Puntadewa ; Ksatria Sejati Tidak Boleh Menolak Undangan Kerabat, Jika Kita Menolak, Dunia Akan Menganggap Pandawa Sombong

Novel diadopsi dari Lakon Wayang Pandawa kalah Dadu.



PEMALANG - ​Kabut tebal membungkus gerbang perbatasan Hastinapura. Enam sosok bertubuh tegar melangkah perlahan menjauhi megahnya istana. Mereka tak lagi mengenakan mahkota kebesaran atau kain sutra berbenang emas, melainkan pakaian kulit kayu yang kasar.

​Prabu Puntadewa berjalan di paling depan dengan tatapan tenang namun menyimpan kepedihan mendalam. Di sampingnya, Dewi Drupadi melangkah dengan rambut panjang yang terurai berantakan—tanpa gelung, tanpa hiasan bunga.

​Di belakang mereka, Raden Bima menghentakkan kakinya ke tanah, menatap tajam ke arah benteng Hastinapura yang perlahan mengabur di balik kabut.
​"Tunggulah tiga belas tahun lagi..." bisik Bima dengan suara bagaikan guruh pelan. "Tiga belas tahun dari sekarang, tanah Kurukshetra akan meminum darah kalian semua!"

​Langkah kaki mereka adalah awal dari masa pengasingan selama 12 tahun di hutan belantara dan 1 tahun masa penyamaran. Sebuah hukuman berat yang harus mereka jalani akibat satu lemparan dadu penentuan beberapa saat sebelumnya.

Lemparan Terakhir Dan Pertanda Buruk, ​beberapa jam sebelum perjalanan menyedihkan itu dimulai, Balai Sewaka Hastinapura berada dalam kondisi mencekam. Suara anjing liar melolong melengking di luar istana, padahal matahari tepat di atas kepala. Petir menyambar tanpa kilat di langit cerah.
​Di dalam balai, Patih Sengkuni terkekeh riang seraya menggenggam dua buah dadu buatan dari tulang.

​"Kalah lagi, Yayi Prabu Puntadewa!" teriak Sengkuni menggelegar. "Sesuai perjanjian babak penentuan ini, engkau dan seluruh adikmu tidak kehilangan harta, tetapi harus dibuang ke hutan Kamiyaka!"

​Prabu Drestarastra yang buta duduk gemetar di singgsananya. Hatinya menciut ketakutan mendengar petunjuk alam yang buruk, namun Duryudana menyeringai puas di samping Sesamping

​Mengapa permainan dadu babak penentuan itu bisa terjadi? Semua berawal dari peristiwa mengerikan beberapa menit sebelumnya yang hampir membakar habis istana tersebut.

​Sumpah Darah Dan Keajaiban Kain, ​Satu jam sebelum keputusan pengasingan diambil, ruangan balai masih dipenuhi bau ketakutan dan jerit kezaliman.
​Dursasana berdiri bersimbah keringat, napasnya terengah-engah sebelum akhirnya ambruk pingsan di atas tumpukan kain yang menggunung. Ia gagal menelanjangi Dewi Drupadi. Berapa pun panjang kain jarik yang ditariknya dari tubuh Drupadi, kain itu terus terurai tanpa batas—sebuah keajaiban yang dihadirkan atas doa tulus Drupadi kepada Sri Kresna.

​Meskipun kehormatannya terselamatkan oleh Dewa, penghinaan itu telah merobek harga diri Pandawa.
​Dengan air mata bercucuran di atas rambutnya yang terurai acak-acakan akibat diseret Dursasana, Dewi Drupadi menudingkan jarinya ke arah para Kurawa.
​"Aku tidak akan pernah mengikat rambutku ini kembali," usap Drupadi dengan suara dingin menggetarkan jiwa, "sebelum aku meremas dan mencuci rambutku dengan darah Dursasana!"
​Mendengar sumpah istrinya, Bima bangkit. Otot-otot lengannya mengeras bagai batu karang.
​"Dengar wahai sekalian manusia dan dewa!" jerit Bima menggelegar. "Di medan perang Baratayudha kelak, aku akan meminum darah Dursasana langsung dari dadanya! Dan aku akan meremukkan paha Duryudana dengan gadaku!"
​Kemurkaan Bima dan Drupadi inilah yang membuat Drestarastra ketakutan dan sempat membatalkan hasil judi.
Namun, bagaimanakah Ratu Amarta itu bisa sampai diseret dan dihina di tempat tersebut?

​Pertaruhan Yang Melampaui Batas, latar belakang penghinaan Drupadi berakar pada meja judi yang sama beberapa jam sebelumnya.
​Di atas papan kayu jati berukir emas, Prabu Puntadewa duduk terpaku dengan mata sayu. Terikat oleh etika ksatria yang tak boleh menolak tantangan kerabat, ia terus meladeni permainan dadu melawan Sengkuni—yang mewakili Duryudana.
​Satu per satu kekayaan Amarta melayang. Kerajaan, perhiasan, harta bendahara, hingga pasukan kuda.
​"Engkau sudah tidak punya apa-apa, Puntadewa!" pancing Sengkuni dengan senyum licik. "Pertaruhkan adik-adikmu! Pertaruhkan dirimu! Bahkan pertaruhkan istrimu, Drupadi!"
​Dalam jerat kepasrahan dan kebingungan yang fatal, Puntadewa mengangguk pelan. Dadu dilempar. Sengkuni yang menggunakan dadu kesaktian gaib selalu menang. Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima, Puntadewa, dan akhirnya Drupadi jatuh menjadi budak Kurawa.
​Kemenangan mutlak itulah yang memicu Duryudana memerintahkan Dursasana menyeret Drupadi ke balai pembantaian harga diri tersebut.

​Berawal Dari Undangan Di Balik Niat Jahat, semua bencana permainan dadu itu tidak terjadi secara kebetulan. Tiga hari sebelum bencana di Hastinapura, suasana hangat masih melimputi Kerajaan Amarta.
​Sebuah utusan dari Hastinapura datang membawa surat undangan pesta persaudaraan dan permainan dadu ramah-tamah.
​Di ruang dalam Istana Amarta, Bima dan Arjuna sebenarnya sudah mengendus bahaya.
​"Ini jebakan, Kakanda!" tegas Bima. "Sengkuni adalah rubah licik. Tidak ada kebaikan yang keluar dari mulut Kurawa!"
​Namun, Puntadewa menggeleng halus. "Ksatria sejati tidak boleh menolak undangan kerabat. Jika kita menolak, dunia akan menganggap Pandawa sombong."
​Keputusan Puntadewa memenuhi undangan inilah yang membawanya masuk ke dalam jaring perangkap yang telah dirajut rapi di Hastinapura.

​Benih Dendam Dari Kemegahan Amarta, ​apakah yang mendorong Kurawa menciptakan perangkap sesadis itu? ​Akar dari seluruh tragedi ini bermula beberapa pekan sebelumnya, tatkala Amarta baru saja selesai menggelar Sesaji Rajasuya—upacara megah yang menobatkan Puntadewa sebagai Raja Binathara.
​Duryudana berjalan menyusuri balairung Amarta yang dibangun oleh Arsitek Maya. Istana itu terbuat dari kaca dan kristal yang menyilaukan. Karena terkecoh oleh kilauan lantai kaca yang dikiranya kolam air, Duryudana mengangkat kain jariknya tinggi-tinggi agar tidak basah.
​Gelak tawa kecil secara tidak sengaja terdengar dari sudut balai. Duryudana merasa sangat terhina dan dipermalukan di hadapan para raja dunia.

​Dalam perjalanan pulang menuju Hastinapura, dada Duryudana membara oleh dengki dan malu.
​"Paman Sengkuni! Aku lebih baik mati daripada melihat Puntadewa disembah oleh dunia!" jerit Duryudana meluapkan amarahnya.
​Patih Sengkuni tersenyum licik, menepuk bahu keponakannya itu seraya berbisik, "Tenanglah, Angger Prabu... Puntadewa punya satu kelemahan besar: ia tidak pernah menolak ajakan bermain judi dadu. Serahkan permainannya padaku. Dengan dadu ajaib buatan tulang ayahku ini, aku akan mencabut seluruh Kerajaan Amarta dari genggaman mereka!"

​Dan dari benih kedengkian di atas lantai kaca Amarta itulah, takdir kelam para Pandawa mulai dirajut hingga akhirnya menyeret mereka ke dalam kegelapan hutan Kamiyaka.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT