​Mengapa Pejabat Korup Meski Sudah Disumpah? Menilik "Mekanisme Sumpah" dari Kacamata Esoterik

PEMALANG — Fenomena pejabat publik yang tetap melakukan tindak pidana korupsi meskipun telah bersumpah lantang di bawah kitab suci dan disaksikan jutaan pasang mata, terus memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat. Mengapa sumpah jabatan yang sakral kini seolah kehilangan taringnya dan kerap dianggap sebatas formalitas belaka?

​Dalam sebuah perbincangan mendalam, sebuah perspektif menarik dihadirkan untuk membedah "mekanisme" di balik runtuhnya kesakralan sumpah di era modern. Sudut pandang ini mengajak publik bergeser sejenak dari analisis sains formal dan hukum positif, menuju pendekatan esoterik dan konsep kesadaran (consciousness).

​Sumpah Zaman Dulu vs Formalitas Zaman Sekarang.
-​Jika menilik sejarah atau cerita rakyat—mulai dari konsep Bushido para samurai hingga legenda Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu—sumpah di masa lampau memiliki daya magis dan konsekuensi instan yang sangat berat. Di tanah Jawa, fenomena ini dikenal dengan istilah Sabdo Dadi—apa yang diucapkan dari mulut manusia bisa langsung mewujud menjadi kenyataan.

​Namun, mengapa efek mengerikan dari sumpah tersebut tidak lagi terlihat pada para koruptor hari ini?
-​Rahasianya terletak pada perbedaan mendasar antara "janji" dan "sumpah". Janji adalah komitmen yang dibuat oleh ego atau hubungan dari diri ke diri manusia. Sementara itu, sumpah sejati melibatkan koneksi dengan kesadaran yang jauh lebih tinggi atau komunal (higher consciousness). Dalam literasi sufisme yang merujuk pada pemikiran Ibnu Arabi, ruang ini disebut sebagai dimensi Jabarut (alam akal atau alam ide kolektif).

​Tergulung Kesadaran yang Menyempit.
-​Sumpah hanya akan memicu konsekuensi alam atau takdir ketika orang yang mengucapkannya memiliki frekuensi yang sinkron dengan alam semesta atau kesadaran ketuhanan. Ketika seseorang bersumpah atas nama Tuhan atau demi bangsa, kesadarannya seharusnya meluas melampaui kepentingan pribadinya.

​Sayangnya, manusia modern hari ini dinilai mengalami kedangkalan kesadaran akibat terlalu banyak distraksi digital. Sehari-hari, manusia lebih banyak berinteraksi dengan ciptaan manusia (seperti gawai dan media sosial) ketimbang terhubung dengan alam raya. Akibatnya, kesadaran manusia mengerdil dan terkungkung pada ego personalnya sendiri.

​Ketika seorang pejabat korup bersumpah, kalimat lantang yang keluar dari mulutnya hanyalah omongan satu detik yang tidak mewakili ruang kesadaran yang luas ke masa depan. Sumpah tersebut sekadar diucapkan untuk memenuhi syarat sistem buatan manusia, bukan karena ia benar-benar "menyambungkan" dirinya dengan esensi Tuhan yang ia sebut namanya.

Singkatnya, di bibir mereka ada nama Tuhan, namun di dalam kesadarannya, koneksi itu terputus (disconnect).

Menabung Ketidaksinkronan terhadap Alam.
-​Lantas, apakah para pelanduk sumpah ini benar-benar bebas dari hukuman?
​Secara esoterik, tidak ada tindakan yang luput dari hukum keseimbangan. Ketika hukum alam tidak langsung menghukum si pelanggar sumpah secara fisik—seperti mengubahnya menjadi batu—artinya ada konsekuensi kumulatif yang sedang berjalan. Kehidupan modern saat ini sedang "menabung ketidaksinkronan" terhadap hukum alam raya.

​Sama halnya dengan penggundulan hutan yang lambat laun berujung bencana longsor, pelanggaran sumpah jabatan yang dilakukan secara masif oleh para pemangku kebijakan diprediksi akan memicu "normalisasi alam" atau serangan balik yang masif di masa depan demi mengembalikan keseimbangan yang rusak.

​Pada akhirnya, fenomena korupsi pasca-sumpah ini menjadi alarm keras. Bukan karena sumpah itu sendiri yang kehilangan kesaktiannya, melainkan karena manusia modern telah kehilangan radar kepekaan nuraninya untuk merasa 'tidak enak' saat melakukan sesuatu yang melanggar harmoni alam dan hukum ketuhanan.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati