Visi Seribu Cabang Kebuli Abuya, dan Meluruskan Mindset Rezeki

PEMALANG - ​Setiap hari, saya selalu membagikan impian dan target kami di media sosial, yaitu keinginan untuk membuka seribu cabang Kebuli Abuya. Tentu saja, impian besar ini tidak selalu ditanggapi positif. Ada saja orang yang sinis dan berkomentar bahwa rezeki itu sudah diatur dan takdirnya sudah ditentukan oleh Allah.

"Mereka beranggapan bahwa mau membuka satu cabang atau seribu cabang sekalipun, jatah rezeki yang akan didapatkan tetap akan sama saja, sehingga tidak perlu berusaha terlalu keras sampai mengorbankan waktu istirahat", hal tersebut disampaikan Okta Wirawan selaku CEO dan pendiri dari Abuya Group (PT Abuya Berkah Indonesia Makmur atau PT ABINDO).  dalam podcast https://www.youtube.com/watch?v=nJj3xCp7klQ.

"​Mindset atau pola pikir seperti inilah yang sebenarnya perlu diluruskan secara bijak. Pemikiran yang menganggap rezeki sudah ditakar lalu memilih untuk pasrah tanpa ikhtiar yang maksimal, bahkan menghabiskan waktu untuk hal sia-sia seperti bermain game, adalah kekeliruan yang besar. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha keras untuk mengubah nasibnya sendiri. Selain itu, Allah juga bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jika kita selalu berprasangka buruk dan merasa jualan akan sepi karena faktor cuaca atau hal lain, maka hal buruk itulah yang akan terjadi", ucap Okta Wirawan.


​Katakanlah jatah rezeki materi yang ditetapkan untuk saya pribadi memang tidak akan bertambah dengan adanya seribu cabang. Namun, ada nilai manfaat yang sangat luas di balik impian tersebut. Bisnis tidak boleh hanya memikirkan kecukupan diri sendiri, seperti hanya menjual sepuluh porsi sehari sekadar untuk makan pribadi. Dengan bermimpi membuka seribu cabang, visi utama kami adalah mengejar keberkahan lewat asas kemanfaatan bagi orang banyak, sesuai dengan hadis yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

"Melalui seribu cabang tersebut, kami memiliki target untuk membuka sepuluh ribu lapangan pekerjaan baru, membantu menghidupi seribu kepala keluarga karyawan, dan bisa membagikan seratus ribu nasi box gratis setiap hari kepada mereka yang membutuhkan", tegas Okta Wirawan.

Alasan utama kami memilih bisnis kuliner dan bermimpi sebesar ini adalah karena salah satu amalan terbaik dalam agama adalah memberikan makanan kepada saudara kita yang membutuhkan.

Kilas Balik Perjuangan Masa Kuliah dan Kegagalan Awal.
​Kesuksesan yang terlihat hari ini sama sekali tidak datang secara instan. Netizen atau orang luar mungkin hanya melihat kondisi saya yang sekarang sudah enak dan bisa berbagi ke mana-mana, tanpa pernah tahu perjuangan berdarah-darah dan kegagalan berkali-kali yang terjadi di belakangnya. Saya memiliki prinsip untuk terus mencoba dan tidak pernah mengenal kata menyerah.

​Bisnis pertama saya dimulai ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester dua di Institut Pertanian Bogor. Saat itu, Bogor sedang memasuki musim hujan yang sangat panjang, sehingga banyak mahasiswa kos yang kesulitan untuk mencuci pakaian tebal, sprei, dan selimut mereka. Melihat masalah tersebut sebagai sebuah peluang bisnis, saya meminta modal kepada orang tua sebesar satu setengah juta rupiah untuk membeli satu unit mesin cuci.

"Meskipun saat itu orang tua saya sudah memberikan fasilitas yang sangat cukup berupa rumah tinggal dan mobil selama saya kuliah di Bogor, saya tidak mau bermanja-manja menikmati uang orang tua. Saya bertekad untuk bisa mencari uang saku dan uang bensin sendiri melalui usaha laundry kiloan ini", tambahnya.

​Namun, sebuah tragedi besar terjadi pada hari kedua bisnis laundry tersebut berjalan. Saya mendapatkan orderan dalam jumlah yang sangat besar, yaitu seribu enam ratus taplak meja berbahan bludru dari Kebun Raya Bogor. Karena belum memiliki karyawan dan minim pengalaman, saya mencuci semuanya sendiri setelah pulang kuliah malam hari. Mengira prosesnya akan cepat, saya langsung memasukkan tiga puluh taplak meja sekaligus ke dalam mesin cuci. Hasilnya sungguh mengejutkan, kain bludru pada seluruh taplak meja tersebut rontok dan menjadi botak semua. Alih-alih mendapatkan keuntungan, saya justru dihadapkan pada risiko ganti rugi yang besar.

​Saat itu belum ada ponsel yang bisa digunakan untuk menjelajah internet dengan mudah, sehingga saya harus pergi ke warnet untuk mencari tahu cara penanganan kain bludru. Di sanalah saya baru mengetahui bahwa kain jenis tersebut harus dicuci secara manual satu per satu.

Beruntung, pihak pelanggan memaklumi kejadian tersebut dan hanya meminta ganti rugi untuk tiga puluh taplak yang rusak saja. Kejadian belajar sambil melakukan atau learning by doing itulah yang sangat membekas dan menempa mental usaha saya. Bisnis laundry ini akhirnya terus berjalan dengan sukses hingga berkembang memiliki delapan titik penjemputan di berbagai kos-kosan mahasiswa dengan sistem kerja sama bagi hasil sebesar sepuluh persen.

​Setelah merasa memiliki tabungan yang cukup dari bisnis laundry, saya tertarik untuk merambah ke bisnis kuliner karena tergiur melihat kesuksesan sebuah usaha kemitraan serabi di Bandung yang omsetnya sangat besar hingga pemiliknya bisa membeli mobil mewah. Akhirnya, saya membayar biaya waralaba sebesar enam juta rupiah untuk belajar seluruh resep membuat serabi, vla, hingga mayones. Saya kemudian mendirikan warung serabi tiga lantai di samping SMA Negeri Tujuh Bogor dan menamainya Serabi Menor karena tampilannya yang warna-warni.

​Di sinilah kesalahan fatal dalam strategi bisnis pertama saya terjadi. Lokasi usaha yang saya pilih berada tepat di samping sekolah dengan target pasar anak-anak sekolah, sementara serabi secara umum adalah jenis makanan yang lebih banyak dicari orang pada malam hari ketika area sekolah sudah sepi. Akibat salah menganalisis target pasar dan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan karena tungku kayu rambutan harus terus menyala untuk menjaga kesiapan menu, bisnis Serabi Menor tersebut akhirnya gulung tikar.

"​Kegagalan demi kegagalan terus saya lalui hingga total ada tujuh merek bisnis yang bangkrut. Namun, saya tidak pernah berhenti mencoba sampai akhirnya saya menemukan sumur zamzam keberkahan di bisnis Kebuli Abuya ini. Dalam jangka waktu satu tahun terakhir, alhamdulillah kami sudah bisa membuka seratus outlet, dan kini kami sedang berada dalam proses untuk mewujudkan impian berikutnya, yaitu membuka cabang di Madinah agar bisa membagikan makanan secara gratis di sana. MasyaAllah, Allahu Akbar", tandas Okta Wirawan.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati