Mengapa Hidup Makin Mudah tapi Makin Kosong, Abu Marlo Ungkap Rahasia Rasa Cukup dan Kebahagiaan
Abu Marlo menjelaskan bahwa perubahan era modern membawa paradoks tersendiri. Kemudahan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesadaran diri justru memicu fenomena choice paralysis—kondisi di mana manusia terlalu banyak disodori pilihan dan informasi sehingga menjadi bingung serta sulit merasa puas.
Pria yang pernah berada di puncak popularitas sebagai pesulap ini mengungkapkan titik baliknya terjadi saat ia merasa kesepian dan hampa di tengah pencapaian materi dan ketenaran.
"Orang menuju pencerahan itu tidak bisa kalau tidak melalui penderitaan (suffering). Penderitaan memanggil kita untuk pulang dan menyadari diri," ujar Abu Marlo.
Ia menambahkan bahwa peran barunya saat ini tidak jauh berbeda dengan masa lalunya sebagai pembuat ilusi panggung. Jika dulu ia mengajak penonton melihat ilusi di luar, kini ia mengajak orang untuk melihat ke dalam diri agar tidak terjebak dalam ilusi kehidupan.
Menjawab pertanyaan mengapa banyak orang sulit merasa cukup meski penghasilannya meningkat, Abu Marlo menyoroti adanya fenomena hedonic treadmill. Ketika pendapatan naik, gaya hidup cenderung ikut naik sehingga rasa cukup tak pernah tercapai.
Menurutnya, bersyukur bukanlah sesuatu yang otomatis ada, melainkan sebuah keterampilan (skill) yang harus dilatih terus-menerus. Salah satu cara melatih rasa syukur dan merasa cukup adalah dengan berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
"Manusia tidak didesain untuk dibandingkan karena setiap orang unik dan memiliki jalan hidupnya masing-masing. Membandingkan diri hanya akan memicu depresi," tegasnya.
Jebakan Media Sosial dan Ilusi Masa Depan
Dalam perbincangan tersebut, Abu Marlo juga menyoroti bagaimana media sosial mencuri atensi dan energi manusia. Banyak orang menggantungkan kebahagiaan mereka pada validasi luar, seperti pujian, likes, dan pengakuan orang lain.
Selain itu, kebiasaan menunda kebahagiaan—seperti “aku baru bahagia kalau sudah kaya” atau “aku baru bahagia kalau sudah menikah”—disebutnya sebagai ilusi. Hidup yang nyata sejatinya hanyalah apa yang terjadi di saat ini (here and now).
Ada lima hal yang harus dikurangi manusia modern, di akhir sesi, Abu Marlo merangkum lima keinginan yang kerap menjadi sumber penderitaan dan harus dikurangi oleh manusia modern agar bisa kembali merasa bahagia, Ingin dihargai, Ingin diakui, Ingin mengatur segala hal, Ingin memiliki secara berlebihan, Ingin menjadi seperti orang lain.
Maka kunci utama untuk meraih kedamaian hidup adalah dengan bersikap jujur pada perasaan sendiri, tidak memenjarakan diri demi validasi orang lain, serta belajar menerima kenyataan apa adanya.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment