Mengeluh atau Lakukan Saja? Menakar Logika Kewajiban di Usia 20-an
PEMALANG - Perdebatan mengenai efektivitas kerja berbasis perasaan (feeling) versus logika kewajiban kini tengah hangat diperbincangkan. Fenomena generasi muda, khususnya di rentang usia belasan hingga 20-an, yang kerap mengunci potensi diri dengan dalih "tidak cocok" atau "belum mampu" dinilai sebagai kekeliruan fatal dalam membangun kapabilitas diri.
Di fase produktif awal, seseorang tidak boleh membatasi opsi eksplorasi diri (locking capacity) hanya karena merasa belum siap. Standar yang menonjolkan aspek perasaan kerap kali bertolak belakang dengan prinsip logika tindakan yang diadopsi dalam manajemen taktis.
Jika memang sesuatu itu harus dilakukan karena kondisi mendesak—misalnya organisasi kekurangan SDM namun dihadapkan pada lonjakan target kerja—maka lakukan saja. Tolok ukur asli baru terbukti setelah tindakan itu dieksekusi, bukan dari asumsi sebelum bertindak.
Eksperimen Psikologis: Bahaya Persepsi Diri. Ada Sebuah penelitian psikologis mengenai persepsi diri memberikan gambaran nyata tentang bagaimana pikiran bisa menjebak manusia. Dalam eksperimen tersebut, sejumlah partisipan dirias dengan efek luka bakar (codet) palsu di wajah mereka sebelum menjalani sesi wawancara kerja.
Setelah selesai, para partisipan merasa didiskriminasi dan dipandang remeh oleh pewawancara karena luka tersebut. Namun fakta yang sebenarnya mengejutkan: tepat sebelum memasuki ruang wawancara, riasan luka tersebut telah dihapus total tanpa sepengetahuan mereka.
Artinya, hambatan itu hanya ada di kepala mereka sendiri. Mereka berpikir mereka cacat, maka mereka merasa diremehkan. Hal ini membuktikan bahwa persepsi diri yang buruk secara otomatis akan membatasi opsi-opsi keberhasilan dalam kehidupan nyata.
Menakar Fenomena "I Do It Anyway", Tren mentalitas Generasi Z saat ini juga tidak luput dari perhatian. Banyak kreator konten maupun pekerja muda yang kerap mengeluh di media sosial, namun tetap menyelesaikan tugasnya dengan tameng narasi "I do it anyway" (tetap gue lakuin).
Sikap mengeluh di depan lalu ditutup dengan "I do it anyway" karena Allah (lillah), itu masih tergolong lumayan bagus. Urutan penyampaian di akhir tindakan memegang pengaruh psikologis yang sangat kuat, karena kalimat terakhir yang diucapkan adalah yang akan menempel di kepala.
Sebaliknya, pola yang berbahaya adalah ketika seseorang mengawali dengan "I do it anyway" namun terus mengeluh di akhir proses. Akhiran yang negatif inilah yang akan merusak mentalitas kerja. Jauh lebih ideal jika keluhan tersebut cukup disimpan untuk diri sendiri, sementara yang ditampilkan keluar adalah pembuktian hasil kerja.
Pada akhirnya, seseorang tidak bergerak karena merasa mampu atau tidak merasa cocok, melainkan karena sebuah kewajiban yang masuk akal (logic of necessity). Menepis sindrom imposter dan rasa tidak aman (insecure) adalah kunci utama bagi para pembelajar cepat di era modern.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment