Perjalanan Menuju Tuhan Itu Jauh, Jangan Habiskan Waktu Mengurus Dosa Orang Lain

PEMALANG — Di era digital saat ini, media sosial sering kali menjebak penggunanya dalam pusaran informasi yang tidak perlu. Fenomena information overload ini dinilai tidak hanya memicu stres secara mental, tetapi juga merusak ketahanan spiritual seseorang. Hal tersebut disampaikan oleh pendakwah pendiri konten kreatif, Habib Jafar, dalam sebuah tayangan podcast terbaru.

​Habib Jafar mengingatkan kembali kutipan ulama besar Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad mengenai hakikat kehidupan manusia. Beliau menegaskan bahwa perjalanan spiritual seorang hamba menuju Sang Pencipta teramat panjang, sementara modal atau bekal yang dimiliki manusia sangatlah terbatas.

​"Perjalanan hidup kita menuju Tuhan itu begitu jauh, sedangkan bekal kita itu begitu sedikit. Umur kita mungkin hanya 60 hingga 80 tahun. Maka, mengapa kita harus membuang-buang waktu dengan sesuatu yang tidak perlu kita dengar dan ketahui?" ujar Habib Jafar.

Terjebak Algoritma dan Aib Orang Lain
​Menurutnya, salah satu ancaman terbesar dari algoritma media sosial saat ini adalah pemaksaan secara tidak langsung kepada pengguna untuk mengetahui urusan yang bukan porsinya. Hal ini memicu suburnya sifat buruk dasar manusia, seperti merasa senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang (schadenfreude).
​Habib Jafar mengaku telah meninggalkan platform tertentu seperti Twitter (X) dalam dua hingga tiga tahun terakhir demi menjaga kedaulatan pikiran dan kesehatan jiwanya dari tren yang mengeksploitasi aib sesama.

​"Kita punya urusan sendiri, ngapain ngurusin urusan orang lain? Kita punya dosa sendiri, kenapa sibuk dengan dosa orang lain?" tuturnya. Ia menambahkan bahwa salah satu jebakan dosa yang paling sering dijumpai di jagat maya adalah suuzon atau prasangka buruk yang kemudian diyakini sebagai sebuah kebenaran nyata.

​Membangun "Perahu" Algoritma dan Mengutamakan Silaturahmi
​Untuk mengatasi dampak buruk ledakan informasi (information overload), Habib Jafar mengibaratkan situasi saat ini seperti zaman Nabi Nuh. Jika dahulu Nabi Nuh menghadapi banjir air, manusia modern saat ini menghadapi banjir informasi.

​"Cara selamatnya Nabi Nuh adalah bikin perahu untuk mengendalikan banjir. Kita juga harus bikin perahu untuk mengendalikan informasi. Apa perahu itu? Algoritma," jelasnya. Ia menyarankan pengguna untuk mendikte algoritma media sosial secara sengaja—misalnya dengan hanya mencari konten-konten edukasi atau keagamaan agar linimasa tetap membawa dampak positif.

​Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk mengurangi interaksi berlebih dengan ponsel dan kembali menghidupkan tradisi silaturahmi secara langsung untuk menggugurkan segala bentuk prasangka.

​"Letakkan HP-mu. Datangi saudaramu, tetanggamu, temanmu, dan berceritalah, berpelukan, menangislah, tertawalah. Jangan hiraukan HP-mu karena dia terlalu banyak menyita waktu dan membuat hidup kita bukan hanya sia-sia, tapi berbahaya," pungkas Habib Jafar.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati