Kilas Sejarah, Mengenang Saad Bin Abi Waqqash, Sang Singa Yang Menyembunyikan Kukunya Dan Pahlawan Penakluk Persia
PEMALANG — Kisah keteguhan iman, keberanian di medan perang, serta keahlian memanah yang luar biasa dari sahabat mulia Nabi Muhammad SAW, Saad bin Abi Waqqash, kembali menjadi sorotan dan sumber inspirasi bagi umat Islam. Dikenal dengan julukan "Singa yang Menyembunyikan Kukunya," Saad merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, sekaligus sosok di balik takluknya kekaisaran besar Persia.
Lahir pada tahun 595 Masehi—tepat 16 tahun sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul—Saad berasal dari keluarga terpandang di Mekah. Ayahnya, Abu Waqqash Malik bin Wahab, adalah seorang pedagang kaya yang dermawan, sedangkan ibunya adalah Hamnah binti Sufyan. Melalui garis keturunan sang ayah yang merupakan sepupu dari ibunda Rasulullah, Aminah, Nabi Muhammad SAW sendiri kerap menyebut Saad sebagai pamannya dari pihak ibu.
Sejak belia, Saad telah menguasai keahlian memanah yang presisi, bahkan mampu merakit busur panahnya sendiri.
Melansir dari Https://youtube.com/watch?v=BDeoBojFGes&si=fc7FVc698vg5CrDf disebutkan bahwa, Perjalanan spiritual Saad dimulai setelah ia mengalami sebuah mimpi visioner. Dalam mimpinya, ia berada di kegelapan pekat sebelum akhirnya dituntun oleh cahaya rembulan terang yang membawanya bertemu dengan Rasulullah SAW, didampingi Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah. Dipandu oleh Abu Bakar, Saad kemudian menemui Rasulullah dan secara resmi memeluk Islam, menjadikannya orang keempat yang meyakini ajaran tauhid tersebut pada usia yang sangat muda, yakni 17 tahun.
Namun, keputusan tersebut mendapat pertentangan keras dari sang ibu, Hamnah binti Sufyan. Demi memaksa Saad keluar dari Islam, Hamnah melakukan aksi mogok makan dan minum hingga kondisinya kritis. Menanggapi ujian berat ini, Saad dengan keteguhan iman yang kokoh menyatakan, "Wahai ibu, andai engkau memiliki 100 nyawa lalu satu per satu keluar dari tubuhmu demi memaksaku meninggalkan agama ini, aku tetap tidak akan berpaling." Keteguhan luar biasa inilah yang melatarbelakangi turunnya firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Luqman ayat 15.
Di samping keteguhan imannya, Saad bin Abi Waqqash juga dikenal memiliki doa yang sangat mustajab, sebuah keutamaan yang didapatkan langsung melalui doa Rasulullah SAW saat Perang Badar. Kekuatan doa Saad ini bahkan sempat membuat Khalifah Umar bin Khattab merasa gentar dan berhati-hati agar tidak sampai didoakan buruk oleh sang sahabat.
Dalam catatan sejarah militer Islam, kontribusi terbesar Saad terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, di mana ia ditunjuk menjadi panglima perang untuk memimpin pembebasan wilayah Persia. Meski dalam kondisi sakit parah hingga tubuhnya dipenuhi bisul, Saad tetap memimpin jalannya pertempuran Qadisiyah dari atas tempat yang tinggi secara tengkurap, dengan bantuan Khalid bin Urfutah sebagai komandan lapangan.
Pasukan muslim yang berjumlah 30.000 personel secara tak terduga berhasil menumbangkan 240.000 pasukan Persia dan menewaskan panglimanya, Rustum.
Keberhasilan militer ini berlanjut hingga pengepungan ibu kota Persia, Madain. Dalam aksi yang mencengangkan, Saad memerintahkan pasukannya menyeberangi sungai dalam sedalam 6 meter menggunakan kuda, hingga membuat Raja Persia, Yazdajard, ketakutan dan melarikan diri karena mengira tengah menghadapi pasukan jin.
Saad bin Abi Waqqash mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 54 Hijriah. Di akhir hayatnya, ia diuji dengan kebutaan namun tetap ikhlas menerima takdir tersebut. Menjelang detik-detik sakaratul maut, ia sempat menenangkan putranya yang menangis dengan berkata, "Jangan menangis anakku. Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksaku. Aku adalah penghuni surga."
Wafatnya Saad bin Abi Waqqash menandai perginya sang panglima besar penakluk Persia, namun warisan sejarah, keteguhan iman, dan keteladanannya akan tetap abadi dan terus menyala di hati umat Islam sedunia.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment