Istri Harus Bersabar Dan Tidak Terburu-buru Berprasangka Buruk Apabila Sambutan Hangat Senyuman Tidak Langsung Dibalas Oleh Suami Pada 10 Menit Pertama
PEMALANG — Dokter sekaligus penceramah neurospiritual, dr. Aisah Dahlan, memberikan pemaparan komprehensif mengenai pentingnya memahami perbedaan biologis dan psikologis antara pria dan wanita. Pemaparan tersebut disampaikannya dalam sebuah kajian keagamaan yang digelar di Masjid Darussalam, Kota Wisata, Cibubur.
Dalam tausiyahnya, dr. Aisah menjelaskan bahwa ketidaktahuan mengenai perbedaan kerja otak serta hormon pria dan wanita kerap menjadi pemicu kesalahpahaman maupun konflik dalam rumah tangga.
Penyebab Wajah Pria Tampak Datar saat Tiba di Rumah
Salah satu poin utama yang disoroti dr. Aisah adalah fenomena wajah pria yang cenderung datar atau kaku saat baru sampai di rumah. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi oleh kadar hormon testosteron yang lebih dominan pada pria, sehingga membuat otot-otot wajah pria tidak selentur wanita.
"Testosteron pada pria membuat otot wajahnya tidak selentur perempuan. Dalam 10 menit pertama saat suami atau anak laki-laki baru sampai di rumah, apapun perasaannya—meskipun kita sambut dengan senyuman—wajah mereka cenderung akan terlihat datar," ujar dr. Aisah Dahlan.
Ia mengimbau para istri untuk bersabar dan tidak terburu-buru berprasangka buruk apabila sambutan hangat atau senyuman mereka tidak langsung dibalas pada 10 menit pertama.
Perbedaan Komunikasi: Tatapan Mata dan Respons terhadap Benda
Selain faktor otot wajah, dr. Aisah juga memaparkan perbedaan cara berkomunikasi dan pola pandang antara pria dan wanita:
-Daya Tahan Tatapan Mata: Pria umumnya hanya bertahan menatap wajah lawan bicara secara langsung selama kurang lebih 5 detik. Sebaliknya, wanita yang memiliki area putih mata (sclera) lebih luas cenderung lebih tahan dan nyaman melakukan kontak mata secara intens saat berinteraksi.
-Fokus Perhatian: Secara alamiah, otak wanita lebih cepat berorientasi pada ekspresi wajah dan interaksi antarindividu, sementara otak pria lebih terdorong untuk berorientasi pada benda, bentuk, atau objek di sekitarnya.
Oleh karena itu, saat berbicara dengan suami atau anak laki-laki, para ibu disarankan untuk memberi jeda tatapan dan tidak memaksa kontak mata secara terus-menerus agar komunikasi berjalan lebih harmonis.
Edukasi Pengelolaan Mental dan Emosi
Di samping pembahasan mengenai hubungan keluarga, dr. Aisah Dahlan turut menjelaskan mekanisme kerja otak dan kalbu (jantung) dalam merespons stres serta emosi. Ia mengingatkan pentingnya memperbanyak zikir, istigfar, dan senyuman untuk menstimulasi pelepasan hormon kebahagiaan (seperti endorfin dan dopamin) guna menjaga kesehatan mental.
Kajian tersebut dihadiri oleh ratusan jemaah yang antusias menyimak materi kesehatan mental dan pola komunikasi keluarga dari sudut pandang medis serta keislaman.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment