​Rahasia Otak dan Perasaan: dr. Aisah Dahlan Ungkap Mengapa Anak Perlu Diperlakukan Baik Sejak dalam Kandungan

PEMALANG – Mengelola pikiran dan perasaan positif kini menjadi topik yang sangat diminati masyarakat. Menanggapi fenomena ini, pakar neuroparenting, dr. Aisah Dahlan, memberikan pemaparan mendalam mengenai bagaimana luar biasanya sistem otak manusia bekerja, serta bagaimana memori dan emosi negatif masa lalu—atau yang kini populer dengan istilah inner child—terbentuk sejak manusia masih berada di dalam rahim.


​Dalam sebuah seminar, dr. Aisah Dahlan menjelaskan bahwa manusia dibekali dengan potensi otak yang luar biasa sejak lahir. Di dalam otak manusia, terdapat sekitar 100 miliar sel otak (neuron) yang bekerja menyerupai komputer.

​"Kata para ahli, 100 miliar komputer yang ada di otak kita, sampai umur 100 tahun pun belum semuanya terpakai," ujar dr. Aisah Dahlan, melansir dari saluran YouTube.

​Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap satu sel otak mampu membuat hingga 20.000 sambungan dengan sel lainnya. Sambungan-sambungan ini bekerja melalui peristiwa kimia dan listrik yang sangat cepat, yakni mencapai 2 juta sambungan per detik. Segala hal yang dilihat, didengar, dihirup, dicecap, diucapkan, dan dilakukan oleh manusia akan direkam dan masuk ke dalam otak dalam bentuk sambungan-sambungan saraf tersebut.

​Karena mekanisme kerja otak yang berbasis repetisi (pengulangan) inilah, dr. Aisah menekankan pentingnya kesabaran orang tua dalam menasihati anak. Orang tua tidak perlu lelah atau marah jika harus mengulang nasihatnya berkali-kali.

​"Otak perlu diulang-ulang supaya apa? Supaya tambah paham. Kalau baru 1 sampai 5 kali disampaikan, itu baru tahu. Sudah tahu, diulang-ulang supaya paham. Paham juga mesti separuh-separuh, kadang dikerjakan kadang tidak. Maka perlu diulang-ulang supaya sampai sadar," jelasnya.

​Memori Inner Child Dimulai Sejak dalam Rahim, ​Fakta yang tidak kalah mengejutkan adalah bahwa perekaman memori di otak manusia sudah dimulai sejak dini, tepatnya ketika janin baru berusia dua minggu di dalam kandungan ibu. dr. Aisah mengingatkan bahwa janin tidak hanya menyerap nutrisi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi ibunya, tetapi juga merekam apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh sang ibu.

​Oleh karena itu, ia mengimbau para ibu hamil untuk menjaga lisan, visual, dan emosinya agar tetap positif. Pengaruh lingkungan sekitar, termasuk suara ayah atau kehadiran anggota keluarga lain, juga terekam kuat oleh janin. Perekaman memori ini terus berlanjut secara intensif dari masa bayi, kanak-kanak, hingga sesaat sebelum baligh, yang membentuk memori masa kecil atau inner child.

​Namun, dr. Aisah tidak menampik bahwa tidak semua rekaman masa kecil berjalan dengan indah. Banyak manusia yang menyimpan luka pengasuhan masa lalu, atau yang secara global dikenal dengan istilah wounded inner child. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari stres yang dialami ibu saat hamil, konflik orang tua yang disaksikan oleh anak sejak bayi, hingga bentakan atau gertakan yang diterima anak saat masa pertumbuhan.

​Berdasarkan pengalamannya sejak tahun 1998 dalam menangani kasus anak bermasalah dan penyimpangan perilaku melalui metode hipnoterapi, dr. Aisah sering menemukan bahwa akar masalah seorang anak kerap kali bersumber dari memori traumatis yang terekam sejak mereka masih berada di dalam rahim atau akibat pola asuh yang kurang tepat di masa kecil.

​Hal inilah yang kerap memicu konflik batin pada anak di masa depan. Meskipun anak-anak sudah diajarkan secara agama untuk menghormati orang tua, rekaman emosi negatif atau luka pengasuhan yang masuk terlebih dahulu ke otak mereka sering kali membuat mereka menyimpan kemarahan atau kenangan buruk.

​Melalui pemaparan ini, dr. Aisah Dahlan mengajak para orang tua untuk terus belajar memahami ilmu parenting dan senantiasa membangun lingkungan yang positif demi menjaga kesehatan mental serta perkembangan otak anak sejak dini.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati