​Menguak Selera Musik dari Kacamata Neurosains: Antara Pengalaman, Evolusi, dan Mitos "Efek Mozart"

PEMALANG – Mengapa seseorang bisa sangat menyukai musik dangdut sementara yang lain lebih memilih musik klasik? Mengapa pula sebuah rangkaian nada bisa membuat bulu kuduk meremang atau justru memicu rasa damai? Pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai estetika seni dan bagaimana manusia merespons musik ini dikupas tuntas melalui sudut pandang neurosains.

​Hubungan antara otak manusia dan musik ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan "enak" atau "tidak enak" didengar. Selera musik bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan hasil rajutan evolusi dan tumpukan pengalaman hidup yang terekam erat di dalam struktur otak kita.

​Evolusi Otak dan "Sihir" Nada Pentatonik.
​Secara evolusioner, manusia adalah satu-satunya spesies yang benar-benar mengenal dan merespons musik sebagai sebuah kesatuan estetika. Meskipun simpanse atau bonobo adalah kerabat genetis terdekat kita, otak mereka tidak memiliki kemampuan untuk merespons rangkaian nada menjadi sebuah lagu.

​Beberapa spesies hewan memang memiliki sensitivitas terhadap elemen suara tertentu. Burung kakatua, misalnya, mampu merespons ketukan (beat) dan menari mengikutinya, namun mereka akan kehilangan respons tersebut jika ketukan itu dihilangkan dan diganti dengan alunan melodi.

​Bagi manusia, otak telah berevolusi untuk sangat akrab dengan rangkaian nada tertentu, salah satunya adalah skala pentatonik. Dalam dunia musik, seorang pemain saksofon yang melakukan improvisasi biasanya akan tetap bermain di dalam koridor pentatonik agar melodinya tetap terdengar nyaman di telinga. Ketika nada keluar terlalu jauh dari jalur tersebut, otak manusia cenderung menerjemahkannya sebagai sesuatu yang tidak harmonis.

​Selera Musik adalah Rekonstruksi Memori
​Ketika kita mendengarkan sebuah lagu kesukaan, tidak ada satu area tunggal di otak yang bekerja sendirian. Musik mengaktifkan hampir seluruh bagian otak secara simultan:
-​Timbre (warna suara) dan nada diolah di primary auditory cortex.
-​Irama dan ketukan diproses di area hipotalamus.

​Asosiasi emosional dan kenangan saat pertama kali mendengar lagu tersebut disimpan rapat di dalam amigdala dan hipokampus.
​Oleh karena itu, selera musik sebenarnya adalah perjalanan pengalaman tubuh.

"Seseorang tidak akan bisa menilai suatu rasa atau melodi jika tidak pernah terekspos olehnya. Ketika kita mendengarkan kembali sebuah lagu, otak kita sebenarnya sedang merekonstruksi memori dan emosi masa lalu yang terkait dengan lagu tersebut".

​Proses inilah yang menjelaskan mengapa apresiasi seni bersifat sangat personal. Di sisi lain, hal ini juga mendasari lahirnya kreativitas: para musisi menciptakan karya baru dengan cara meramu ulang memori-memori lama mereka ke dalam format yang baru.

​Estetika Musik: Kesepakatan Sosial yang Fleksibel.
​Seringkali kita mengaitkan tangga nada mayor dengan nuansa ceria dan tangga nada minor dengan nuansa sedih. Namun, neurosains memandang bahwa asosiasi emosi ini sebenarnya hanyalah sebuah kesepakatan budaya, bukan hukum mutlak otak.

​Sebagai contoh, dalam tradisi upacara Ngaben di Bali, musik yang dimainkan justru didominasi oleh nada-nada mayor yang riang, meskipun situasi tersebut adalah momen kedukaan. Bagi masyarakat Bali, pengalaman kolektif otak mereka merekonstruksi nada mayor tersebut sebagai bentuk pengantaran jiwa yang damai, berbeda dengan masyarakat umum yang mengidentifikasi kesedihan lewat nada minor.

​Meluruskan Mitos: "Efek Mozart" pada Janin Ternyata Hoax
​Salah satu bahasan paling menarik dalam diskusi ini adalah pelurusan mitos seputar Mozart Effect—kepercayaan populer bahwa memperdengarkan musik klasik (seperti karya Mozart) kepada bayi di dalam kandungan dapat meningkatkan kecerdasannya.

​Secara tegas, penjelasan neurosains menyatakan bahwa hal tersebut adalah mitos baru (hoax). Secara biologis, janin di dalam kandungan belum memiliki kemampuan untuk mendengar dan mencerna struktur musik klasik secara utuh.
​Penelitian awal mengenai Mozart Effect sebenarnya hanya diujikan pada sekelompok mahasiswa untuk mengukur kecerdasan spasial jangka pendek mereka. Itu pun berlaku spesifik bagi mereka yang memang sejak kecil sudah akrab dengan musik klasik. Jika tes yang sama dilakukan pada kelompok masyarakat lain dengan memperdengarkan musik koplo, hasilnya tentu akan berbeda.

Justru ​Kuncinya Ada pada Kenyamanan Ibu.
​Meskipun musik klasik tidak langsung membuat janin pintar, musik tetap memiliki peran tidak langsung yang sangat penting selama masa kehamilan. Kuncinya terletak pada kenyamanan sang ibu:
​Jika seorang ibu hamil merasa tenang, bahagia, dan nyaman saat mendengarkan jenis musik apa pun—baik itu gamelan, pop, bahkan musik rock sekalipun—tubuhnya akan melepaskan hormon-hormon positif yang secara langsung memberikan dampak baik bagi tumbuh kembang janin.

​Pada akhirnya, pengaruh musik terhadap produktivitas kerja maupun relaksasi bersifat sangat subjektif. Tidak ada satu jenis musik universal yang bisa meningkatkan produktivitas semua orang. Semua kembali pada kebutuhan spesifik tubuh masing-masing individu dan bagaimana otak mereka menerjemahkan keindahan suara tersebut.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati