Manusia Mewarisi Sisa Psikis Dari Evolusi Dan Memori Nenek Moyang Secara Akumulatif Dari Generasi Ke Generasi
PEMALANG - Memahami kedalaman jiwa manusia sering kali menjadi teka-teki yang rumit. Dalam sebuah pemaparan yang mendalam namun santai, diuraikan bagaimana struktur jiwa manusia bekerja, mulai dari wilayah sadar yang kita kendalikan sehari-hari, hingga kekuatan misterius bawah sadar yang diam-diam menyetir apa yang sering kita sebut sebagai "takdir".
Ego: Kemudahan Mengontrol Identitas Sadar
Pada level pertama, manusia hidup dalam wilayah sadar yang disebut sebagai Ego. Wilayah inilah yang mengontrol aktivitas harian yang kasat mata dan mudah dipahami, seperti membaca buku, menulis, minum, hingga menyusun rencana masa depan.
Ego memegang peranan krusial karena menjadi fondasi dalam membangun identitas dan kontinuitas diri. Melalui kesadaran Ego, seseorang mampu mengidentifikasi perannya di tengah masyarakat.
"Dengan ego ini, kamu bisa mengidentifikasi diri: di kampus menjadi mahasiswa, di rumah menjadi anak, dan di pusat perbelanjaan menjadi konsumen. Identitas itu dibangun berdasarkan kesadaranmu," ungkap pembicara dalam sesi tersebut.
Bawah Sadar: Kekuatan Tersembunyi yang Menyetir "Takdir"
Namun, dinamika jiwa tidak berhenti di permukaan. Tantangan terbesar justru dimulai saat memasuki wilayah ketidaksadaran. Uniknya, banyak orang tidak menyadari bahwa wilayah bawah sadar ini justru aktif memengaruhi dan menyetir wilayah sadar.
Dunia ketidaksadaran ini dibagi menjadi dua level utama:
Personal Unconsciousness (Ketidaksadaran Personal):
1.Berisi rekaman pengalaman masa lalu yang sengaja ditekan, dilupakan, atau diabaikan karena dianggap memalukan atau tidak penting. Meskipun dianggap hilang, jiwa tetap merekamnya. Hal ini menjelaskan fenomena mengapa seseorang yang dikenal sabar bisa tiba-tiba meluapkan amarah yang meledak-ledak dengan kosakata kasar yang tak pernah ia hafalkan secara sengaja. Kontrol ego yang hilang membuat isi bawah sadar membanjir keluar.
2.Complex (Kompleks):
Di dalam ketidaksadaran personal, terdapat struktur gagasan dan persepsi yang rumit bernama kompleks. Sebagai contoh, persepsi seseorang tentang figur "Ibu" terbentuk secara tidak sadar dari akumulasi pengalaman pribadi, interaksi dengan orang lain, hingga buku yang dibaca, yang kemudian menstruktur cara pandang mereka saat ini.
Pembicara juga mengutip pandangan psikolog Carl Jung mengenai fenomena ini. Banyak hal dari bawah sadar yang mengarahkan tindakan manusia, namun ketika hasilnya muncul, manusia kerap terkejut dan menyebutnya sebagai takdir. Padahal, itu adalah hasil setiran bawah sadar yang bekerja sejak lama.
Ketidaksadaran Kolektif dan Warisan DNA
Masuk lebih dalam lagi, terdapat konsep Collective Unconsciousness (Ketidaksadaran Kolektif). Teori orisinal dari Carl Jung ini menyatakan bahwa manusia tidak lahir sebagai kertas kosong. Manusia mewarisi sisa psikis dari evolusi dan memori nenek moyang secara akumulatif dari generasi ke generasi.
Warisan ini dapat berupa kecenderungan sifat, seperti watak pemurung yang diturunkan melalui struktur DNA akibat trauma atau kesedihan mendalam yang dialami kakek-nenek terdahulu. Bahkan, ketidaksadaran kolektif ini kerap memicu fobia atau delusi yang tidak diketahui asal-usulnya, seperti ketakutan pada ketinggian tanpa adanya trauma masa kecil. Jika wilayah ini dominan dan gagal dikelola, seseorang rentan kehilangan kontrol atas kesadarannya hingga memicu gangguan jiwa.
Persona: Seni Menggunakan "Topeng" di Masyarakat
Salah satu manifestasi dari ketidaksadaran kolektif dalam kehidupan bersosial adalah Persona, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti topeng teater.
Dalam sosiologi harian, manusia tidak bisa lepas dari penggunaan topeng ini demi bisa beradaptasi dan hidup berdampingan dengan orang lain. Terdapat aturan-aturan tidak tertulis di masyarakat mengenai bagaimana menjadi "anak yang baik", "mahasiswa yang sopan", atau "orang saleh di tempat ibadah".
Manusia sejatinya hidup dari satu topeng ke topeng lainnya. Bahkan, ketika seseorang merasa bebas di dalam kamarnya tanpa aturan, ia sebenarnya sedang memakai topeng baru sebagai "orang yang bebas".
Oleh karena itu, tantangan terbesar manusia modern bukanlah menolak penggunaan topeng demi sebuah keotentikan mutlak, melainkan bagaimana bersikap bijak dan cerdas dalam memilih serta menggunakan topeng yang baik dan relevan dengan tuntutan hidupnya.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment