Gus Baha Memaparkan Tentang Politik Ulama Jadikan Moralitas Sebagai Tolok Ukur Kepemimpinan Bangsa
PEMALANG — KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) memaparkan pentingnya ijtihad dan keterlibatan para ulama dalam dunia politik serta kepemimpinan bangsa. Menurut Gus Baha, keterlibatan ulama dari zaman Walisongo hingga saat ini membawa keberkahan dan membentuk tradisi kepemimpinan yang berlandaskan moralitas.
Berikut adalah poin-poin utama dari penjelasan Gus Baha:
-Ijtihad Fuqaha dan Sejarah Politik Ulama.
Gus Baha menjelaskan sudut pandang fiqih (fuqaha) terkait posisi umat Islam serta dinamika politik. Keterlibatan para ulama dalam dunia politik bukanlah hal baru, melainkan telah berjalan sejak era Walisongo hingga masa kini.
-Tradisi Memimpin Membawa Keberkahan.
Mengulas sejarah berdirinya Kerajaan Demak Bintoro dengan Raden Fatah sebagai raja pertama, Gus Baha mengutip pandangan KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) bahwa dinamika kepemimpinan Islam tetap membawa berkah karena membiasakan umat Islam untuk tampil memimpin. Beliau membandingkannya dengan kondisi di Pattani, Thailand, di mana pendekatan yang dominasi adalah tasawuf tanpa ambisi memimpin, sehingga umat Islam di sana pada akhirnya hanya dipimpin oleh pihak lain.
-Moralitas dan Keagamaan Sebagai Standar Pemimpin.
Dampak dari keterlibatan tokoh agama seperti KH. Hasyim Asy'ari hingga KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah terciptanya standar moral yang tinggi di Indonesia. Ibadah dan kelakuan baik kini menjadi tolok ukur utama dalam memilih calon pejabat publik, sehingga figur yang terkenal tidak bermoral atau korup akan sulit terpilih.
-Sinergi Ulama dan Umara demi Kemaslahatan.
Gus Baha menegaskan bahwa kerja sama yang harmonis antara ulama (tokoh agama) dan umara (pemerintah)—seperti yang tercermin pada Muktamar NU tahun 1984—menjadi pondasi penting bagi keberlangsungan negara yang aman dan sejahtera.
(Eko B Art).
Sumber Video YouTube:
https://www.youtube.com/watch?v=lMjQlIAOzdE
Comments
Post a Comment