Majelis Ilmu Mocopat Syafaat Tegaskan Manusia Sebagai Subjek Tanpa Kuasa Dan Pentingnya Keseimbangan

PEMALANG — Majelis Ilmu Mocopat Syafaat (Maiyah) kembali menggelar pengajian dan diskusi bersama di Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pertemuan berkala ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai posisi manusia di hadapan Sang Pencipta serta respons terhadap kondisi sosial-politik bangsa terkini.

​Dalam kesempatan tersebut, Tio (bekas Ketua BEM) selaku moderator memaparkan refleksi bertajuk “Manusia: Subjek Tanpa Kuasa”. Ia menekankan bahwa dalam arus modernisme, manusia sering kali jumawa dan menganggap dirinya berkuasa. Padahal, dari level geopolitik global hingga level personal yang paling kecil, manusia pada hakikatnya tidak memiliki daya dan kekuasaan mutlak.

​"Kesadaran tidak punya kekuasaan itu tidak sama dengan keberpihakan. Kita bisa tetap berpihak pada kebenaran dan keadilan meskipun sadar kita tidak berkuasa," ujar Tio.

​Ia juga menyoroti berbagai isu nasional, mulai dari efektivitas kebijakan publik seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga persoalan Koperasi Desa (Kopdes), sebagai bukti bahwa manusia maupun struktur kekuasaan sering kali tidak mampu mengendalikan jalannya keadaan secara utuh. Oleh karena itu, kesadaran akan keterbatasan ini mengarahkan umat untuk senantiasa mengharapkan syafaat Rasulullah SAW.

​Sementara itu, Mas Haryanto mengingatkan jamaah mengenai pentingnya cara pandang yang jangkep (genap/seimbang). Ia mengkritik kecenderungan masyarakat modern yang kerap terjebak dalam dikotomi dan pemikiran sekuler, seperti memisahkan antara agama dan politik.

​"Menjaga kualitas spiritual diri dan memikirkan persoalan sosial-politik itu bukan hal yang bertentangan. Keduanya adalah satu kesatuan yang harus genap dan saling mensyafaati," jelas Haryanto.

​Ia mencontohkan rekam jejak para tokoh tasawuf dunia seperti Imam Syamil di Kaukasus dan Umar Mukhtar di Libya yang memiliki spiritualitas tinggi namun tetap berada di garis depan membela rakyat yang tertindas.

​Di sisi lain, Ustaz Helmi mengulas kembali konsep dasar Segitiga Cinta (Allah, Rasulullah, dan Manusia) yang dicetuskan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Menjawab pertanyaan mengenai peran syafaat Nabi, Helmi menegaskan bahwa syafaat dan pertolongan Rasulullah tidak hanya berlaku di akhirat kelak, melainkan juga dapat hadir di masa kini. Melalui tawasul, selawat, dan zikir, hubungan batin antara hamba dengan Nabi dan Sang Pencipta terus dijalin untuk menghadirkan ketenangan serta jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup.

​Mocopat Syafaat terus berkomitmen menghadirkan ruang kebersamaan yang menyejukkan, membangun ikatan persaudaraan, dan mengasah kepedulian sosial di tengah situasi zaman yang serba dinamis.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati