Tragedi Kurukshetra, Satria Muda Abimanyu Gugur dalam Kepungan Ranjapan Senjata
PEMALANG – Pertempuran legendaris Baratayuda kembali memakan korban jiwa dari kalangan perwira tinggi. Satria muda andalan Pandawa, Raden Abimanyu, dilaporkan gugur di medan laga Kurukshetra setelah terjebak dalam formasi maut Cakrawyuha yang digelar oleh pasukan Kurawa.
Tragisnya, putra dari Raden Arjuna dan Dewi Wara Sembadra ini mengembuskan napas terakhir dengan kondisi tubuh yang dipenuhi ratusan senjata musuh hingga menyerupai seekor landak.
Menurut laporan dari medan perang, Abimanyu sengaja memasuki formasi cakrawyuha demi memecah konsentrasi musuh sekaligus menyelamatkan ayah kandung dan ayah angkatnya, Werkudara, yang sempat digiring menjauh dari area utama.
Meski sempat mengamuk dan merobohkan banyak musuh menggunakan keris Kiai Pulanggeni, nasib nahas menimpa sang satria setelah kereta perangnya hancur lebur dihantam musuh.
Siasat Licik Kurawa dan Kutukan Sumpah yang Menjadi Nyata. Kematian Abimanyu tidak lepas dari siasat kontroversial yang digagas oleh Pandita Durna, Patih Sengkuni, Adipati Karna, dan Jayadrata. Pihak Kurawa sengaja mengelabui Abimanyu dengan mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Saat Abimanyu lengah karena bujukan Karna, Jayadrata secara sembunyi-sembunyi melepaskan anak panah dari arah belakang hingga membuat sang satria terluka parah. Melihat Abimanyu terjatuh, Pandita Durna langsung menginstruksikan seluruh pasukan Kurawa untuk melakukan pengeroyokan massal. Berbagai jenis senjata mulai dari panah, tombak, pedang, hingga trisula dihujankan ke arah tubuh Abimanyu.
Di detik-detik terakhirnya, Abimanyu dilaporkan tersadar bahwa kematian tragis yang dialaminya merupakan bentuk nyata dari sumpah yang pernah ia ucapkan sendiri.
Di masa lalu, demi menikahi Dewi Utari, Abimanyu sempat bersumpah bahwa jika ia berbohong mengenai status lajangnya, maka tubuhnya rela dirancap oleh segala jenis senjata di medan perang.
Perlawanan Terakhir dan Isak Tangis di Medan Laga
Meski bertubuh penuh luka, Abimanyu sempat melakukan perlawanan terakhir yang mengejutkan. Putra mahkota Astina, Lesmana Mandrakumara, yang mencoba mendekat untuk menyudahi nyawa Abimanyu, justru berhasil ditusuk menggunakan keris Kiai Pulanggeni hingga tewas di tempat. Abimanyu pun gugur tak lama kemudian dengan senyuman di bibirnya.
Kabar gugurnya Abimanyu langsung menyisakan duka mendalam bagi keluarga Pandawa. Istri pertamanya, Dewi Siti Sundari, yang mendengar kabar tersebut langsung berlari histeris ke tengah medan laga.
Didorong oleh rasa duka yang mendalam, Siti Sundari nekat mengakhiri hidupnya di samping jenazah sang suami menggunakan keris kecil (patrem) miliknya demi menyusul sang belahan jiwa.
Sementara itu, istri kedua Abimanyu, Dewi Utari, saat ini diketahui tengah mengandung tua di kerajaan Wirata. Janin yang dikandungnya kelak akan diberi nama Parikesit, yang diproyeksikan akan menjadi penerus takhta Kerajaan Astina di masa depan.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment