​Pesan Menohok Dai Kondang Alm-KH Zainuddin MZ, Bangsa Ini Mengidap Penyakit "Kudis, Kurap, dan Kutil"

PEMALANG — Dalam sebuah ceramah yang dibawakan dengan penuh humor namun tajam, dai kondang menyoroti dinamika mentalitas dan perilaku masyarakat modern saat ini. Ia menyebut ada tiga penyakit moral kronis yang tengah melanda bangsa, yang dikemasnya dalam akronim jenaka: Kudis, Kurap, dan Kutil.

​Menurut sang penceramah, ketiga penyakit ini bermuara pada satu sumber utama, yakni Kuman alias Kurang Iman.
​Tiga Penyakit Mentalitas Bangsa
​Dalam pemaparannya, ia mengurai satu per satu fenomena sosial yang menjadi cerminan dari ketiga penyakit tersebut.

-​Kudis (Kurang Disiplin)
Krisis disiplin dinilai telah merambah ke berbagai sektor, terutama ekonomi. Masyarakat kini cenderung terjebak menjadi bangsa yang sangat konsumtif.
​"Iklan hanya mendidik kita untuk 'belilah, makanlah, pakailah, minumlah'. Tidak ada seruan 'bikinlah, tanamlah'," tegasnya.

​Ia juga menyentil kedisiplinan hukum yang acap kali hanya didasari rasa takut kepada sesama manusia atau atasan, bukan rasa takut kepada Tuhan. Hal ini diilustrasikannya lewat anekdot pengendara motor yang menerobos lampu merah dan baru berhenti saat melihat petugas kepolisian.

-​Kurap (Kurang Rapi)
Penyakit kedua menyoroti kelemahan dalam tata kelola dan manajemen birokrasi. Ia menyayangkan banyaknya lembaga atau fasilitas umum berbasis keagamaan yang dibangun dengan megah, namun gagal dikelola dengan baik hingga terbengkalai dan beroperasi seadanya akibat kurangnya profesionalitas dan tata kelola biaya.

-​Kutil (Kurang Teliti)
Menutup ceramahnya, ia menyoroti fenomena masyarakat mall di era entertain. Masyarakat dinilai kerap terpukau oleh bungkus dan pencitraan luar semata tanpa memedulikan substansi atau isinya.

​Masyarakat Seperti "Daun Kering"
​Di akhir penyampaiannya, sang dai memberikan perumpamaan menohok mengenai kondisi psikologis massa saat ini yang sangat rentan dimanipulasi oleh pencitraan.

​"Masyarakat kita ini seperti daun kering, gampang dikumpulin, sulit diikat, bising, dan gampang dibakar," pungkasnya.

​Pesan ini menjadi otokritik mendalam bagi masyarakat agar lebih bijak, teliti, dan tidak mudah terprovokasi oleh kemasan luar di era informasi saat ini.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT