Mengenal Kapitayan, Sistem Kepercayaan Purba di Tanah Jawa
PEMALANG - Banyak orang mengira bahwa spiritualitas masyarakat Jawa kuno barulah dimulai ketika agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara. Namun, berbagai penelitian sejarah—salah satunya oleh KH. Agus Sunyoto—menemukan bukti adanya sistem kepercayaan asli yang usianya jauh lebih tua: Kapitayan.
Secara sosiologis, Kapitayan lebih tepat disebut sebagai sistem kepercayaan ketimbang "agama", mengingat definisi kata agama sering kali merujuk pada institusi modern. Keberadaan Kapitayan menjadi bukti autentik bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah masyarakat yang religius dan berketuhanan sejak purbakala. Sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa," memiliki akar historis yang sangat kuat dalam sanubari leluhur kita.
Melansir dari https://www.youtube.com/watch?v=GzU5nzbKyKw, disebutkan bahwa "Akar Sejarah dan Bukti Arkeologis Sistem kepercayaan Kapitayan", disinyalir telah tersebar luas di wilayah Asia Tenggara, India, hingga Tiongkok Selatan sejak Zaman Batu (Paleolitikum, Mesolitikum, hingga Megalitikum), sekitar 50.000 hingga 10.000 tahun sebelum Masehi.
Di Pulau Jawa, jejak kapitayan dapat diidentifikasi melalui berbagai fosil dan artefak megalitik, seperti:
Dolmen: Meja batu tempat meletakkan sesaji.
Menhir: Tugu batu untuk pemujaan roh leluhur.
Sarkofagus: Peti jenazah dari batu.
Keberadaan artefak ini menunjukkan bahwa manusia cerdas (Homo sapiens) yang mendiami Nusantara kala itu—seperti penemuan manusia purba di Tulungagung (Wajakensis), Ngandong (Solo), hingga Flores—sudah memiliki kesadaran spiritual yang tinggi.
Konsep Teologi: Sang Hyang Taya yang Abstrak
Hal yang paling mengagumkan dari Kapitayan adalah konsep ketuhanannya yang sangat abstrak dan matang. Tuhan dalam Kapitayan disebut sebagai Sang Hyang Taya.
Arti Kata "Taya":
Taya berarti tidak terbayangkan, tidak terjangkau, absolut, mutlak, atau tidak bisa digapai oleh pancaindra.
Masyarakat Jawa kerap mengistilahkannya dengan ungkapan "Tan Keno Kinoyo Ngopo" (tidak bisa digambarkan seperti apa pun). Konsep ini sangat mirip dengan prinsip Laisa Kamitslihi Syai'un dalam teologi Islam. Begitu abstraknya, sehingga atribut Tuhan ini juga sering dikaitkan dengan istilah Suwung atau Awang-Uwung (kekosongan yang berisi).
Secara etimologi, kata Kapitayan berakar dari kata dasar Pityo (atau Piandel), yang dalam kamus bahasa Jawa modern bertransformasi menjadi kata Percaya atau Keyakinan.
Manifestasi Daya Ketuhanan: Konsep "Tu" atau "To"
Agar Sang Hyang Taya yang abstrak itu dapat dikenali oleh manusia, Ia memanifestasikan diri-Nya (tajalli) bukan dalam bentuk fisik, melainkan melalui daya atau kekuasaan-Nya. Daya ketuhanan ini disebut dengan istilah Tu atau To.
Dalam struktur teologinya, Sang Hyang Taya memanifestasikan diri menjadi Sang Hyang Tunggal (Tuhan yang Esa yang mulai bisa diidentifikasi). Sang Hyang Tunggal ini kemudian memiliki dua perwujudan energi di dunia:
Sang Hyang Wenang: Manifestasi daya ketuhanan yang membawa kebaikan, kenikmatan, keindahan, dan anugerah.
Sang Hyang Manikmaya: Manifestasi daya ketuhanan yang membawa ujian, keduniawian, dan hal-hal yang dianggap negatif oleh manusia.
Dalam kajian spiritual yang lebih dalam, konsep Tu atau To sebagai pancaran awal ini memiliki kedekatan konsep dengan Nur Muhammad dalam dunia tasawuf Islam.
Meluruskan Mitos Animisme dan Dinamisme
Ketika para sejarawan kolonial Belanda datang, mereka sering kali salah kaprah dan langsung melabeli kepercayaan Jawa kuno sebagai Animisme dan Dinamisme (menyembah pohon, batu, atau roh).
Padahal, masyarakat Jawa kuno tidak menyembah benda mati tersebut. Mereka menghormati benda-benda atau tempat tertentu karena meyakini adanya daya ketuhanan (Tu / To) yang bersemayam di baliknya. Oleh karena itu, semua hal yang dianggap memiliki kekuatan spiritual dalam budaya Jawa hampir selalu menggunakan suku kata Tu atau To, misalnya:
Benda & Tempat Keramat: Watu (batu), Tugu, Tunggul (bendera/panji), Tumbak, Tosan (senjata pusaka), Tuk (mata air).
Sarana Ritual Sembahyang: Tumpeng, Tumpi (kue tepung yang kini diubah wali menjadi apem), Tumbu (wadah bambu), Tukung (ayam ingkung).
Kesimpulan
Nenek moyang Jawa tidak sekadar menyembah pohon atau batu secara naif. Mereka memiliki bangunan teologi yang sangat mendalam. Di balik seonggok sesaji (sajen) atau tumpeng, terdapat simbol dan makna spiritualitas yang tinggi untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Berkat fondasi spiritual yang kuat inilah, para Wali Songo di kemudian hari dapat melakukan dakwah Islam dengan cara mengadopsi budaya-budaya Kapitayan ini dan meluruskan maknanya tanpa harus melakukan kekerasan budaya.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment