Pandawa Kalah Dadu

Novel diadopsi dari ​(Lakon Pandawa Dadu – Pasca Sesaji Rajasuya)


PEMALANG - Sisa Kemegahan dan Benih Kedengkian ​Agung dan adiluhung dari Gelaran Sesaji Rajasuya di Kerajaan Amarta telah usai dengan penuh kejayaan. Seluruh raja dari mancanegara bertekuk lutut dan mengakui Prabu Puntadewa sebagai Raja Binathara—pemimpin para raja. Istana Amarta yang dibangun oleh Arsitek Maya berdiri begitu megah, dilapisi kristal, kaca, dan batu permata yang menyilaukan mata.

​Namun, di balik riak kegembiraan itu, ada mata yang membara oleh kedengkian. Prabu Duryudana, Raja Hastinapura, berjalan menyusuri balairung Amarta dengan dada sesak oleh rasa iri. Ketika melintasi aula tengah, ia mengira lantai kaca yang jernih adalah kolam air. Dengan sigap Duryudana mengangkat kain jariknya tinggi-tinggi agar tak basah.

​Suara gelak tawa menggema dari sudut balai. Dewi Drupadi dan adik-adik Pandawa secara tak sengaja tersenyum melihat kekecohan sang Raja Hastinapura. Rasa malu bercampur hinaan itu menancap dalam di lubuk hati Duryudana.

​Dalam perjalanan pulang ke Hastinapura, Duryudana menumpahkan amarahnya kepada paman kandungnya, Patih Sengkuni.
​"Paman Sengkuni! Aku tidak bisa menerima penghinaan ini!" seru Duryudana dengan nada bergetar. "Kemegahan Pandawa membuat Hastinapura terlihat seperti dusun terpencil! Aku lebih baik mati daripada harus melihat Puntadewa disembah oleh dunia!"
​Patih Sengkuni tersenyum licik. Matanya menyipit penuh muslihat.
​"Tenanglah, Angger Prabu... Jangan gunakan pedang jika sebatang jarum bisa melumpuhkan musuhmu," bisik Sengkuni dengan suara serak. "Pandawa tak akan bisa dikalahkan dengan perang fisik. Mereka dilindungi Dewa dan memiliki Bima serta Arjuna. Tapi, Puntadewa punya satu kelemahan besar."
​"Apa kelemahannya, Paman?" tanya Duryudana penasaran.
​"Ia tidak pernah menolak ajakan bermain judi dadu, dan ia terikat ketat oleh etika ksatria untuk tidak menolak tantangan kerabatnya. Serahkan permainannya padaku, Anakku. Dengan dadu ajaib buatan tulang ayahku ini, aku akan mencabut seluruh kekayaan dan Kerajaan Amarta dari genggaman mereka!"


​Utusan Penghancur hadir, beberapa hari kemudian, utusan Hastinapura tiba di Amarta membawa undangan resmi dari Prabu Duryudana. Isi undangan itu mengajak para Pandawa untuk hadir dalam perjamuan persaudaraan dan permainan dadu persahabatan di Balai Sewaka Hastinapura.
​Di ruang kedalaman Kerajaan Amarta, para Pandawa berkumpul membicarakan undangan tersebut.
​"Kakanda Prabu," ujar Raden Bima dengan suara berat menggelegar, "ini adalah jebakan! Sengkuni adalah rubah licik. Tidak ada kebaikan yang keluar dari mulut Kurawa!"
​"Benar Kakanda," tambah Arjuna. "Sengkuni terkenal ahli dalam ilmu olah dadu yang penuh tipu daya. Hamba merasa ada firasat buruk yang mengintai."
​Prabu Puntadewa menghela napas panjang. Wajahnya yang tenang memancarkan ketaatan pada hukum dharma.
​"Adik-adikku yang kucintai," tutur Puntadewa lembut. "Ksatria sejati tidak boleh menolak undangan kerabat, apalagi tantangan yang dilandasi ajakan persaudaraan. Jika kita menolak, dunia akan menganggap Pandawa penakut dan sombong setelah Sesaji Rajasuya. Kita akan berangkat ke Hastinapura."
​Meskipun berat hati, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, dan Dewi Drupadi akhirnya menyetujui keputusan sang Kakak Tertua.

​Petak Permainan Licik dimulai, ​Balai Sewaka Hastinapura telah dihiasi dengan megah. Di tengah ruangan, terbentang papan permainan dadu dari kayu jati berukir emas. Prabu Drestarastra duduk di singgasana tua, didampingi Resi Durna dan Amanat Agung Bhisma yang merasa gelisah.
​Puntadewa duduk berhadapan dengan Duryudana. Namun, Duryudana segera bersuara, "Kakanda Puntadewa, karena aku tak mahir melempar dadu, paman Sengkuni yang akan mewakiliku melempar angka."
​Puntadewa mengangguk pasrah. "Jika itu kehendakmu, Kaka Prabu. Aku menerima."
​Patih Sengkuni menggenggam dadu buatan tulang ayahnya. Dadu tersebut memiliki kesaktian gaib: angka yang keluar selalu sesuai dengan niat jahat Sengkuni.
​"Mari kita mulai, Yayi Prabu!" seru Sengkuni seraya melempar dadu. "Kling!"
​"Pertaruhan pertama: seribu ekor kuda gagah dan permata Amarta!" seru Sengkuni.
​Dadu bergulir, dan Sengkuni menang.
​"Permainan baru dimulai, Kakanda Puntadewa. Apakah engkau ingin melanjutkan?" pancing Duryudana.
​Terjerat oleh harga diri dan ikatan permainan, Puntadewa terus memasang taruhan. Putaran demi putaran berlalu. Istana Amarta, perhiasan kerajaan, perbendaharaan emas, hingga seluruh wilayah Kerajaan Amarta berpindah tangan ke pihak Kurawa.
​"Engkau telah kehilangan kerajaanmu, Yayi Puntadewa!" gelak Sengkuni terkekeh-kekeh. "Tapi engkau masih punya pertaruhan lain. Pertaruhkan adikmu Nakula dan Sadewa!"


​Bima membelalakkan mata, memegang hulu gadanya. Namun Puntadewa, yang telah dirasuki kebingungan dan kepasrahan fatal, mengangguk. Nakula dipertaruhkan dan kalah. Sadewa dipertaruhkan dan kalah. Lalu Arjuna, dan akhirnya Bima. Bahkan Puntadewa mempertaruhkan dirinya sendiri hingga kelima Pandawa resmi menjadi budak Kurawa.

​Puncak Kehinaan dan Keajaiban,
​Sengkuni tersenyum kening penuh kemenangan. Namun rasa dahaganya belum tuntas.
​"Tunggu!" teriak Sengkuni. "Engkau masih memiliki satu barang berharga, Puntadewa! Istrimu, Dewi Drupadi! Pertaruhkan dia, dan jika engkau menang, semua adikmu dan kerajaanmu akan kukembalikan!"
​Dalam keputusasaan yang mendalam, Puntadewa mengangguk pelan. "Aku pertaruhkan Drupadi..."
​Dadu dilempar. Sengkuni kembali menang. Gelak tawa para Kurawa membahana memenuhi balairung, sementara para tetua seperti Bhisma dan Durna hanya bisa menundukkan kepala menangis.
​"Dursasana!" perintah Duryudana dengan mata merah gembira. "Jemput budak baru kita, Drupadi! Seret dia ke balai ini!"
​Raden Dursasana berlari menuju kaputren. Tanpa menghiraukan jerit dan tangis Dewi Drupadi yang sedang berbusana sederhana, Dursasana merenggut rambut Drupadi dan menyeretnya kasar ke hadapan majelis Hastinapura.
​"Ampun! Kasihanilah aku! Apakah pantas seorang putri dan ratu diseret seperti ini di hadapan para tetua?" jerit Drupadi dengan air mata bercucuran.
​Duryudana yang diliputi hawa nafsu dan dendam berteriak, "Dursasana! Lepaskan pakaian wanita budak ini! Biar seluruh hadirin melihat kerendahannya!"
​Dursasana menyeringai dan mulai menarik kain jarik yang melilit tubuh Drupadi. Drupadi memejamkan mata, memegang kainnya rapat-rapat, lalu memanjatkan doa khusyuk kepada Sri Kresna.
​"Ooh... Kresna! Pengayom jiwa yang terlindung, tolonglah hamba-Mu!"


​Satu keajaiban agung terjadi. Ketika Dursasana menarik kain Drupadi, kain itu tak kunjung habis. Kain berlembar-lembar dengan warna-warni indah terus terurai seolah tanpa batas. Dursasana menariknya dengan bersusah payah hingga tumpukan kain menggunung di lantai balai. Dursasana akhirnya kelelahan dan jatuh pingsan karena kehabisan tenaga.

​Sumpah yang Menggetarkan Jagat, ​Melihat keajaiban itu, ruangan menjadi hening dan mencekam. Bima berdiri tegak, matanya menyala bagai api kawah Candradimuka. Dengan suara bagaikan petir menyambar, Bima mengumpat dan menguncarkan sumpahnya:
​"Dengar wahai sekalian manusia dan dewa! Aku, Bima, bersumpah! Di medan perang Baratayudha kelak, aku akan meminum darah Dursasana langsung dari dadanya! Dan aku akan meremukkan paha Duryudana dengan gada Jalak Veena-ku!"
​Dewi Drupadi berdiri dengan rambut terurai acak-acakan. Dengan nada dingin yang menggetarkan jiwa, ia pun bersumpah:
​"Aku tidak akan pernah mengikat rambutku ini kembali, sebelum aku meremas dan mencuci rambutku dengan darah Dursasana!"
​Pertanda buruk mulai muncul. Suara anjing liar melolong di luar istana, petir menyambar di langit cerah, dan patung-patung istana bergetar. Prabu Drestarastra yang ketakutan setengah mati akan murka para Dewa segera bangkit dari singgasananya.


​"Cukup! Cukup!" teriak Drestarastra gemetar. "Duryudana, engkau telah melampaui batas! Drupadi, maafkan anak-anakku! Aku batalkan seluruh hasil permainan dadu ini! Pandawa, ambillah kembali kerajaan dan kemerdekaan kalian!"

​Keputusan Akhir dan Pengasingan, ​Namun Kurawa tak merelakan kemenangan itu hilang begitu saja. Begitu Pandawa bersiap pulang, Sengkuni dan Duryudana mencegat Prabu Drestarastra dan mendesaknya untuk mengizinkan permainan dadu terakhir—babak penentuan dengan taruhan baru.
​"Hanya satu lemparan terakhir, Ayahanda!" bujuk Duryudana. "Siapa yang kalah tidak akan kehilangan harta, melainkan harus menjalani hukuman dibuang ke hutan selama 12 tahun, ditambah 1 tahun penyamaran di kota tanpa boleh ketahuan. Jika ketahuan, harus diulang 12 tahun lagi!"
​Puntadewa, yang tidak pernah bisa menolak tantangan judi dadu demi etika ksatria, menerima tantangan terakhir itu.
​Dadu dilempar untuk terakhir kalinya oleh Sengkuni. Angka Kurawa menang kembali.
​Dengan dada lapang namun penuh keprihatinan, Prabu Puntadewa beserta keempat adiknya dan Dewi Drupadi melepaskan mahkota serta pakaian kebesarannya. Mereka menggantinya dengan pakaian kulit kayu yang sederhana.

​"Kami menerima keputusan ini," ucap Puntadewa tenang. "Kami akan menjalani pengasingan 12 tahun di hutan Kamiyaka dan 1 tahun penyamaran."
​Sebelum melangkah pergi meninggalkan Hastinapura menuju kegelapan hutan, Bima menatap tajam ke arah Duryudana dan Sengkuni.
​"Tunggulah dua belas tahun lagi... Tiga belas tahun dari sekarang, tanah Kurukshetra akan meminum darah kalian semua!"
​Pandawa pun melangkah pergi menembus kabut pagi, menyongsong takdir penderitaan yang kelak akan melahirkan Perang Maha Dahsyat: Baratayudha Jayabinangun.

(Eko B Art).

​Adaptasi novel di atas disusun berdasarkan seluruh jalan cerita lakon wayang kulit "Pendawa Dadu / Pasca Sesaji Rajasuya" karya Ki Timbul Hadi Prayitno (rekaman lengkap dapat disaksikan pada tautan video Panggung Budaya - Ki Timbul Hadi Prayitno).

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT