​Menggali Kedigdayaan Sejati Lewat Pitutur Luhur Raden Mas Panji Sosrokartono

PEMALANG — Peradaban Jawa tidak hanya menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang, tetapi juga warisan spiritualitas dan falsafah hidup yang mendalam. Dalam gelaran Ngaji Filsafat yang diampu oleh Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag., bahasan mengenai konsep kesaktian dan kedigdayaan masyarakat Jawa masa lalu dibedah melalui pandangan hidup Raden Mas Panji (R.M.P.) Sosrokartono, seorang tokoh spiritual sekaligus kakak kandung dari R.A. Kartini.


​Menurut Dr. Fahruddin Faiz, konsepsi kesaktian orang Jawa masa lalu sering kali disalahpahami sekadar sebagai hal gaib atau mistis semata. Padahal, jika ditelisik dari epistemologi Timur, kedigdayaan tersebut lahir dari olah batin dan kemampuan mengolah daya-daya internal manusia—seperti intuisi, naluri, nurani, dan pasrah—yang saat ini kerap tergerus oleh pola pikir modern yang serba rasional dan bergantung pada materi luar.

​Tiga Fondasi Identitas Jawa
​Dalam ceramahnya, Fahruddin Faiz menguraikan tiga prinsip dasar yang menjadi pedoman perilaku (orientasi hidup) menurut R.M.P. Sosrokartono:
-​Jawa Bares: Menjadi pribadi yang jujur, lugu, dan apa adanya tanpa dibuat-buat.
-​Jawa Deles: Menjadi manusia yang utuh, konsisten, dan tidak hanya mengambil keuntungan sesaat dalam memegang nilai-nilai kebaikan.
-​Jawa Sejati: Menghayati nilai-nilai keutamaan hingga ke dalam jiwa, bukan sekadar tampil secara lahiriah atau acting semata.

​Empat Ajaran "Kedigdayaan Sejati"
​Salah satu warisan pemikiran Sosrokartono yang sangat populer dan penuh makna spiritual adalah empat pilar kesaktian sejati:
-​Sugih Tanpa Bonda: Kaya tanpa harus bergantung pada harta benda. Kekayaan sejati terletak pada rasa cukup (qana'ah) dan jiwa yang tidak diperbudak oleh keinginan materi.
-​Digdaya Tanpa Aji: Sakti tanpa jimat atau kekuatan luar. Kesaktian ini berlandaskan pada tiga hal: tekad yang kuat, ilmu pasrah, dan keyakinan penuh pada keadilan Tuhan.
-​Nglurug Tanpa Bala: Menyerang atau mendatangi musuh tanpa perlu membawa pasukan. Penaklukan dilakukan bukan dengan kekerasan, melainkan melalui tekad kasih sayang (tekad asih), kebaikan, dan kepedulian.
-​Menang Tanpa Ngasorake: Memperoleh kemenangan tanpa merendahkan atau menghinakan pihak yang kalah, sehingga tercipta harmoni dan kedamaian bersama.
-​Mengabdi pada Sesama dan "Ilmu Kantong Bolong"
​Fahruddin Faiz juga menyoroti bahwa puncak dari jalan spiritual Sosrokartono adalah pengabdian sosial. Tugas utama manusia di dunia diarahkan untuk Ngawula dateng kawulaning Gusti (mengabdi kepada sesama hamba Tuhan) dan Memayu hayuning urip (membuat kehidupan menjadi lebih indah).

​Prinsip tersebut ditutup dengan ajaran Ilmu Kantong Bolong—sebuah simbolistik kepedulian sosial di mana seseorang tidak lagi terikat oleh rasa memiliki. Ketika rezeki atau kebaikan masuk ke dalam "kantong" hidupnya, hal itu segera mengalir keluar untuk membatu dan meringankan beban sesama yang membutuhkan tanpa pamrih dan tanpa hitung-hitungan egoistis.

​Melalui penelusuran filosofis ini, Ngaji Filsafat mengajak pendengar untuk merefleksikan kembali kekuatan batin, ketentraman jiwa, dan kepedulian sosial sebagaii inti dari "kesaktian" manusia Indonesia di era modern.

(Eko B Art). 



Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati