Gugurnya Resi Kumbayana, Sang Mahaguru Durna

PEMALANG - ​Padang Kurusetra telah menyerap terlalu banyak darah. Setelah kematian Pangeran Abimanyu dan Jayadrata, Hastinapura kembali berduka. Prabu Duryudana duduk terhenyak di dalam kemah agungnya. Di hadapannya, berdiri seorang tua berambut putih, berselimut jubah pendeta yang ternoda debu perang—Resi Durna.


​"Bapa Guru," bisik Duryudana dengan suara serak. "Panglima tentara Kurawa kini kosong. Hanya Bapa yang mampu mengimbangi kesaktian para Pandawa dan menuntaskan perang ini."

​Durna menatap tajam murid kesayangannya itu. Hatinya terbelah. Di satu sisi, ia terikat sumpah setia kepada takhta Hastinapura yang telah memberinya penghidupan dan kehormatan. Di sisi lain, para Pandawa—terutama Arjuna—adalah murid-murid yang ia cintai seperti anak sendiri. Namun, takdir perang tak memberinya pilihan. Durna mengangkat busur Panah Cundamani miliknya.

​"Aku menerima jabatan senapati, Duryudana. Hari ini, Kurusetra akan menyaksikan puncak dari seluruh ilmu panah yang pernah kuajarkan," tegas Resi Durna.


​Di medan perang, Resi Durna menjelma menjadi badai yang mengerikan. Kereta perangnya melesat membelah barisan prajurit Pancala dan Pandawa. Panah-panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan petir yang merontokkan ratusan prajurit dalam hitungan detik.

​Para ksatria Pandawa bergantian maju menghadang, namun tak ada yang mampu menjatuhkan Sang Guru. Arjuna, murid terbaiknya, ragu-ragu melepaskan anak panah terbaiknya. Setiap kali membidikkan busur, bayangan Durna yang mengajarkannya memegang anak panah semasa kecil selalu melintas di benak Arjuna.

​"Jangan ragu, Arjuna! Dalam perang ini, aku bukan gurumu, dan kau bukan muridku!" teriak Durna dari atas keretanya seraya melepaskan panah yang memporak-porandakan barisan tempur Pandawa.

​Melihat situasi yang kian mendesak, Prabu Kresna—penasihat sekaligus penunjuk jalan para Pandawa—segera mengambil langkah cepat. Kresna paham betul bahwa Resi Durna tidak dapat dikalahkan dengan kekuatan fisik semata. Ada satu celah kelemahan yang tersimpan di dalam jiwa sang mahaguru: cintanya yang amat sangat kepada putranya, Aswatama.


​Kresna mengumpulkan para Pandawa di balik garis belakang. "Durna adalah benteng besi. Namun, benteng itu memiliki satu pintu rapuh: pikirannya tentang Aswatama. Selama ia percaya Aswatama masih hidup, kesaktiannya tak tergoyahkan," ujar Kresna.

​Atas petunjuk Kresna, Bima (Werkudara) segera mencari dan membunuh seekor gajah perang milik Kerajaan Malawa yang bernama Hesti Aswatama. Setelah gajah raksasa itu tumbang, Bima berteriak dengan suara menggelegar yang mengguncang bumi Kurusetra,
​"ASWATAMA GUGUR! ASWATAMA TUMBANG DI TANGAN BIMA!"

​Suara itu bergema hingga ke telinga Resi Durna. Gerakan jemarinya pada tali busur mendadak terhenti. Wajahnya pucat pasi. Hatinya seperti dihantam godam raksasa. Anak tunggal yang menjadi pautan hidupnya... telah tewas?
​Ragu dan penuh ketakutan, Durna menghentikan keretanya. Ia melihat Prabu Yudhistira—ksatria tertua Pandawa yang terkenal tak pernah berbohong seumur hidupnya—berada tak jauh dari sana.

​Durna berteriak bertanya penuh kecemasan, "Yudhistira! Putraku... apakah benar Aswatama telah gugur?!"
​Yudhistira berdiri mematung. Hatinya bergolak karena tak ingin berbohong, namun Kresna berbisik tegas di sampingnya untuk menyelamatkan peradaban dari amuk Durna. Yudhistira akhirnya menjawab dengan suara lantang,
​"Aswatama... gugur!" lalu melanjutkan dengan bisikan amat pelan yang hampir tak terdengar, "...gajah itu."
​Bersamaan dengan kalimat itu, Kresna memerintahkan prajurit meniup sangkakala dan memukul tambur perang setinggi-tingginya, sehingga frasa "...gajah itu" tenggelam dalam keramaian suara perang.


​Mendengar konfirmasi dari mulut Yudhistira yang bijaksana, runtuhlah seluruh semangat hidup Resi Durna. Senjata Panah Cundamani terlepas dari genggamannya. Keinginan untuk bertempur sirnah seketika. Sang mahaguru duduk bersila di atas kereta perang, memejamkan mata, dan menyerahkan jiwanya pada ketenangan meditasi untuk melepaskan raga.

​Melihat Durna telah berada dalam kondisi pasrah tanpa pertahanan, Raden Drestajumna—ksatria dari Pancala yang lahir dari api samadi khusus untuk membalaskan dendam keluarganya kepada Durna—melompat ke atas kereta sang senapati.
​Dengan pedang terhunus dan dada bergemuruh, Drestajumna mengayunkan pedangnya. Dalam satu tebasan, gugurlah Resi Kumbayana—Sang Mahaguru Durna.

​Darah terpancar di atas tanah Kurusetra. Arjuna menjerit histeris melihat gurunya jatuh, namun takdir Bharatayudha telah mencatatkan babak barunya. Kurawa kehilangan benteng utamanya, sementara Pandawa melangkah semakin dekat menuju akhir perang besar tersebut.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT