Kisah Dari Pedurungan Pemalang, "Ajaran Manfaat Dan Kebaikan Yang Mengalahkan Logika Kesaktian"
PEMALANG - Di belahan bumi yang tenang dan jauh dari hiruk-piruk takhta—di daerah pedalaman Pedurungan Pemalang, sebuah pertempuran batin dan fisik tengah terjadi. Seorang jawara angkuh bernama Wadas Gompal, yang dikenal memiliki kulit laksana baja (atos) dan kemampuan melayang di udara, mengamuk mencari keberadaan perguruan yang disebut-sebut mengajarkan "Jalan Lurus."
Setelah menumbangkan beberapa tetua dengan kesaktiannya, Wadas Gompal akhirnya berhadapan langsung dengan sang guru agung, yang tak lain adalah Sunan Kalijaga.
Dalam sebuah dialog spiritual yang mendalam, Wadas Gompal dengan sombong memamerkan kemampuannya terbang dan kekebalan tubuhnya, menantang sang Sunan untuk menunjukkan kehebatan yang setara.
Namun, Sunan Kalijaga menanggapi kesombongan tersebut dengan senyuman keteduhan. "Manusia ditakdirkan berjalan dengan kaki. Itu sebabnya Sang Pencipta tidak menaruh sayap di punggung kita," tutur Sunan Kalijaga tenang.
"Kalau hanya bisa terbang, burung bangau dan tawon, tanpa belajar ilmu apa pun, pasti lebih hebat terbangnya."
Dalam hal ini Sunan Kalijaga menegaskan bahwa kesaktian sejati bukanlah meniru kehebatan setan atau binatang untuk keangkuhan pribadi, saya lebih hormat kepada para petani yang menanam Padi, sehingga banyak manusia yang bisa makan dan tidak kelaparan, Sunan Kalijaga menekankan bahwa ilmu yang paling disukai oleh Sang Pencipta adalah ilmu yang membawa manfaat nyata bagi kemaslahatan orang banyak.
"Lebih baik belajar puluhan tahun agar bisa membuat jembatan, sehingga orang lain juga bisa ikut menyeberangi sungai. Hal itu lebih disukai Sang Pencipta," pungkas Sunan Kalijaga.
Ketika Wadas Gompal yang kebingungan berteriak mempertanyakan siapa sejatinya 'Sang Pencipta' yang dimaksud, alam seakan menjawab. Petir menggelegar membelah langit Pedurungan Pemalang, mengiringi sebuah kebenaran hakiki yang digaungkan sang Sunan: bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, dan hanya Sang Pencipta-lah yang kekal abadi.
Dari riuh takhta Pajang hingga sunyinya padepokan Pedurungan Pemalang, tanah Jawa kembali diajarkan Sunan Kalijaga bahwa, kekuasaan dan kesaktian tanpa kebajikan hanya akan berakhir menjadi debu di sapu waktu.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment