Perjuangan Suliman Mempersunting Patimah

Ilustrasi tokoh dalam Cerpen.




PEMALANG - Suliman bukanlah pria dengan paras rupawan. Wajahnya terbilang pas-pasan—bahkan ia sendiri sadar betul akan hal itu. Namun, urusan hati tak mengenal standar ketampanan. Hatinya sudah tertambat mati pada Patimah, seorang gadis jelita anak dari Ibu Jubidah, janda yang sudah lima tahun tanpa pasangan hidup. 

​Merasa jalannya terjal karena kalah saing secara fisik, Suliman mengadukan nasibnya kepada sang Kyai. Dengan bijak, Sang Kyai berpesan bahwa tak ada yang mustahil bagi Allah. Suliman disarankan merajinkan tahajud, memanjatkan doa khusus, serta rajin bersilaturahmi.

​Setiap sepertiga malam, Suliman bersujud dan melangitkan doa yang amat unik: "Ya Allah, jodohkan saya dengan Patimah. Kalau dia bukan jodoh saya, tolong dijodohkan. Kalau dia jodoh orang lain, tolong digagalkan lalu jodohkan dengan saya. Tapi kalau memang takdirnya bukan untuk saya... tolong ubah takdirnya, Ya Allah!" Sebuah doa nekat yang dilandasi keakraban polos antara seorang hamba dan Tuhannya.

​Setahun berlalu. Atas petunjuk sang Kyai, Suliman melangkah mantap menuju rumah Patimah pada hari Jumat pukul enam pagi—waktu Zahrah yang diyakini penuh keberkahan cinta.

​Sesampainya di sana, ia disambut Ibu Jubidah. Patimah sendiri sedang tidak di rumah. Tanpa membuang waktu, Suliman menyampaikan maksud hatinya untuk melamar Patimah. Namun, alih-alih haru, Ibu Jubidah justru menangis sesenggukan.
​"Kenapa Ibu menangis?" tanya Suliman bingung.
​Ibu Jubidah menyapu air matanya. "Mas... kenapa harus melamar anak saya? Kenapa tidak dengan saya saja? Saya sudah lima tahun menjanda. Sejak pertama kali Mas datang setahun lalu, saya selalu berdoa tiap malam agar dijodohkan dengan Mas Suliman!"

​Suliman tersentak. Rupanya di balik tirai malam, terjadi "pertarungan doa" antara dirinya dan sang ibu janda. Merasa terdesak, Suliman pamit pulang untuk menenangkan diri. Di sepanjang jalan, ia meringis menatap langit, "Ya Allah... masa malaikat-Mu salah lapor? Saya minta Patimah, kenapa yang nyaut malah Ibu Jubidah?"

​Ia kembali mengadu pada Kyai. Sang Kyai hanya tertawa dan menyuruhnya istikharah. Selama dua minggu Suliman memohon petunjuk, hingga akhirnya ia pasrah. "Daripada tidak dapat sama sekali, tak apalah dengan Ibu Jubidah," pikirnya.

​Acara pertunangan pun digelar heboh. Persiapan pernikahan dimatangkan: gedung disewa, undangan disebar, dan katering dipesan. Namun, tepat sepuluh hari menjelang akad, musibah datang. Ibu Jubidah mengalami kecelakaan tragis—ia tertabrak becak, jatuh ke selokan, dan meninggal dunia.

​Keluarga besar Almarhumah Jubidah berkumpul dalam duka sekaligus kebingungan. Seluruh biaya pernikahan sudah lunas dan tak bisa dibatalkan. Setelah berdiskusi panjang, keluarga mengambil keputusan besar: pernikahan tetap dilangsungkan, tetapi pengantin wanitanya diganti menjadi Patimah.

​Saat kata "Qobiltu" selesai diucapkan, Suliman resmi mempersunting Patimah. Ia menyatukan duka Innalillahi atas kepergian sang ibu, dengan rasa syukur Alhamdulillah karena mendapatkan sang putri. Dalam hatinya yang paling dalam, Suliman tersenyum ke arah langit sambil berbisik, "Ternyata malaikat-Nya tidak salah lapor..."

Begitu sama halnya dengan hidup, kenapa kita harus pesimis setelah jauh jauh hari menjalani proses dan ikhtiar, capek kalau demikian cara berpikirnya, sebab rencana manusia hanya terobsesi dan berorientasi pada proses dan pemahaman ikhtiar manusia saja, tapi rencana Allah SWT dan laporan dari rencana Malaikat-NYA, adalah memang hak dan Kuasa Allah SWT semata.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT