Keharusan Memiliki Alasan Untuk Menikmati Hidup Pada Setiap Harinya, Bahkan Setiap Detiknya

PEMALANG - Kita akan menjelajahi negeri Jepang untuk membedah falsafah hidup tradisional mereka. Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan, bukan pula karena isu-isu kontemporer atau budaya populer, melainkan karena esensi dari ruang belajar kita adalah semangat eksplorasi—semangat untuk menemukan hikmah di mana pun ia berada.


​Hal ini selaras dengan sebuah mutiara hikmah (maqalah) yang berbunyi:
“Al-hikmatu dhallatul mukmin.” (Hikmah itu adalah barang hilang milik orang mukmin. Di mana pun kalian menemukannya, maka ambillah).

Sebagian dari ​Anda, mungkin telah melanglang buana dari filsafat Barat, Timur, Islam, hingga Nusantara dan Jawa. Kini, saatnya kita berjalan-jalan secara spiritual dan intelektual ke Jepang. Setiap budaya dan daerah pasti memiliki kebijaksanaan uniknya sendiri.


Mempelajari budaya lain menjadi penting karena dua hal:
-Pertama, menyadarkan kita bahwa bangsa kita sendiri memiliki kearifan yang setara; -Kedua, memberi tahu bahwa kita tidak sendirian di dunia ini.

Semakin kaya wawasan dan hikmah yang kita raih, akan semakin mudah bagi kita untuk menghadapi naik-turunnya roda kehidupan. Setiap ilmu baru adalah satu senjata tambahan dalam koleksi kita untuk mengarungi hidup.


Melansir dari tayangan video https://youtu.be/r-9iykeuLMQ?si=89xkV_1nGWI8hckR, Mari kita bersama sama ​memahami Esensi Filosofi "Ikigai", Kita sering menekankan bahwa hidup harus memiliki tujuan dan makna yang besar, Ikigai hadir menawarkan pendekatan yang jauh lebih praktis dan to the point. Filosofi tradisional Jepang ini tidak rumit atau berbelit-belit, melainkan langsung menyentuh esensi bagaimana kita bisa menemukan makna hidup sehari-hari.



Meskipun konsep ini belakangan banyak direproduksi dan dimodifikasi oleh para intelektual Barat dengan kerangka kerja mereka sendiri, dasar konsep tradisionalnya sebenarnya sangat sederhana.

Secara etimologi, Ikigai diturunkan dari dua kata:
​Iki, yang berarti hidup.
​Gai, yang berarti nilai, manfaat, atau sesuatu yang berharga.

​Secara garis besar, Ikigai adalah sebuah jalan hidup (way of living) tentang bagaimana menjalani hidup yang bernilai, bertujuan, dan bermanfaat. Namun, pertanyaan inti dari Ikigai sebenarnya bukan sekadar "Apa tujuan besar hidupmu?", melainkan:
​"Apa yang membuat hidupmu layak untuk dijalani?"
"Apa yang membuatmu merasa bahwa dirimu pantas dan berharga untuk hidup?"

​Fokus filosofi ini bukan sekadar pada target masa depan yang muluk-muluk. Tujuan bisa menjadi bagian di dalamnya, namun proses menjalani hidup itu sendirlah yang menjadi intinya. Jika hari ini Anda ditanya, "Mengapa hidupmu berharga?", dan Anda bisa menjawabnya dengan lancar—baik itu karena pekerjaan, keluarga, hobi, atau bahkan hal sekecil hewan peliharaan Anda—maka hidup Anda memiliki "rasa", Hidup Anda menjadi hidup yang patut dan pantas dijalani.



​Tiga Konsep Dasar Ikigai, untuk memahami alur berpikir Ikigai secara mendalam, kita perlu mengurai tiga konsep dasar berikut:
​1. Alasan untuk Menikmati Setiap Detik Kehidupan
​Konsep pertama dari Ikigai adalah keharusan memiliki alasan untuk menikmati hidup pada setiap harinya, bahkan setiap detiknya. Di tengah gempuran masalah yang bisa dengan mudah kita temukan hanya dengan membuka media sosial, kita harus tetap memiliki alasan untuk bertahan dan tidak menyerah.
​Berbeda dengan teori motivasi Barat yang kerap berfokus pada target raksasa dan pencapaian karier, Ikigai mengajarkan bahwa makna hidup bisa ditemukan dalam aktivitas sehari-hari yang sangat kecil.
​Menemukan resep masakan baru dan tidak sabar untuk mempraktikkannya besok pagi.
​Merawat tanaman atau menyapu kamar kos hingga rapi dan bersih.
​Semangat untuk berangkat kuliah karena rindu akan atmosfer belajar.
​Atau sesederhana menikmati secangkir kopi gratis di sebuah ruang diskusi rutin.
​Hal-hal kecil inilah yang menjadi alasan kita untuk menyambut hari esok dengan senyuman. Filosofi inilah yang ditemukan oleh para peneliti di wilayah Okinawa, Jepang. Di sana, masyarakatnya memiliki harapan hidup yang panjang, tetap bugar, gembira, dan bahagia hingga usia senja. Rahasianya sederhana: mereka menikmati hari-hari mereka dengan membantu tetangga, berjalan kaki bersama anjing peliharaan, dan menghargai setiap momen kecil.
​Seorang peneliti awal tentang Ikigai, Mieko Kamiya, dalam karyanya menyebutkan bahwa apa yang kita rasakan sebagai Ikigai tidak selalu berupa hal yang agung dan besar. Sering kali, itu adalah serpihan kebahagiaan kecil yang membuat kita berbisik lirih, "Ah, aku senang aku masih hidup hari ini."

​2. Sifatnya yang Sangat Personal.
​Konsep dasar yang kedua adalah bahwa Ikigai bersifat personal. Tidak ada satu ukuran yang berlaku untuk semua orang (no universal Ikigai). Makna hidup tidak diberikan oleh orang lain atau didikte oleh masyarakat, melainkan ditemukan sendiri melalui pengalaman hidup masing-masing.
​Oleh karena itu, tidak ada kasta dalam Ikigai; tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah:
​Seorang guru menemukan kebahagiaannya saat melihat muridnya paham dan sukses.
​Seorang petani merasa hidupnya bernilai penuh saat melihat tanamannya tumbuh subur.
​Seorang seniman baru merasa utuh ketika karyanya berhasil diselesaikan atau diapresiasi.
​Seorang mahasiswa mungkin menganggap puncak bahagianya adalah momen tenang saat menikmati kopi dan membaca buku tanpa gangguan.
​Karena sifatnya yang personal, kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Apa yang terasa asyik bagi orang lain belum tentu cocok untuk kita, begitu pula sebaliknya. Kita tidak boleh mengusik atau meremehkan hal yang dianggap bernilai oleh orang lain. Biarkan setiap orang bergerak bersama kebahagiaannya sendiri.

​3. Ikigai Terus Berubah dan Berkembang.
​Konsep dasar yang ketiga adalah fleksibilitas. Ikigai tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan berubah seiring perkembangan kita sebagai manusia.
​Situasi kehidupan yang berganti dan usia yang bertambah akan ikut mengubah orientasi kebahagiaan kita:
​Saat anak-anak, Ikigai kita mungkin berada pada dunia bermain.
​Saat remaja dan mahasiswa, ia bergeser ke ranah belajar, pertemanan, atau asmara.
​Saat dewasa, fokusnya berpindah pada pekerjaan dan pernikahan.
​Ketika telah memiliki anak, melihat senyum buah hati menjadi sumber energi utama.
​Di masa tua, kedamaian saat keluarga dan cucu-cucu berkumpul menjadi Ikigai yang paling hakiki.
​Jadi, Anda tidak perlu bingung atau cemas jika hal yang dulu sangat Anda gemari kini terasa biasa saja. Itu adalah tanda yang wajar bahwa Anda sedang tumbuh, situasi Anda telah berubah, dan Anda sedang berjalan untuk menemukan titik Ikigai yang baru.



​Melalui filosofi Ikigai, kita diajak untuk berhenti sejenak dari kecemasan masa depan yang terlalu jauh dan mulai mensyukuri serta menikmati hari ini. Hidup memang sarat akan masalah, namun masalah adalah untuk diselesaikan, dan jika belum selesai, tidak ada salahnya untuk tetap menjalani hidup dengan gembira—bahkan jika itu berarti "tidur bersama musuh" (sleeping with the enemy) atau menghadapi badai hidup sembari tetap bisa menikmati secangkir kopi dengan senyuman.
Maka carilah Ikigai Anda masing-masing agar hidup ini selalu terasa berharga untuk dijalani.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati