus Kalimasada, Tumbak Karabela, dan Payung Tunggulnaga."


​Hari berikutnya, Semar mengutus Petruk dan Bagong pergi ke Istana Amarta untuk meminjam ketiga pusaka tersebut. Namun, nasib naas menanti mereka.
​Di Pendopo Amarta, Raja Pandawa, Prabu Puntadewa (Yudistira), sedang didampingi oleh ketiga adiknya—Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa—serta sang penasihat agung, Prabu Kresna.

​Ketika Petruk menyampaikan maksud Semar, suasana hall istana mendadak tegang.
​"Apa?!" potong Prabu Kresna dengan nada tinggi. "Semar hendak meminjam Jamus Kalimasada? Pusaka agung lambang kedaulatan negara mau dibawa ke desa oleh seorang punokawan?"
​"Tapi Gusti Kresna, Rama Semar punya niat baik untuk..." Petruk mencoba menjelaskan.

​"Cukup, Petruk!" Bima membentak dengan suara bagaikan gundala. "Pusaka Amarta tidak boleh keluar dari istana hanya untuk alasan yang tidak masuk akal! Semar itu hanya pamong, jangan melampaui batas!"
​Kresna yang tersulut emosi menuduh Semar telah menjadi takabur dan ingin menandingi kekuasaan para dewa. Atas desakan Kresna, Puntadewa dengan berat hati menolak permintaan tersebut. Bahkan, Petruk dan Bagong diusir keluar dari istana Amarta dengan ancaman kekuatan fisik jika berani kembali.
​Petruk pulang dengan dada sesak oleh rasa kecewa. Bagaimana mungkin para Pandawa—yang selama ini dibimbing dan dilindungi oleh Semar sejak kecil—kini begitu tega merendahkan pamong mereka sendiri?


​Mendengar kabar penolakan tersebut, Semar tidak marah. Wajahnya justru menyimpankan duka yang amat dalam.
​"Mereka sedang buta oleh tahta dan pengaruh," bisik Semar pelan. "Mereka lupa bahwa pusaka terbaik bukanlah benda pusaka yang disimpan di peti, melainkan kebaikan dan keadilan yang diwujudkan dalam tindakan."
​Karena Pandawa menolak meminjamkan pusaka, Semar memutuskan untuk "mengambil" pusaka-pusaka itu dengan cara yang tak terduga. Semar menggunakan kasektennya (kesaktian gaib) untuk menarik roh dan daya kehalusan dari Jamus Kalimasada. Tanpa disadari oleh para Pandawa, pusaka yang tersimpan di istana Amarta kini hanya tinggal wadah kosong yang tak bertuah.
​Di saat yang sama, terjadi kekacauan besar. Prabu Kresna dan para Pandawa terasa kehilangan ketenangan jiwa. Mereka diliputi rasa curiga, amarah, dan kebingungan. Arjuna merasa kesaktian manahnya tumpul, sementara Bima kehilangan kekuatan garis takdirnya.
​Melihat kekacauan di Amarta, Kresna mengajak Bima dan Arjuna untuk mendatangi Karangtumaritis. Mereka berniat menghukum Semar yang dianggap sebagai dalang dari hilangnya tuah negara.


​Dalam perjalanan menuju Karangtumaritis, pasukan Amarta mencegat rombongan Semar. Di sisi lain, Patih Sengkuni dan pasukan Kurawa dari Astina yang mendengar keretakan antara Pandawa dan Semar, mencoba memanfaatkan situasi untuk menghancurkan kedua belah pihak.
​Pertempuran tak terelakkan. Pandawa yang emosional berhadapan dengan Petruk dan Bagong yang membela ayahnya. Ajaibnya, meski Pandawa adalah ksatria sakti tiada tanding, mereka tak mampu menyentuh apalagi mengalahkan Petruk dan Bagong yang telah diberi perlindungan gaib oleh Semar.
​Saat situasi semakin memuncak, Prabu Kresna maju dan siap melepaskan senjata terkuatnya, Cakra Baskara, ke arah Semar.
​"Semar! Hentikan pembangkanganmu atau kuperabukan tubuhmu!" teriak Kresna dengan wujud membesar (Twikrama).
​Semar hanya berdiri tenang. Ia menatap Kresna dan Pandawa dengan tatapan penuh kasih sayang sekaligus ketegasan seorang ayah. Tiba-tiba, tubuh Semar memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Bumi berguncang, angin bertiup kencang, dan langit berubah warna.

​Di hadapan semua orang, wujud Semar yang samar dan berbadut berubah menjadi wujud aslinya yang sangat agung: Sang Hyang Ismaya, dewa tertua penjelmaan karsa agung yang turun ke bumi untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
​Seketika itu juga, Kresna menyadarkan kekhilafannya. Tubuh besarnya meluruh, dan ia berlutut. Pandawa—Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa—gemetar hebat. Mereka tersadar bahwa orang yang baru saja mereka hina dan ancam adalah sosok dewata pengayom hidup mereka.


​"Anak-anakku, Pandawa..." suara Semar bergema, lembut namun mampu menggetarkan setiap jiwa yang mendengar.
​"Kalian mengira aku ingin merampas pusaka Amarta? Kalian mengira aku ingin mendirikan istana kemegahan di Karangtumaritis?" Semar menggelengkan kepala.
​"Kayangan yang ingin kubangun bukanlah dari batu dan emas. Kayangan yang kubangun adalah Hati dan Jiwa kalian. Keadilan kalian yang runtuh, kepekaan kalian terhadap rakyat kecil yang tumpul, dan kesombongan kalian yang menumpuk—itulah yang ingin kubenahi!"
​Puntadewa menangis tersedu-sedu. Ia merangkak mendekati kaki Semar dan bersujud.
​"Ampuni kami, Semar... Ampuni kami yang telah buta dan tuli oleh kekuasaan," bisik Puntadewa dengan suara gemetar. Bima dan Arjuna menundukkan kepala dalam-dalam, mengakui kesombongan mereka.

​Semar tersenyum kembali. Cahaya gaibnya perlahan meredup, dan ia kembali menjadi wujud Semar yang tua, tambun, dan bersahaja. Ia merangkul para Pandawa satu per satu.
​"Pusaka Jamus Kalimasada tidak ada gunanya jika pemegang pusaka tidak memiliki hati yang bersih. Mbangun Kayangan berarti membangun kembali kejujuran, keadilan, dan ketakwaan dalam diri pemimpin. Jika jiwamu sudah menjadi 'Kayangan', maka rakyatmu akan sejahtera, dan negaramu akan rahayu."

​Hari itu, di bawah rindangnya pepohonan Karangtumaritis, tidak ada lagi tembok pemisah antara raja dan pamong. Para Pandawa pulang ke Amarta bukan hanya membawa kembali pusaka mereka, tetapi membawa jiwa baru yang telah direnovasi oleh keijaksanaan sang pamong sejati Kyai Semar Badranaya.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT