Islam Yang Datang Ke Nusantara Tidak Menghancurkan Kebudayaan Setempat, Melainkan Memperkaya Bahan Dan Memberikan Nilai Tauhid Di Dalamnya

PEMALANG - ​Mari kita bedah secara teoritis. Sebenarnya, istilah "persinggungan budaya Islam dan budaya Jawa" itu kurang tepat. Islam bukanlah budaya, melainkan nilai, tuntunan, dan wahyu dari Tuhan.

​Definisi Budaya: Budaya adalah hasil interaksi manusia saat mengolah alam. Contohnya, pohon kelapa yang kayunya dijadikan tiang rumah, atau buahnya dijadikan es degan. Itu adalah budaya.

​Budaya Orang Islam: Yang ada di dunia ini bukanlah "budaya Islam", melainkan budaya dari orang-orang yang beragama Islam. Kebiasaan mereka dipengaruhi oleh ayat Al-Qur'an, hadis, serta kondisi geografis, cuaca, dan iklim setempat.

Orang Islam di Indonesia yang mengalami musim hujan dan kemarau pasti memiliki ritme budaya yang berbeda dengan orang Islam di Amerika yang memiliki empat musim.

​Jadi, Islam yang datang ke Nusantara tidak menghancurkan kebudayaan setempat, melainkan memperkaya bahan dan memberikan nilai tauhid di dalamnya.

​Mari bersama sama Belajar Kebijaksanaan dari Sunan Kalijaga...!?
​Sebagai contoh proses akulturasi, mari kita lihat tradisi Tumpengan (yang dahulu disebut Ambengan oleh masyarakat Jawa).
​Masyarakat Jawa kuno memiliki tradisi makan bersama di atas hamparan sebagai bentuk kebersamaan. Ketika para Wali (seperti Sunan Kalijaga) datang, mereka tidak menendang tumpeng tersebut atau merusak tradisi yang ada. Mereka justru "membenahi" maknanya agar bernilai tauhid.
​Makna Filosofis Tumpeng: Tumpeng berbentuk kerucut yang melambangkan perjalanan hidup manusia. Saat muda, keinginan manusia sangat banyak dan melebar (luas di bagian bawah). Namun, seiring bertambahnya usia, manusia akan mengeliminasi hal-hal yang tidak penting. Ketika menyentuh usia senja (misalnya 70 tahun), hidup manusia akan semakin mengerucut ke atas, memuncak pada ilmu tauhid dan cinta kepada Allah SWT. Manusia sadar bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau (wala'ibun walahwun).

​Simbolisme Tiga Kembang dari Sunan Kalijaga:
​Sunan Kalijaga memasukkan nilai Al-Qur'an melalui simbol tiga bunga:
-​Kembang Mawar (Mawarno-warni): Melambangkan pluralisme atau keberagaman manusia (Syu'uban wa qaba'ila). Manusia diciptakan berbeda-beda (ada militer, sipil, suku yang beragam) agar saling mengenal (li ta'arafu).
-​Kembang Kenanga (Keno ngene, keno ngono): Melambangkan fleksibilitas hidup, bahwa setiap manusia memiliki jalan dan tugasnya masing-masing yang bervariasi.
-​Kembang Kantil (Kantil/Leket): Melambangkan bahwa apa pun profesi dan perbedaannya, manusia harus saling berkoordinasi dan terikat (kantil) satu sama lain. Pada akhirnya, puncak tertinggalnya adalah harus kantil (terikat) kepada Allah SWT (Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un).

​Meluruskan Persepsi tentang Benda dan Pikiran (Kasus Kemenyan)
​Sering kali kita salah menyimpulkan sesuatu, contohnya adalah penggunaan kemenyan. Banyak orang langsung melabeli kemenyan sebagai budaya Jawa yang mistis atau syirik, sementara doa-doa dianggap sebagai budaya Islam.
​Ini adalah kesimpulan yang keliru: ​Siapa yang menciptakan pohon kemenyan? Allah SWT.
​Penggunaan wewangian adalah hal yang universal. Ada orang yang cocok dengan minyak wangi Arab, ada pula yang terbiasa dengan asap kemenyan Jawa.

​Letak Kesalahan: Syirik atau tidaknya sesuatu itu tidak terletak pada bendanya (kemenyan), melainkan ada pada pikiran dan hati manusianya. Jika seseorang mengira kemenyan itu sendiri yang memanggil setan, maka pikiran merekalah yang bermasalah, bukan bendanya.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati