GUGURNYA BOMANARAKASURA (BOMA GUGUR)
PEMALANG - Awal Prahara dari Benih Asmara Terlarang Di balik megahnya Istana Trajutrisna, takdir merajut benih bencana. Prabu Bomanarakasura (Setija), putra tertua Prabu Kresna dari Dewi Pretiwi, bertakhta dengan kekuasaan yang amat ditakuti. Namun, di dalam kediaman bahagianya, tersembunyi duka yang tenang. Dewi Hagnyanawati, sang permaisuri, menyimpan kerinduan mendalam yang tak pernah tertuju pada suaminya, melainkan kepada Raden Samba (Wisnubrata)—adik tiri Boma yang tampan dan rupawan dari Istana Dwarawati.
Pertemuan rahasia antara Samba dan Hagnyanawati yang semula hanya bisikan asmara terselubung, lambat laun terendus oleh para prajurit dan Patih Pancatnyana. Kabar tak sedap itu akhirnya sampai ke telinga Sang Raja Trajutrisna.
Murka Sang Raja Trajutrisna ketika suatu pagi Ufuk timur Trajutrisna mendadak merah membara bagai membakar dada Prabu Bomanarakasura. Saat mendapati bukti kebenaran perselingkuhan tersebut, kesabaran Boma hancur tak berbekas. Dikenal memiliki watak yang keras, emosi Boma tak lagi dapat dibendung oleh akal sehat maupun ikatan persaudaraan.
"Seorang adik yang telah kukasihi, berani menodai kehormatan istanaku!" teriakan Boma mengguncang pilar-pilar istana.
Tanpa ampun, Boma menangkap Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati. Amarah yang menyelimuti jiwa Boma menutup pintu maaf baginya.
Tragedi besar tentang "Samba Sebit".
Di Alun-alun Trajutrisna menjadi saksi bisu peristiwa yang amat memilukan. Boma menyeret Samba dan Hagnyanawati ke tengah arena. Jeritan ampunan tak digubris. Dalam Puncak kemurkaannya, Boma menyiksa dan merobek-robek tubuh Raden Samba (Samba Sebit) serta menghabisi Dewi Hagnyanawati dengan cara yang amat mengerikan.
Darah segar membasahi tanah Trajutrisna, menandai awal tumpahnya air mata serta pertumpahan darah yang jauh lebih besar di antara keturunan Dwarawati.
Menancapkan Duka dan Ketegasan di Dwarawati, Kabar tewasnya Raden Samba secara tragis menyebar cepat hingga ke Istana Dwarawati. Dewi Jambawati menangis histeris meratapi kepergian putranya. Di atas singgasana, Prabu Kresna terhenyak. Dadanya sesak dihantam dilema luar biasa: di satu sisi Samba adalah putranya yang tewas dianiaya, di sisi lain Boma juga adalah putra kandungnya sendiri.
Namun, demi menegakkan keadilan dan kebenaran (dharma), Prabu Kresna harus mengesampingkan perasaan seorang ayah. Kekejaman Boma yang telah melampaui batas hukum kemanusiaan harus dihentikan, walau harus membayarnya dengan nyawa. Dampingi oleh Arjuna dan Raden Gatotkaca, pasukan Dwarawati memuncak menuju Trajutrisna.
Membara dengan adanya Perang Saudara di Medan Bhumi, dua kekuatan raksasa bertemu di medan laga. Perang tak terhindarkan melanda bumi Trajutrisna.
"Sorak-sorai prajurit, dentuman senjata, dan debu yang membumbung tinggi menyelimuti angkasa".
Prabu Boma tampil bagai iblis yang tak tersentuh. Berkat ajian Pancasona / Buminirmala yang diperoleh dari ibundanya (Dewi Pretiwi/Bumi), setiap kali tubuh Boma menyentuh tanah, kesaktiannya kembali pulih dan ia tak bisa terbunuh. Pasukan Dwarawati dan Pandawa sempat terdesak menghadapi keganasan Raja Trajutrisna tersebut.
Takdir Kematian di Udara, melihat Boma yang tak terkalahkan selama berpijak di bumi, Prabu Kresna memberikan isyarat rahasia kepada Raden Gatotkaca.
"Sang Satria Pringgandani yang sakti mandraguna dengan cepat menyambar tubuh Boma dari belakang, dengan sekuat tenaga, Gatotkaca menerbangkan Prabu Bomanarakasura jauh ke angkasa, memutus hubungannya dengan permukaan bumi. Di udara, Boma memberontak hebat, namun kuncian lengan dan jemari Gatotkaca menguncinya erat. Melihat Boma melayang tak berdaya tanpa perlindungan bumi, Prabu Kresna memejamkan mata sejenak, memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas takdir yang harus ia jalankan. Dengan tangan bergetar namun pasti, Prabu Kresna menarik Senjata Cakra Bhaskara. Senjata sakti itu melesat cepat bagai kilat, menembus dada Prabu Bomanarakasura di angkasa".Tubuh Prabu Bomanarakasura jatuh terkulai ke bumi tanpa nyawa. Perang pun usai seketika, menyisakan keheningan yang mencekam.
Prabu Kresna berjalan perlahan mendekati jasad putra tertuanya. Di tengah padang yang berhiaskan duka, Sang Avatar Wisnu menangis dalam hening. Dalam satu hari, ia kehilangan dua orang putra terbaiknya akibat cengkeraman nafsu, cemburu, dan dendam.
Lakon dari kesaktian Boma Gugur berakhir sebagai pengingat abadi bahwa murka dan hawa nafsu hanya akan melahirkan kehancuran, bahkan bagi mereka yang berdarah raja dan bersenjata sakti.
(Eko B Art).
Novel diadopsi dari Referensi: Ki Narto Sabdo dalam Lakon Wayang "Boma Gugur".
Comments
Post a Comment