Sepenggal Kisah Lama Yang Nampak ​di Bawah Lampu Temaram Malam

Cerpen.

PEMALANG - ​Hujan gerimis baru saja mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan pantulan cahaya lampu jalan yang membias di kaca jendela kafe.

Mitha duduk mematung di sudut ruangan yang remang. Di depannya, secangkir kopi hitam yang tadi dipesannya kini telah dingin, menyisakan jejak lingkaran hitam di dasar cangkir—sama seperti rasa hampa yang kini mengendap di dadanya.

​Dari panggung kecil di sudut lain kafe itu, petikan gitar blues mengalun lambat dan berat. Setiap nada yang bergetar seolah menyeret Mitha kembali pada lorong-lorong ingatan yang berusaha ia hindari.

​"Dunia ini memang penuh kepalsuan," bisiknya pelan, hampir tak terdengar, tersapu riuh rendah percakapan orang-orang di sekitarnya.

​Ada rasa perih yang begitu dalam setiap kali ia mengingat janji-janji yang dulu terucap manis. Dulu, kata-kata itu terasa seperti tempat berteduh yang paling aman, dahan kokoh yang siap menopang segala kerapuhan hatinya.

Mitha menyerahkan seluruh kepercayaannya, membiarkan dirinya dilambung tinggi oleh angan-angan tentang masa depan yang indah.
​Namun, betapa rapuhnya fondasi yang dibangun di atas kata-kata. Lidah yang tak bertulang begitu mudah merangkai harapan, lalu dalam sekejap mata mematahkannya tanpa penyesalan.

Janji yang dulu terdengar suci kini menjelma menjadi sembilu, mengiris perasaannya hingga tak tersisa. Mitha merasa asing dengan dirinya sendiri—bagai seorang kembara jalanan yang kehilangan arah, terombang-ambing di tengah lautan gelora yang tak bertepi.

​"Mengapa harus terjadi peristiwa sesakit ini?" tanya hati kecilnya, menatap nanar bulir air yang perlahan menetes di kaca jendela.

​Rasa kecewa sempat membuatnya marah dan mempertanyakan segalanya. Mengapa keikhlasan yang ia berikan justru dibalas dengan pengkhianatan? Namun, di puncak rasa sakit itu, di saat hatinya hampir membeku sepenuhnya, sebuah kesadaran hening perlahan menyeruak.

​Mitha memejamkan mata sejenak, meresapi setiap detak jantungnya. Ia menyadari ada kebesaran yang jauh lebih luas dari sekadar rasa sakitnya saat ini. Jalan hidup, sejelit apa pun likunya, telah tertulis. Luka ini bukanlah akhir dari perjalanannya, melainkan sebuah persimpangan keras yang memaksanya belajar tentang ketabahan.

​Duka tidak harus dihancurkan; kadang, ia hanya perlu diterima dengan kesabaran.
​Mitha menghela napas panjang, merapikan mantelnya, lalu berdiri. Ditatapnya cangkir kopi dingin itu untuk terakhir kali, menyimbolkan masa lalu yang tak lagi bisa dihangatkan.

Ia melangkah keluar dari kafe, menyongsong angin malam yang dingin. Biarlah rasa cinta yang pernah ada terkubur tenang di masa lalu. Dengan tiap helai langkahnya yang makin mantap, Mitha memilih berjalan menuju kedewasaan baru—menyembuhkan lukanya sendiri, tanpa perlu menagih janji yang tak pernah ditepati.

Karya:
(Eko B Art).

Bila ada kesamaan Nama Tokoh dan Tempat, hanya kebetulan saja. 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati