Menakar Keselarasan Islam, Rasionalitas, dan Ilmu Kalam di Ruang Akademik

PEMALANG — Hubungan antara agama, rasionalitas, dan sains modern sering kali dipandang sebagai dua kutub yang saling berbenturan, terutama di lingkungan akademik yang cenderung sekuler. Namun, dalam sebuah diskusi mendalam yang membahas post-colonial mindset dan eksistensi Islam di Nusantara, paradigma tersebut didekonstruksi melalui penegasan bahwa Islam menempatkan akal pada posisi yang sangat sentral.

Melansir dari kanal YouTube https://www.youtube.com/watch?v=QHa3buQE2jU&si=vqknSDNO_jAAkIeQ disebutkan bahwa, ​Akal sebagai Teman Utama Melawan Nafsu.
​Dalam sesi pembahasan mengenai Islam dan rasionalitas, dijelaskan bahwa musuh utama seorang muslim sebenarnya tidak berada di luar, melainkan di dalam diri sendiri, yaitu hawa nafsu. Merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW mengenai Perang Besar (Jihadul Akbar) melawan nafsu setelah Perang Badar, penyelesaian problem internal diri menjadi kunci utama.
​Di sinilah akal memegang peran krusial. Dalam tradisi Islam, akal diposisikan sebagai variabel biner sekaligus "teman utama" untuk mengendalikan nafsu. Hal ini digambarkan melalui narasi penciptaan akal dan nafsu, di mana akal digambarkan sepenuhnya patuh pada perintah Tuhan, berbeda terbalik dengan karakter nafsu yang membangkang.

Tokoh kerohanian Islam Islam seperti Profesor Quraisy Shihab bahkan mencatat ada sekitar 49 ayat Al-Qur'an yang tidak sekadar membicarakan, tetapi menantang manusia untuk mengoptimalkan daya pikirnya melalui redaksi seperti Afala Ta'qilun (apakah kamu tidak berakal) dan Afala Tatafakkarun (apakah kamu tidak berpikir).

​Meski demikian, posisi akal sering kali terpinggirkan akibat dua fenomena modern:
-​Puritanisme ekstrem, yang memaksakan gerakan kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah secara tekstual (ansich) tanpa melibatkan penalaran logis.
-​Kekeliruan Terminologi, di mana konsep akal kerap diidentikkan dengan rasionalisme instrumental Barat, yang bermuara pada kepentingan kapitalisme dan sekularisme.

​Islam sendiri menawarkan konsep akal budi yang suci. Berpikir secara rasional harus tegak lurus dengan zikir (hati/intuisi), sebagaimana pesan dalam Al-Qur'an untuk bertanya kepada ahladz-dzikri (orang yang berzikir/ingat kepada Allah) jika tidak mengetahui suatu perkara.

​Membuktikan Eksistensi Tuhan Melalui Ilmu Kalam
​Memasuki perdebatan teologis mengenai ada atau tidaknya Tuhan—sebuah isu yang kerap memicu agnostisisme dan ateisme di dunia akademik—Islam menjawabnya melalui tradisi keilmuan yang megah bernama Ilmu Kalam. Tradisi teologi ini dihormati secara luas, tidak hanya dalam Islam tetapi juga dalam agama monoteisme lainnya seperti Yahudi dan Kristen.

​Salah satu argumen terkuat yang diakui secara akademik adalah Kalam Cosmological Argument (Argumen Kosmologi Kalam). Secara filosofis, keteraturan, hukum alam, dan keindahan alam semesta mustahil ada tanpa adanya Sang Pencipta. Melalui sebuah analogi sederhana tentang sebuah perahu yang tidak mungkin terbentuk secara tiba-tiba dari pohon tumbang tanpa adanya keahlian seorang pengrajin, logika kosmologi menegaskan bahwa eksistensi alam semesta adalah bukti mutlak keberadaan Tuhan.

​Selain argumen kosmologi, Logika Moral juga menjadi fondasi penting. Ketidakadilan yang terjadi secara etik dan hukum di dunia nyata disimpulkan sebagai basis moral bahwa pengadilan akhirat yang mutlak di bawah kendali keadilan Tuhan itu pasti ada untuk menuntaskan problem kemanusiaan tersebut.

​Objektivisme Moral: Memisahkan Agama dari Perilaku Umat
​Diskusi juga menyoroti bias epistemologis yang sering terjadi di masyarakat, yaitu kegagalan memisahkan antara nilai kesucian agama (value) dengan perilaku para pemeluknya (umat). Munculnya fenomena oknum beragama yang berperilaku buruk, atau sebaliknya, seorang ateis yang berperilaku baik, sering kali dijadikan pembenaran bahwa moralitas tidak membutuhkan standar objektif seperti Tuhan.

​Menanggapi hal tersebut, kutipan legendaris tokoh pembaru Islam asal Mesir, Muhammad Abduh, menjadi relevan:
​"Saya melihat Islam di Paris meskipun saya tidak melihat Muslim di sana, dan saya melihat Muslim di Mesir tetapi saya tidak melihat Islam di sana."
​Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an dan Sunnah telah menyediakan landasan ontologis, epistemologis, hingga aksiologis yang kokoh mengenai standar moral objektif. Buruknya perilaku pemeluk agama di lapangan tidak serta-merta menegasikan kebenaran nilai dasar agama itu sendiri.

​Sebagai penutup, diskusi ini menggarisbawahi pentingnya membedakan antara Sains dan Saintisme. Jika sains pada hakikatnya bersifat bebas nilai dalam koridor ilmiah, maka saintisme adalah ideologi yang telah menyusupkan nilai-nilai sekularistik dan empirisme positivistik ekstrem ke dalam sains, sehingga cenderung menggiring opini publik menuju ateisme. Islam tidak menolak sains indrawi, namun sains tersebut harus diletakkan dalam koridor spiritualitas yang utuh.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati