Brubuh Ngastina, Puncak Darah di Padang Kurusetra
PEMALANG - Fajar Angin pagi di Kurusetra tidak lagi membawa aroma embun. Senja dan fajar di medan perang itu telah menyatu dalam bau amis darah dan jelaga perang Bharatayuddha yang telah melahap ribuan jiwa. Kereta-kereta perang hancur menjadi serpihan kayu, gajah-gajah tempur tergelak kaku, dan bumi Ngastina seakan meratap menampung tangisan para janda serta anak-anak yang kehilangan ayah mereka.
Di kubu Pandawa, Prabu Puntadewa berdiri menatap hamparan padang yang porak-poranda. Wajah sang Raja Amarta yang tenang itu kini diselimuti kedukaan yang amat dalam. Di sampingnya, Sri Kresna—sang penasihat agung bertangan dingin—berdiri menatap lurus ke arah benteng Hastinapura.
"Kakang Puntadewa," ucap Kresna lembut namun tegas. "Malam telah berganti fajar ke-18. Takdir perang ini harus segera dituntaskan. Kurawa hanya menyisakan beberapa orang, dan puncak dari kebathilan itu ada pada Duryudana."
Raden Werkudara (Bima) melangkah mendekat. Langkah kakinya menggetarkan tanah Kurusetra. Tangannya yang perkasa mengepal kencang, menahan gumpalan amarah yang telah tertahan bertahun-tahun—sejak peristiwa Bale Sigala-gala hingga penghinaan terhadap Dewi Drupadi di balairung istana.
"Kresna! Tak perlu banyak bicara lagi," guruh Bima, suaranya bagaikan petir di siang bolong. "Hari ini, darah Duryudana akan membasuhi gada Gada Rujakpala milikku. Aku akan menunaikan sumpahku!"
Sebelum pertarungan akhir bermula, sisa-sisa kekuatan Kurawa mencoba bertahan. Patih Sengkuni—arsitek utama di balik segala tipu daya dan perpecahan antara Pandawa dan Kurawa—masih merayap di antara puing-puing pertahanan. Wajah liciknya kini pucat pasasi, matanya liar mencari celah untuk meloloskan diri dari murka Pandawa.
Namun, takdir tak lagi memberinya jalan keluar. Werkudara menemukan sang Patih.
"Sengkuni!" teriak Bima. "Lisanmu yang penuh racun telah menghancurkan kedamaian dunia. Hari ini, lidah itu tak akan lagi mampu bersilat kata!"
Sengkuni mencoba melawan dengan ilmu kesaktiannya, namun kebal tubuhnya tak berarti di hadapan Kuku Pancanaka milik Bima. Dalam pertarungan yang singkat namun mengerikan, Werkudara meremukkan sang Patih, menuntaskan dendam lama atas segala konspirasi licik yang pernah menimpa keluarga Pandawa. Dengan tumbangnya Sengkuni, terputuslah sudah benteng pertimbangan terakhir Kerajaan Ngastina.
Prabu Duryudana—raja Hastinapura yang tersisa seorang diri—menyaksikan satu per satu saudaranya dan sekutunya tewas. Dari sembilan puluh sembilan saudaranya, tidak ada lagi yang tersisa. Hatinya hancur berkeping-keping oleh penyesalan dan keputusasaan, namun kesombongannya melarangnya untuk menyerah secara terhormat.
Memanfaatkan ajian kepintarannya, Duryudana melarikan diri ke Danau Ungkal-ungkal (Telaga Senawarna). Ia menyelam dan bersembunyi di dasar air, menggunakan kesaktiannya untuk membendung napas dan meredam hawa keberadaannya.
Di tepi telaga, para Pandawa beserta Kresna berdiri mencari. Telaga itu tampak tenang tanpa riak, seolah tak berpenghuni.
"Dia bersembunyi di dalam air, Werkudara," ujar Sri Kresna seraya tersenyum tipis. "Orang yang sombong seperti Duryudana tidak bisa dipancing keluar dengan kelembutan. Ia hanya bisa dibangunkan oleh harga dirinya yang terluka."
Bima melangkah ke bibir air dan berteriak dengan nada mengejek yang menggema ke seluruh pelosok telaga:
"Oeei, Duryudana! Apakah ini sosok Raja Hastinapura yang agung? Raja yang membanggakan kesaktiannya kini bersembunyi seperti katak di dalam lumpur! Di mana kesombonganmu saat engkau merebut kerajaan kami? Di mana keberanianmu saat mempermalukan Drupadi? Keluar engkau, penakut!".
Suara hinaan itu merambat masuk ke dasar telaga, membakar telinga dan jantung Duryudana. Air telaga mulai mendidih dan bergolak hebat. Dari dalam air, membumbung tinggi sosok Duryudana dengan mata merah menyala dan wajah penuh murka.
"Werkudara! Jangan kau sebut aku penakut!" jerit Duryudana seraya mendarat di daratan. "Aku tidak takut mati! Mari kita selesaikan perang ini!"
Pertarungan pamungkas Bharatayuddha pun pecah. Tidak ada lagi prajurit yang bertempur; hanya ada dua raksasa perang yang saling berhadapan: Bima dengan Gada Rujakpala dan Duryudana dengan Gada Kyai Intan. Keduanya merupakan murid kesayangan dari Resi Balarama (Baladewa) dalam ilmu bergada.
Brakkk!
Benturan kedua gada sakti itu memercikkan api dan menggetarkan bumi di sekitarnya. Setiap pukulan Duryudana mengincar kepala dan dada Bima, sementara Bima mengayunkan gadanya dengan kekuatan bagaikan angin topan. Pertarungan berlangsung sengit berjam-jam. Tubuh Duryudana yang telah dimandikan minyak minyak kesaktian oleh ibunya, Dewi Gandari, membuat kulitnya sekeras baja; pukulan Bima di bagian atas tubuhnya tak sedikit pun melukainya.
Bima mulai terdesak dan kelelahan. Melihat situasi kritis tersebut, Sri Kresna memberikan isyarat rahasia. Kresna menepuk paha kirinya sendiri di hadapan Bima, mengingatkan Bima pada sumpah yang pernah diucapkannya dulu: bahwa ia akan mematahkan paha Duryudana yang pernah ditepuk sang Raja saat menggodai Drupadi.
Memahami isyarat itu, Werkudara menghimpun seluruh sisa tenaganya. Saat Duryudana melompat tinggi memutar gadanya untuk menghantam kepala Bima, Bima merendahkan tubuhnya dan mengayunkan Gada Rujakpala mendatar penuh tenaga raksasa.
BLAKKK!
Gada Rujakpala menghantam tepat di kedua paha Duryudana. Suara remukan tulang terdengar mengerikan. Duryudana menjerit histeris saat kedua kakinya hancur berkeping-keping. Sang Raja Hastinapura roboh bersimbah darah, tak mampu lagi berdiri.
Duryudana terkapar di tanah Kurusetra yang berdebu. Napasnya terengah-engah saat kematian perlahan menghampirinya. Dalam sisa-sisa kesadarannya, ia menatap Pandawa yang berdiri memandangnya.
"Werkudara... engkau menang dengan kecurangan..." bisik Duryudana meledak-ledak dengan sisa tenaganya. "Aturan bergada... tidak boleh menyerang bagian bawah pinggang..."
Sri Kresna melangkah maju dan menjawab tenang, "Duryudana, aturan mana yang kau pakai saat kau membakar keluarga Pandawa di rumah lilin? Aturan mana yang kau pakai saat mengeroyok Abimanyu hingga tewas? Hukum karma telah menagih seluruh hutangmu hari ini."
Duryudana menghembuskan napas terakhirnya di tanah Kurusetra. Dengan tewasnya sang Raja, berakhirlah lakon Brubuh Ngastina—runtuhnya kejayaan Kurawa dan berakhirnya perang Bharatayuddha.
Asap pertempuran perlahan menipis di ufuk timur. Pandawa berdiri dalam hening. Tidak ada sorak kepuasan yang berlebihan, yang ada hanyalah duka mendalam atas ribuan nyawa yang melayang demi menegakkan dharma (kebenaran). Dari puing-puing Ngastina yang hancur, sebuah babak baru kedamaian akan segera dimulai.
(Eko B Art).
Novel Diadopsi Dari Lakon Wayang "Brubuh Ngastina".
Comments
Post a Comment