Ghaibnya Wahyu Jitabsoro
PEMALANG - Suasana di Kahyangan Suralaya memegang ketegangan yang tak biasa. Sang Hyang Batara Guru telah menitahkan bahwa sebuah petunjuk gaib dan pengetahuan kesempurnaan hidup—Wahyu Jitabsoro—akan diturunkan ke marcapada (dunia manusia). Siapa pun ksatria yang mendapatkan wahyu ini, tidak hanya akan memperoleh ketentraman batin dan kesaktian lahir-batin, tetapi juga memegang kepemimpinan moral yang menentukan masa depan garis keturunan Bharata.
Kabar mengenai turunnya Wahyu Jitabsoro menyebar bagai angin malam ke seluruh penjuru negeri. Di Istana Amarta, Prabu Puntadewa beserta para Pandawa—Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa—berkumpul bersama sang penasihat agung, Prabu Kresna dari Dwarawati.
"Wahyu ini bukan sekadar lambang kekuasaan, wahai para adikku," ucap Prabu Kresna dengan tatapan tajam mendalam. "Jitabsoro adalah serat pengetahuan suci. Siapa yang berhak menerimanya haruslah mereka yang bersih jiwanya, lurus niatnya, dan sanggup bertapa menahan hawa nafsu."
Atas dorongan Kresna dan para tetua, Raden Arjuna diutus untuk memohon petunjuk dan mengheningkan cipta di tengah keheningan hutan demi menggapai anugerah tersebut.
Sementara itu, di Istana Hastinapura, suasana hangat oleh ambisi kesetanan. Prabu Duryudana bersama Patih Sengkuni dan Mahaguru Durna mendengarkan kabar burung mengenai turunnya Wahyu Jitabsoro.
"Apabila wahyu itu jatuh ke tangan Pandawa, makin kokohlah pengaruh mereka di mata rakyat dan para dewa!" seru Patih Sengkuni dengan senyum liciknya. "Kita harus merebutnya terlebih dahulu, dengan cara apa pun!"
Kurawa pun mengerahkan pasukan serta para ksatria andalan mereka, termasuk Raden Samba atau putra-putra Hastinapura dan sekutu mereka, untuk melacak keberadaan tempat jatuhnya wahyu tersebut. Senopati dan pasukan raksasa disebar ke batas-batas hutan untuk menghalangi jalan Pandawa.
Perjalanan mencari Wahyu Jitabsoro tidak sekadar diuji oleh sabetan keris dan letusan panah, melainkan ujian jiwa.
Di salah satu sudut hutan pertapaan, bentrok tak terhindarkan terjadi antara para prajurit Hastinapura dan pengawal Pandawa. Perang tanding antara ksatria muda berkecamuk. Raden Gatotkaca bertarung gagah berani di udara menahan gempuran pasukan raksasa sekutu Kurawa yang mencoba menerobos area pertapaan Arjuna.
Di sisi lain, Arjuna yang sedang duduk hening dalam semadi harus menghadapi godaan yang tak tampak, bayangan kejayaan duniawi, keraguan batin, serta serbuan para denawa (raksasa) yang diutus untuk memecah konsentrasinya. Namun, dengan keteguhan batin yang mantap dan perlindungan dari para Semar serta Punakawan (Gareng, Petruk, Bagong) yang tak henti memberikan petuah diselingi humor bijak, Arjuna tetap kokoh dalam meditasinya.
Di puncak keheningan malam, ketika bumi seolah berhenti bernapas, berkas cahaya keemasan terpancar turun dari langit Kahyangan. Cahaya membara nan lembut itu melayang di udara—itulah wujud fisik dari Wahyu Jitabsoro.
Para Kurawa yang mencoba menyergap dan menangkap berkas cahaya itu justru terpental oleh aura suci yang mengelilinginya. Wahyu Jitabsoro menolak jiwa-jiwa yang dipenuhi serakah dan nafsu kekuasaan.
Cahaya emas tersebut bergerak meliuk, menembus rimbunnya dedaunan, dan perlahan menyatu masuk ke dalam dada Raden Arjuna yang tersenyum pasrah dan ikhlas dalam semadinya.
Kegagalan Kurawa merebut wahyu memicu kemarahan pasukan Hastinapura. Perang terbuka pecah di pinggir hutan. Bima (Werkudara) dengan gada Rujakpala meratakan barisan musuh yang mencoba mengamuk, sementara Kresna memberikan arahan taktis dari atas kereta.
Setelah pasukan Kurawa dipukul mundur dan kembali ke Hastinapura dengan tangan hampa, para Pandawa berkumpul menyambut Arjuna yang telah menyerap pengetahuan Wahyu Jitabsoro. Semar Badranaya tersenyum mengangguk-angguk di pojokan, tahu bahwa kebenaran dan kesucian hati pada akhirnya selalu menjadi tempat berlabuhnya anugerah Ilahi.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment