Tragisnya perang Baratayuda, Adipati Karno Gugur di Tangan Arjuna dalam Lakon "Karno Tanding"
PEMALANG - Perang Baratayuda di Padang Kurusetra mencapai titik didihnya pada puncak pertempuran antara dua saudara kandung seibu beda ayah: Adipati Karna dari kubu Kurawa dan Raden Arjuna dari pihak Pandawa. Pertunjukan wayang kulit dengan lakon Karno Tanding yang dibawakan oleh maestro dalang Ki Manteb Sudarsono (Almarhum) menyajikan drama tragis, dilema moral, serta aksi pertempuran sengit yang memukau.
1. Dilema dan Sumpah Setia Adipati Karna.
Alur cerita diawali dari perselisihan mendalam di kubu Kurawa menjelang pertempuran. Setelah gugurnya senopati-senopati Kurawa sebelumnya, Adipati Karna ditunjuk sebagai panglima perang tertinggi. Meski Karna mengetahui bahwa Pandawa adalah saudara-saudaranya dan pihak Kurawa berada di jalan yang salah, ia memilih tetap bertempur demi menepati janji serta balas budi atas kebaikan Prabu Duryodana yang telah mengangkat derajatnya.
2. Konflik Kereta Perang: Prabu Salya dan Prabu Kresna.
Sebelum melangkah ke medan perang, Karna didampingi oleh mertuanya sendiri, Prabu Salya, yang bertindak sebagai kusir keretanya. Namun, Prabu Salya yang diam-diam berpihak pada kebenaran Pandawa sering kali berselisih pendapat dan enggan melayani Karna dengan sepenuh hati. Di sisi lain, Arjuna didampingi oleh Prabu Kresna sebagai kusir kereta perang sekaligus ahli strategi penentu arah pertempuran.
3. Sengitnya Pertempuran Senjata Sakti.
Di Padang Kurusetra, kedua pahlawan papan atas ini saling berhadapan menggunakan kereta perang masing-masing. Adu panah sakti tak terelakkan. Suasana memuncak ketika Karna melepaskan panah pusaka Kunta Wijayadanu dan Arjuna membalas dengan panah-panah peninggalan para dewa.
4. Karma Kutukan dan Titik Balik Pertempuran.
Saat pertempuran mencapai puncaknya, roda kereta perang Adipati Karna mendadak terperosok ke dalam lumpur Kurusetra. Akibat kutukan masa lalu yang pernah diterimanya, Karna tiba-tiba lupa akan ilmu mantra saktinya saat hendak mengangkat kereta tersebut. Di saat yang sama, atas petunjuk Prabu Kresna, Arjuna menarik ibu panah pusakanya, Pasopati.
5. Gugurnya sang Senopati Agung.
Anak panah Pasopati melesat cepat dan mengenai leher Adipati Karna, mengakhiri hidup sang Raja Awangga di medan perang. Gugurnya Adipati Karna diabadikan sebagai simbol ksatria sejati yang gugur demi membela tanah air dan janji kesetiannya, meski harus berhadapan dengan takdir tragis melawan saudara kandungnya sendiri.
(Eko B Art).
Sumber : Rekaman pertunjukan wayang kulit Ki Manteb Sudarsono ini dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube:
http://www.youtube.com/watch?v=_RQjiiB6Bb0
Comments
Post a Comment