Filosof Ketuhanan Hingga Teologi Inklusif: Menyelami Misteri Sosok Semar Dalam Sedatan Budaya Jawa
Pernyataan mendalam tersebut disampaikan oleh akademisi sekaligus pakar filsafat, Dr. Fahruddin Faiz, dalam sebuah pemaparan konseptual mengenai eksistensi spiritualitas Nusantara. Menurutnya, Semar menjadi jangkar budaya yang membuat masyarakat Jawa memiliki keterbukaan luar biasa terhadap berbagai tradisi agama yang masuk sepanjang sejarah.
Berikut adalah rangkuman narasi dan poin-poin esensial dari pemikiran Dr. Fahruddin Faiz mengenai misteri spiritualitas di balik sosok Semar:
Personifikasi Tuhan Versi Jawa
Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa ketika orang Jawa mencoba menggambarkan keagungan, kekuasaan, sifat menghukum, sekaligus sifat pengasih dari Sang Pencipta ke dalam sebuah wujud ragawi, maka gambaran yang paling mendekati interpretasi tersebut adalah sosok Semar.
"Dalam versinya orang Jawa, gambaran Tuhan dengan segala wataknya—Maha Kuasa, Maha Penyiksa, Maha Apa Saja—akan muncul seperti gambaran Semar itu. Dia adalah manusia sekaligus bukan manusia," ungkap Dr. Fahruddin Faiz.
Secara ontologis, nama asal Semar adalah Ismoyo yang berakar dari kata maya (samar atau misterius). Karakter ini sengaja dibuat tidak mudah ditebak untuk menggambarkan hakikat ketuhanan yang transenden sekaligus imanen. Dr. Fahruddin Faiz membandingkannya dengan saudaranya, Manikmoyo (Batara Guru). Jika Batara Guru tampak berkilau seperti mutiara (manik) dari luar namun cenderung bersifat formalitas (hitam-putih), maka Semar menyembunyikan mutiara kebijaksanaan yang tak terhingga di balik kesederhanaan fisiknya yang samar.
Bodronoyo: Jembatan Atas dan Bawah
Gelar utama Semar, yaitu Bodronoyo, mengandung kedalaman filosofi kepemimpinan dan spiritualitas:
Bodro (Bebodro): Berarti membangun dari bawah atau dari pondasi paling dasar (merakyat/kemanusiaan).
Noyo (Nayoko): Berarti utusan yang membawa wahyu atau ilham dari atas (ilahiyah).
"Semar adalah sosok yang dari atas ke bawah sekaligus dari bawah ke atas. Dia membangun dunia, tetapi hakikatnya dia bukan sekadar orang bawah, melainkan utusan dari atas. Dalam tradisi sufi, model seperti ini mirip dengan tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Arabi atau Jalaluddin Rumi," jelas Dr. Fahruddin Faiz.
Filosofi inilah yang memicu lahirnya lakon “Semar Gugat”—sebuah simbol ketika rakyat kecil (bawah) yang membawa kebenaran sejati (atas) melakukan protes keras thd kesewenang-wenangan para penguasa Kahyangan.
Adaptasi Lintas Agama dan Generasi
Kelenturan filosofi ketuhanan "Gaya Semar" inilah yang menjadi alasan mengapa tanah Jawa sangat ramah terhadap akulturasi agama apa pun, mulai dari Hindu, Buddha, Islam, hingga Kristen.
Era Hindu (Resi Agastya): Saat Hindu berkembang, sosok Semar diadaptasikan dan diidentifikasi oleh masyarakat zaman itu melalui figur Resi Agastya, seorang resi berwujud perut buncit yang menyebarkan ajaran Siwa dari India ke Nusantara. Pengabadiannya dapat dilihat pada peninggalan Candi Badut di Malang.
Era Transisi (Sabdo Palon): Menjelang runtuhnya Majapahit, figur penasihat spiritual seperti Sabdo Palon juga diyakini masyarakat sebagai titisan atau perwujudan esensi ajaran Semar.
Era Islam (Wali Songo): Ketika Islam masuk, Sunan Kalijaga dan para wali tidak menghapus Semar. Mereka justru memasukkan visi tauhid ke dalam dadanya. Semar bahkan dikisahkan sebagai danyang (sang suci/pelindung spiritual) tanah Jawa yang menyambut dan memberikan izin dakwah kepada Wali Songo generasi pertama asal Persia, Syekh Subakir (Syekh Muhammad Bakir Alfarisi). Ada pula versi literatur kuno seperti Serat Purwocarito yang mengaitkan asal-usul Semar dengan garis keturunan Nabi Syits AS.
Simbolisme Fisik yang Sakral
Secara fisik, Semar digambarkan melampaui dualitas duniawi. Dia bukan laki-laki dan bukan perempuan. Wajahnya berada di antara senyum dan tangis, merepresentasikan ketenangan jiwa yang telah melampaui dualitas sedih dan bahagia.
Dr. Fahruddin Faiz juga menyoroti kemiripan gerak tubuh Semar dengan tarian mistik Whirling Dervishes (Darwis Berputar) karya Jalaluddin Rumi. Tangan kanan Semar yang menunjuk ke atas melambangkan proses menerima anugerah dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa, sementara tangan kirinya yang berada di belakang melambangkan penyerahan total serta pembaktiannya kepada bumi dan umat manusia.
Melalui filosofi Semar, Dr. Fahruddin Faiz mengajak kita memahami bahwa label formal keagamaan boleh berbeda, namun pada hakikatnya, substansi pencarian spiritual manusia adalah satu menuju Sang Khalik.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment