Kajian Makrifat Syaiful Karim: Mengulas Sifat Kebanyakan Manusia dan Pentingnya Kesadaran Diri
PEMALANG — Cendekiawan dan pengajar spiritual Syaiful Karim kembali menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam kajian makrifat bertajuk "Sifat Kebanyakan Manusia". Dalam pemaparannya, Syaiful Karim mengajak umat untuk melakukan introspeksi mendalam mengenai orientasi kesadaran, pola berdoa, serta pemahaman atas hukum alam dan spiritualitas.
Mengutip Al-Qur'an Surah Al-An'am Ayat 116, Syaiful Karim mengingatkan bahwa mayoritas manusia sering kali hidup dalam sangkaan, prasangka (zhann), serta hanya mengikuti kebiasaan umum tanpa pembuktian dan kesadaran spiritual yang utuh.
Koreksi Pola Pikir dan Frekuensi Berdoa
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam kajian ini adalah peninjauan kembali pola berdoa yang selama ini berlandaskan rasa kekurangan. Menghubungkan pendekatan ilmu fisika kuantum dengan nilai-nilai tauhid, ia menjelaskan bahwa alam semesta merespon getaran frekuensi dan kualitas perasaan manusia saat ini (here and now).
"Ketika seseorang berdoa didorong oleh rasa kesedihan dan penderitaan karena merasa kekurangan, ia justru sedang meradiasikan gelombang rasa kekurangan itu sendiri. Islam mengajarkan kunci keberlimpahan melalui kesadaran dan rasa syukur yang nyata," ungkap Syaiful Karim.
Ia menekankan pentingnya menggeser pola pikir dari kecemasan menuju rasa cukup (qana'ah) serta keyakinan bahwa sumber rezeki hakiki senantiasa dihadirkan oleh Tuhan melalui hukum-hukum penciptaan-Nya.
Membedakan Kebanyakan (Katsira) dan Yang Sedikit (Qalila)
Dalam uraiannya, Syaiful Karim membedakan antara golongan kebanyakan manusia (katsira) yang cenderung terjebak ego, rasa memiliki berlebihan, kebiasaan prasangka, serta ketakutan, dengan kelompok yang sedikit (qalila). Kelompok yang sedikit ini digambarkan sebagai pribadi-pribadi yang:
-Sadar dan Rela: Memahami segala peristiwa kehidupan sebagai proses belajar serta petunjuk semesta.
-Menjaga Keheningan Batin: Mampu mengendalikan pikiran, perasaan, dan sikap tanpa memaksakan kehendak pada hal-hal di luar kendali.
-Mengenali Jati Diri: Bebas dari jebakan diri palsu (ego) dan senantiasa menumbuhkan kasih sayang tanpa menghakimi sesama.
Pesan Kesadaran
Melalui kajian ini, Syaiful Karim berharap para pendengar tidak sekadar menghafal teori atau doctrines tanpa penghayatan, melainkan mampu mempraktikkan kesadaran nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam beribadah.
(Eko B Art).
Sumber :
Tayangan selengkapnya dapat disaksikan melalui YouTube https://www.youtube.com/watch?v=1auLwOE8MhQ
Comments
Post a Comment