Selama Bejana Itu Penuh Dengan Cinta Pada Dunia, Ego, Dan Harapan Pada Makhluk, Maka Cahaya Tuhan Sulit Masuk
PEMALANG - Dalam pandangan Sufi, patah hati bukan akhir. Justru sering disebut sebagai "pecahnya cangkir" supaya isinya bisa diganti.
Para sufi melihat hati manusia itu ibarat bejana. Selama bejana itu penuh dengan cinta pada dunia, ego, dan harapan pada makhluk, maka cahaya Tuhan sulit masuk. Patah hati adalah cara Allah "memecahkan" bejana itu dengan lembut.
-Mari kita dalami Perspektif Sufi tentang Patah Hati.
Kita semua pasti pernah mengalami patah hati, baik dalam bentuk kekecewaan maupun kegalauan karena keinginan yang tidak terpenuhi. Bagaimana para sufi mengomentari fenomena patah hati ini?
Mari kita jelajahi bersama.
Kita mulai dari hal yang ringan-ringan dahulu sebelum masuk ke pembahasan yang agak berat di bagian akhir. Saya awali dari pandangan Imam Syafi'i. Siapa tahu, di sinilah akar dari patah hatimu selama ini.
-Rasa Sakit Tanda Allah Sedang "Cemburu".
Imam Syafi'i pernah berkata:
"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya engkau mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya."
Mari kita pahami perlahan maksud dari Imam Syafi'i ini. Seseorang bisa patah hati karena dia kecewa pada orang lain. Kekecewaan ini muncul karena sebelumnya ada harapan yang digantungkan pada orang tersebut. Jika kamu tidak terlalu berharap, tentu kamu tidak akan terlalu kecewa. Semakin besar harapan, semakin besar pula kekecewaan yang akan dirasakan.
Besarnya harapan menunjukkan adanya kemelekatan. Jadi, jika harapanku padamu sangat besar, itu berarti aku merasa tidak bisa dipisahkan darimu. Nah, bagi siapa saja yang jargonnya saat berduaan adalah "engkaulah segalanya bagi hidupku", itu tandanya harapanmu kepada manusia sudah terlalu besar.
Hati-hati, di sini Allah menggunakan diksi "cemburu". Dalam beberapa pendapat orientalis yang agak sentimen terhadap Islam, kata "cemburu" ini sering dikonotasikan secara negatif. Padahal, cemburunya Allah itu menunjukkan betapa Dia sangat mencintai kita. Sama seperti kita manusia, kalau kita mencintai seseorang lalu orang tersebut justru melekat kepada orang lain, kita pasti merasa cemburu.
Maka, bahagialah jika kita dicemburui oleh Allah. Itu adalah bukti bahwa Allah peduli dan mencintai kita. Apa bukti kalau Allah cemburu? Hati kita dipatahkan agar kita tidak terlalu melekat pada makhluk. Kenapa hati kita bisa patah? Ya karena kemarin kita terlalu melekat, terlalu berharap, dan terlalu menginginkannya.
Secara manusiawi, wajar jika kita memerlukan orang lain, termasuk membutuhkan pasangan untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita. Namun, jangan sampai berlebihan hingga memicu kemelekatan yang tidak sehat, karena efek kekecewaannya pun akan setara besarnya.
Kemelekatan yang berlebihan ini membawa risiko buruk: kita bisa lupa pada misi utama kita di muka bumi dan melalaikan kewajiban utama dalam hidup. Akhirnya, kita hanya asyik melayani orang yang kita harapkan itu. Alhamdulillah, oleh Allah kita langsung ditegur dengan cara dibuat putus atau dipisahkan. Melalui momentum itu, kita bisa menjadi lebih bebas dan sadar bahwa, "Oh, ternyata Allah sedang cemburu. Alhamdulillah, Allah masih cinta."
Dari kutipan Imam Syafi'i ini, minimal kita memiliki tiga pijakan awal agar tidak terpuruk dalam depresi:
-Peringatan pertama: Jangan terlalu melekat pada makhluk.
-Peringatan kedua: Sadarlah bahwa Allah sangat mencintaimu.
-Peringatan ketiga: Ketika engkau patah hati, segeralah kembali kepada Allah.
Kita masih punya Allah yang justru sedang menunggu kepulangan kita. Kita saja mungkin yang selama ini terlalu "jual mahal" kepada-Nya. Itu adalah perspektif pertama dari Imam Syafi'i.
-Biarkan Hatimu Pecah.
Sekarang kita lanjutkan ke perspektif yang agak berbeda dari seorang tokoh sufi terkemuka, Maulana Jalaluddin Rumi. Ada satu kalimatnya yang sangat terkenal:
"Biarkan hatimu pecah agar dia terbuka."
Di lain tempat, ada pula ungkapan bahwa Allah itu mencintai orang-orang yang patah hati. Hal ini selaras dengan beberapa hadis yang maknanya menyatakan bahwa Allah bersama orang-orang yang lemah, orang-orang yang terpinggirkan, dan orang-orang yang sengsara—yang berarti termasuk mereka yang sedang patah hati. Satu kalimat ini saja sebenarnya sudah bisa menjadi pelipur lara bagi teman-teman yang sedang galau. Jadi, jika sedang patah hati, ucapkanlah, "Alhamdulillah, berarti sekarang aku sedang didekati dan dicintai oleh Allah."
Kenapa Maulana Rumi justru meminta kita membiarkan hati kita pecah? Beliau memberikan sebuah ilustrasi yang indah:
"Engkau menginginkan sedikit air dalam kendi tanah liat, tetapi kemudian engkau memecahkannya. Air itu akan bergabung kembali dengan danau dari mana dia berasal. Ego kita mencoba untuk mencegah pertemuan itu dan selalu menolak saran siapa pun tentang perlunya pertemuan tersebut."
Sering kali, fokus perhatian kita habis tersedot oleh keinginan, hasrat, nafsu, dan ambisi pribadi yang tidak terpenuhi. Itulah yang membuat hati kita terasa pecah dan patah. Namun, ketika hati itu patah, mengalirlah "air" menuju tempat yang sejati. Ke mana sejatinya air kembali? Tentu ke sungai atau samudra.
Sebenarnya, ketika hati kita patah, jiwa kita sedang dibukakan jalan untuk kembali kepada Yang Hakiki. Saat itulah kita diingatkan untuk kembali kepada Allah. Namun, ego kita sering kali menahan perjalanan air tersebut. Artinya, kita mati-matian berusaha agar air ini tidak mengalir ke samudra ilahi, melainkan tetap tinggal demi memenuhi kepentingan dan ego kita sendiri.
Ketika kita kecewa—misalnya karena patah hati ditinggal pasangan—energi terbesar yang kita keluarkan justru sering kali digunakan untuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa balikan. Kita lupa bahwa ada proses yang lebih ideal yang sedang ditawarkan, yaitu kembali kepada Allah.
Kata Maulana Rumi, tujuan utama dari latihan-latihan spiritual dalam tradisi mana pun, baik Timur maupun Barat, adalah untuk memungkinkan kita mengatasi keberatan yang diajukan oleh ego, sehingga kita dapat melanjutkan perjalanan menuju Samudra Persatuan (The Ocean of Oneness).
Ketika kita belajar tasawuf, melatih batin, atau menjalani suluk melalui bimbingan para mursyid dan berbagai tradisi tirakat, esensinya adalah melatih ego kita. Kita memperingatkan diri sendiri: "Wahai ego, jangan ke sana. Ada jalan yang lebih hakiki, yaitu ranah ilahiah."
Jadi, ilustrasi dari Maulana Rumi menggambarkan perjalanan batin kita seperti air di dalam kendi. Air di dalam kendi itu awalnya ditujukan untuk kita minum sendiri demi memenuhi dahaga ego kita. Ketika kita patah hati, itu rasanya seperti kendi yang pecah. Ketika kendi itu pecah, air yang semula dikekang untuk memuaskan keinginan pribadi kini keluar dan mengalir bebas.
Mengalir ini sebenarnya berdampak baik karena air tersebut akan bersatu dengan asalnya, yaitu sungai dan samudra. Namun, karena ego kita sudah terlanjur haus dan bernafsu, kita kerap berjuang mati-matian agar air itu tidak mengalir ke sungai, melainkan tetap harus memenuhi kehausan kita sendiri.
Melalui olah batin dan tasawuf, manusia disadarkan agar tidak menghalangi aliran air tersebut. Ikhlaskanlah. Inilah yang dimaksud dengan melatih ego. Maka dari itu, biarkan hatimu pecah. Sebab, itulah momentum tepat bagimu untuk kembali ke ranah ilahiah karena jalannya justru baru terbuka.
Jika hatimu tidak pernah pecah, kamu akan terus sibuk memanjakan nafsu, hasrat, dan ambisi duniawimu. Jika hatimu tidak pernah pecah, kamu akan lupa bahwa sejatinya tempat kembali kita adalah Allah.
Itulah mengapa Rumi berkata, "Biarkan hatimu pecah agar dia terbuka." Jika tidak pecah, ia tidak akan terbuka, dan kamu akan tetap asyik dengan duniamu sendiri. Begitu pecah, barulah kamu tersadar akan eksistensi yang lebih sejati. Patah hati ternyata memegang peran penting untuk menyadarkan kita bahwa dalam hidup ini ada hal yang jauh lebih hakiki, dan ke sanalah perjalanan kita yang sesungguhnya.
-Luka sebagai Jalan Cahaya.
Mari kita lanjutkan. Rumi juga mengatakan:
"Luka adalah tempat di mana cahaya memasuki jiwamu."
Ketika hati kita terluka dan patah, justru melalui celah dan retakan itulah cahaya ilahi bisa masuk. Ini adalah kelanjutan dari pembahasan tadi. Jika hatimu selalu utuh secara duniawi (terlena dengan kesenangan), mungkin kamu tidak akan pernah sadar karena cahaya tidak memiliki celah untuk masuk.
Itulah alasan mengapa Allah terasa begitu dekat dengan orang-orang yang hatinya hancur dan terluka akibat menghadapi penderitaan hidup. Sebab, pada hati yang hancur itu, terdapat rekahan tempat cahaya hidayah dan ketenangan bisa meresap. Atas dasar inilah para sufi memiliki rumus: bahkan di dalam penderitaan pun, kita tetap bersyukur. Alhamdulillah, kita masih diingatkan oleh Allah bahwa perjalanan yang hakiki adalah perjalanan menuju Dia.
Ada sebuah nasihat menarik terkait hal ini: terimalah situasimu tanpa menghakimi. Jika saat ini kamu merasa marah, takut, atau benci, biarkan saja. Rasakan dan akui hal tersebut. Katakan pada diri sendiri, "Ya, aku sedang patah hati, sedang marah, sedang takut, dan sedang benci."
Setelah kamu menyadari dan menerimanya, hadirkanlah Allah untuk menemanimu. Biarkan cahaya Allah masuk ke dalam dirimu dan menerangimu. Saat engkau benar-benar membutuhkan-Nya, pertolongan Tuhan pasti akan datang. Jika hatimu tertutup dan merasa selalu kuat sendiri, tidak akan ada ruang bagi cahaya. Perlu ada celah—dan celah itu berupa rasa tidak berdaya—agar cahaya bisa masuk.
Katakanlah dengan tulus:
"Aku tidak bisa mengatasinya ya Allah, namun Engkau pasti bisa. Maka, kupersembahkan semua rasa sakit dan luka ini hanya kepada-Mu."
Bersama-Nya, engkau akan kembali utuh. Cinta, kedamaian, dan keindahan dalam hidupmu akan bangkit kembali. Dirimu yang sejati tidak akan berkurang sedikit pun. Setelah itu, bersyukurlah.
Jadi, ketika kita sedang berada di titik terberat dalam menghadapi masalah apa pun, terimalah kenyataan itu. Biarkan hatimu pecah, lalu rasakan kehadiran-Nya di dalam dirimu. Yakinlah bahwa apa pun yang kamu butuhkan akan dipenuhi oleh-Nya. Mengadulah kepada-Nya: "Ya Allah, masalahku ini sangat berat dan aku tidak mampu memikulnya sendirian. Namun, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu, maka aku persembahkan duka, luka, dan rasa sakitku ini hanya kepada-Mu."
Insyaallah, bersama Allah kita akan kembali utuh dan menjalani hidup seperti semula. Sebenarnya, saat patah hati, kita tidak kehilangan esensi diri kita. Kita tidak berkurang apa-apa dan tetap bisa memulai lembaran baru. Ketika kita mulai merasakan betapa indahnya kebersamaan dengan Allah yang menyembuhkan itu, mari kita terus bersyukur: "Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih berkenan menemaniku di tengah situasi yang pahit dan penuh luka ini."
Itulah petunjuk dari Maulana Jalaluddin Rumi ketika kita sedang dirundung patah hati, kesedihan, atau tumpukan masalah hidup.
-Cinta dan Perpisahan.
Sekarang kita masuk ke dimensi pemahaman yang berbeda. Rumi mengatakan:
"Selamat tinggal hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya perpisahan."
Kita sering mendefinisikan patah hati sebagai momen ketika kita dijauhi, ditinggalkan, atau tidak lagi ditemani oleh seseorang. Dia tidak mau lagi dekat dengan kita, lalu kita merasa sedih. Menurut Rumi, jika kita sedih secara berlebihan karena hal tersebut, ada kemungkinan kita baru mencintai menggunakan media mata. Hanya karena tidak melihat fisiknya di sisi kita, kita langsung menganggapnya sebagai sebuah perpisahan.
Padahal, bagi orang yang benar-benar mencintai, cinta itu berteduh di dalam hati dan jiwa. Sementara itu, hati dan jiwa tidak mengenal konsep perpisahan fisik. Sejauh apa pun jarak memisahkan, engkau akan tetap hidup di dalam diriku. Maka dari itu, ucapan "selamat tinggal" sejatinya hanya berlaku bagi mereka yang cintanya sebatas pandangan mata. Bagi yang mencintai dengan hati dan jiwa, perpisahan itu fana. (Kutipan ini tentu sangat cocok dijadikan prinsip bagi mereka yang sedang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR).
Dari sisi dalam ini, kita belajar bahwa cinta yang sejati itu tidak bisa patah. Jika kita benar-benar mencintai, perpisahan fisik tidak akan mampu menghapus cinta tersebut, karena sosok yang dicintai akan selalu ada di dalam hati dan jiwa kita.
Meskipun pada kenyataannya realitas terasa berat—misalnya, orang yang kita cintai ternyata menikah dengan orang lain setelah sekian lama menjalin hubungan—fisiknya memang bersanding dengan orang lain, tetapi rasa cinta yang tulus itu tetap menjadi milikmu di dalam sini. Memang terdengar berat, tetapi teori ini setidaknya bisa menjadi penghibur agar tangisanmu tidak terlalu kencang. Namun ingat, kutipan ini jangan dikirimkan kepada mantanmu yang sudah memiliki pasangan baru, karena bisa memicu masalah baru.
-Menikmati Penderitaan.
Selanjutnya, mari kita renungkan kalimat Rumi yang sangat menarik ini:
"Biarlah sang pecinta menjadi tercela, menjadi gila, menjadi linglung. Orang yang sadar akan khawatir tentang hal-hal buruk. Biarlah sang pecinta saja."
Kalimat ini ingin menegaskan bahwa seseorang yang sudah benar-benar jatuh cinta tidak akan peduli lagi pada penilaian luar. Ia tidak peduli jika dianggap tercela, dianggap gila, atau dianggap linglung. Dalam konteks Maulana Rumi, ini tentu merujuk pada cinta ilahiah—cinta kepada Allah—meskipun pada tingkat tertentu, cinta kepada sesama manusia terkadang bisa mendekati level ini.
Orang normal yang mengedepankan logika formal biasanya tidak suka jika disebut gila, bingung, atau tidak waras. Namun, seorang pecinta sejati tidak akan ambil pusing. Disebut tidak waras tidak masalah, disebut gila tidak apa-apa, dianggap keras kepala pun silakan. Mereka tidak peduli.
Ini mirip dengan dialog terkenal dalam fiksi, "Biar aku saja, kamu tidak akan kuat." Seorang pecinta akan berkata demikian terhadap jalan cinta yang terjal. Sudahlah, biarkan bagian yang dinilai gila dan linglung itu menjadi urusanku saja; orang normal tidak akan kuat melaluinya.
Artinya, segala kegalauan, kegelisahan, dan kepedihan akibat patah hati adalah hal yang biasa bagi seorang pecinta. Hal itu tidak akan membuatnya risau secara berlebihan, karena dia tidak merasa kehilangan atau kekurangan apa pun dari cinta yang ada di dalam dirinya.
Jika diistilahkan dengan bahasa saya, jika kalian memiliki kemampuan ini, kalian akan bahagia: kemampuan menikmati penderitaan.
Rumi, yang terkenal dengan tarian Sufi berputar (Whirling Darwishes), pernah berpesan:
"Menarilah saat lukamu terbuka. Menarilah saat kamu telah merobek perbannya. Menarilah di tengah pertempuran. Menarilah dalam darahmu. Dan menarilah pula saat kamu benar-benar bebas."
Melalui ungkapan ini, Rumi menggambarkan betapa terjal dan berliku jalan cinta itu. Engkau akan terluka berkali-kali, tetapi pesan beliau: tetaplah menari. Menarilah di tengah pertempuran dan menarilah bahkan dalam darahmu (kesedihanmu). Sebab, ketika kamu mampu melampaui dan menikmati segala bentuk penderitaan tersebut, pada akhirnya engkau akan mencapai kebebasan yang sejati.
Tarian berputar yang sangat masyhur itu pertama kali lahir dari kedalaman rasa sedih dan galau Rumi saat kehilangan gurunya spiritualnya, Syekh Syamsuddin al-Tabrizi. Ketika sedang berjalan di pasar pandai besi dan mendengarkan ketukan besi yang menempa, dentuman tersebut beresonansi dengan kesedihan di hatinya, hingga tubuhnya bergerak dengan sendirinya secara spontan. Kita bisa menyebutnya sebagai gerakan yang lahir dari rahim kesedihan. Namun, kesedihan yang telah bertransformasi menjadi kepasrahan mutlak.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment