Arjuna Melayangkan Tantangan Perang Tanding Secara Terbuka Kepada Prabu Palgunadi

Novel diadaptasi dari Lakon Wayang Orang, "Palguna, Palgunadi".


PEMALANG - ​Di Kerajaan Paranggelung, Prabu Palgunadi (yang juga dikenal sebagai Ekalaya) bertakhta didampingi permaisurinya yang jelita, Dewi Anggraini. Meski telah menjadi raja, Palgunadi tidak pernah merasa puas akan ilmu ketangkasan memanah. Hatinya senantiasa bergetar setiap kali mendengar nama Begawan Durna, guru besar dari Padepokan Sokolimo.

​Palgunadi memohon restu dari istrinya untuk menimba ilmu panah langsung di bawah bimbingan Sang Resi. Dengan keikhlasan dan pengabdian tinggi (guru bakti), Palgunadi menganggap Sang Resi Durna sebagai guru rohani tempat ia menyerahkan ketundukan jiwa dan raganya.


​Di sisi lain, kedatangan Palgunadi ke wilayah Sokolimo menimbulkan gejolak. Raden Arjuna (yang juga bergelar Palguna), murid kesayangan Resi Durna, merasa terusik. Arjuna telah memegang janji Sang Guru bahwa tidak ada seorang pun di marcapada yang akan mengungguli kemampuannya dalam memanah.

​Kecurigaan Arjuna kian membara ketika ia mengetahui bahwa Palgunadi memiliki hubungan dekat dengan Prabu Duryudana dari Hastinapura. Arjuna menyadari, jika kehebatan memanah Palgunadi dibiarkan berkembang, ia akan menjadi ancaman terbesar bagi pihak Pandawa dalam perang suci Baratayuda yang telah diramalkan.

​​Terbakar rasa penasaran dan kecemburuan, Arjuna berupaya menemui Dewi Anggraini. Arjuna terpikat oleh kecantikan permaisuri Paranggelung tersebut dan berusaha mengujinya. Namun, dengan keanggunan serta keteguhan hati yang tak tergoyahkan, Dewi Anggraini menolak setiap pesona Arjuna dan menegaskan kesetiaan mutlaknya kepada sang suami, Prabu Palgunadi.

​Kegagalan ini membakar amarah Arjuna. Menggunakan perantara Dewi Anggraini, Arjuna melayangkan tantangan perang tanding secara terbuka kepada Prabu Palgunadi.


​Di belantara pegunungan, dua satria pemanah ulung—Palguna dan Palgunadi—berhadapan dalam duel hidup dan mati. Anak panah meluncur bak hujan meteor, membelah angkasa. Namun, betapa terkejutnya Arjuna saat menyadari bahwa setiap bidikannya mampu ditangkis dan dipatahkan dengan mudah oleh Palgunadi. Kesaktian Arjuna yang legendaris seolah tidak ada artinya.

​Keunggulan mutlak Palgunadi bersumber dari rahasia yang melekat di jempol kanan tangannya: sebuah cincin pusaka sakti bernama Sosro Jemaning Ampel (Cincin Ampal/Kalimaya). Pusaka ini memberikan ketepatan bidikan dan kebal terhadap berbagai senjata api maupun panah sakti.

​​Tersudut dan merasa martabatnya terancam, Arjuna mengadu kepada guru mereka, Resi Durna. Terjepit di antara janji utamanya kepada Arjuna dan kekagumannya atas ketulusan Palgunadi, Resi Durna terpaksa mengambil keputusan yang sangat berat.

​Sang Guru menghampiri Palgunadi dan meminta bukti guru bakti berupa pemotongan ibu jari kanan Palgunadi—tempat Cincin Sosro Jemaning Ampel melekat. ​Hancur luluh hati Palgunadi. Dirinya tahu betul bahwa cincin tersebut menyatu dengan sumsum jiwanya; jika pusaka itu dilepas dan jempolnya dipotong, nyawanya tidak akan tertolong.

Namun, karena rasa cinta, hormat, dan ketundukan tanpa batas kepada Sang Guru Resi Durna, Palgunadi tidak ragu sedikit pun.
​Dengan keris di tangan, Palgunadi memotong ibu jari kanannya sendiri dan menyerahkan pusaka Sosro Jemaning Ampel ke hadapan Resi Durna.


​Seketika pusaka terlepas, darah segar mengucur deras. Prabu Palgunadi roboh dan gugur di pangkuan bumi sebagai Satria Utama. Sebelum jiwanya melayang ke swargaloka, sukma Palgunadi mengikrarkan sumpah, kelak pada Perang Baratayuda, sukmanya akan menyatu dalam raga Raden Drestajumna untuk menagih janji dan memenggal leher Resi Durna.

​Melihat suaminya tewas demi membela kehormatan dan pengabdian, Dewi Anggraini memilih jalan bela pati—menyusul sang suami ke alam abadi. Kisah cinta dan pengorbanan mereka terpatri abadi dalam sejarah ksatria sejati.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

Tasyakuran Adalah Tradisi Unik Yang Penuh Makna Dalam Budaya Indonesia, Makan Bersama (Riyoyo) Mengungkapkan Rasa Syukur Atas Nikmat Yang Diberikan Allah SWT