Pedang Pertama yang Terhunus untuk Islam & Gelar Hawari
PEMALANG - Awal Kehidupan dan Nasab yang Mulia sahabat Nabi Zubair bin Awwam lahir dari kabilah terhormat Quraisy. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Qusyai bin Kilab. Ibundanya adalah Safiyah binti Abdul Muthalib (bibi Nabi), sementara ayahnya, Al-Awwam bin Khuwailid, merupakan saudara laki-laki Khadijah binti Khuwailid.
Sejak kecil, Zubair dididik secara keras dan disiplin oleh ibunya agar tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, pemberani, dan mampu menjadi pemimpin pasukan yang tangguh.
Masuk Islam dan Menghadapi Siksaan, Zubair memeluk Islam pada usia sangat muda, sekitar 15–16 tahun, melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddiq. Keputusannya ini membuatnya mendapat siksaan berat dari pamannya, Naufal bin Khuwailid. Ia digulung dalam tikar pandan dan diasapi dari bawah. Meski dipaksa kembali ke agama berhala, Zubair dengan tegas menolak dan mempertahankan keimanannya.
Pedang Pertama yang Terhunus untuk Islam & Gelar Hawari.
Zubair ikut serta dalam hijrah pertama ke Habasyah. Saat berada di Mekah, sempat beredar rumor bahwa Rasulullah SAW ditangkap atau dibunuh. Mendengar hal itu, Zubair langsung menghunus pedangnya dan berlari menyusuri jalanan Mekah. Momen ini menjadi sejarah sebagai sebilah pedang pertama yang terhunus demi membela Islam. Melihat kesetiaannya, Rasulullah SAW mendoakan Zubair dan memberinya gelar kehormatan sebagai Hawari (pembela setia).
Peran dalam Berbagai Pertempuran Besar, Zubair selalu berada di barisan terdepan dalam setiap medan pertempuran:
-Perang Badar: Bertindak sebagai salah satu komandan kavaleri berpakaian khas dengan serban kuning. Ia berhasil mengalahkan jagoan Quraisy, Ubaidah bin Said bin Al-As, dengan tancapan tombak yang presisi.
-Perang Uhud: Menjadi perisai hidup bagi Rasulullah SAW saat situasi genting, hingga tubuhnya dipenuhi luka tebasan dan tusukan.
-Perang Khandaq: Sukses menyusup sendirian ke benteng pasukan sekutu di tengah malam yang dingin untuk mengumpulkan informasi krusial.
-Penaklukan Khaibar: Berduel dan menewaskan Yasir, jagoan Yahudi Khaibar.
-Fathu Mekah: Ditunjuk sebagai pemegang panji perang kaum Muhajirin dan memimpin salah satu sayap pasukan memasuki Mekah secara damai.
Kedermawanan dan Pengabdian Pasca Wafatnya Nabi. Pasca wafatnya Rasulullah SAW, Zubair terus membela Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ia terlibat dalam Perang Yarmuk dan penaklukan Mesir. Meskipun menjadi pedagang yang sangat kaya raya, ia terkenal amat dermawan dan menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Peristiwa Perang Jamal dan Akhir Hayat yang Tragis, Pada masa fitnah besar pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Zubair berada di kubu Aisyah RA. Namun, dalam peristiwa Perang Jamal, Ali bin Abi Thalib mengingatkan Zubair akan sabda Rasulullah SAW bahwa kelak Zubair akan memerangi Ali dalam keadaan keliru. Begitu teringat sabda Nabi tersebut, Zubair langsung menyesal dan memutuskan mundur dari medan perang.
Saat dalam perjalanan kembali menuju Madinah, Zubair bin Awwam dibunuh secara licik saat sedang berada di Lembah Singa (Wadi Asibah) oleh Amr bin Jurmuz. Ketika pedang Zubair dibawakan kepada Ali bin Abi Thalib, Ali mencium pedang tersebut sambil menangis dan mengenang bagaimana pedang itu telah lama membela Rasulullah SAW.
Perjalanan hidup Zubair bin Awwam penuh dengan keberanian, pengorbanan, kedermawanan, serta ketundukan pada kebenaran, yang menjadikannya salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment