Didalam Dada Baladewa Bersemayam Hati Yang Sangat Lurus, Jujur, Serta Tak Kenal Kompromi Terhadap Kejahatan
PEMALANG - Di puncak Kahyangan Junggring Salaka, suasana tidak lagi tenang. Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru) duduk bertahta didampingi oleh Sang Hyang Narada. Alam marcapada bergejolak parah—gunung-gunung meletus, kawah Candradimuka mendidih, dan angin puting beliung mengamuk hingga meretas ketentraman istana para dewa.
"Kakang Narada," tutur Bathara Guru, "apakah yang menjadi muara dari gejolak hebat yang mengguncang bumi dan langit ini?"
Penyebab dari keguncangan tersebut adalah keprihatinan serta keteguhan batin seorang ksatria utama yang sedang bertapa di Marcapada, yakni Prabu Baladewa (Kakrasana) dari Kerajaan Mandura. Demi membela kebenaran, menuntut keadilan, dan memohon anugerah keselamatan bagi negeri, doa serta prihatin Baladewa menembus hingga ke singgasana para dewa.
Prabu Baladewa adalah sosok bertubuh kekar, berwajah merah murka, dan bersuara bagai guntur. Meski dari luar ia tampak pemberang dan cepat tersulut amarah, di balik dadanya bersemayam hati yang sangat lurus, jujur, serta tak kenal kompromi terhadap kejahatan.
Didampingi adiknya, Prabu Kresna dari Dwarawati, Baladewa melintasi berbagai marabahaya. Sejak masa mudanya ketika menyamar sebagai Wasi Jaladara hingga naik tahta menjadi Raja Mandura, ia memegang pusaka ampuh berupa Sanjata Nenggala dan Alugara. Kedua senjata dewata tersebut menjadi lambang penumpas ketidakadilan di muka bumi.
Setiap babak kehidupan Baladewa dipenuhi dilema moral yang berat. Sebagai putra tertua Prabu Basudewa, ia harus menjaga kehormatan wangsa Yadawa. Ketika perang Baratayudha membayang, Prabu Kresna sadar bahwa amarah dan kesaktian Baladewa yang tiada tanding dapat memusnahkan kedua belah pihak jika ia terlibat langsung.
Oleh karena itu, melalui diplomasi yang bijaksana, Baladewa diminta melakukan tapa brata di Grojogan Sewu. Tanpa disadari Baladewa, pertapaannya dijadikan cara agar ia tidak perlu bertempur melawan kerabatnya sendiri dalam perang saudara yang mengerikan.
Di masa tuanya, Prabu Baladewa yang kembali menggunakan sebutan Wasi Jaladara berdiri di tengah puing pertempuran akhir. Dengan keyakinan bulat untuk memusnahkan sisa-sisa kejahatan Prabu Wesiaji dan menegakkan ketentraman di bumi Ngastina bagi generasi penerus seperti Prabu Parikesit, Sang Wasi melepaskan Sanjata Nenggala.
Sanjata Nenggala menghantam musuh hingga sirna. Namun, bersamaan dengan lenyapnya senjata sakti tersebut kembali ke kahyangan, jiwa sang ksatria pun genap purna. Sebuah kereta cahaya turun dari langit menjemput raga dan sukma Prabu Baladewa naik menuju alam nirwana (mukswa).
Kehidupan Prabu Baladewa berakhir dengan penuh kemuliaan. Ia meninggalkan warisan teladan tentang kejujuran, keteguhan sikap, dan pengorbanan tanpa pamrih demi kedamaian jagad raya.
(Suhari/Eko B Art).
Comments
Post a Comment