​Belajar Zuhud dan "La Adri" dari Sang Imam Madinah: Catatan Ngaji Filsafat Dr. Fahrudin Faiz

PEMALANG – Konsep kebahagiaan dan kesuksesan hidup di era modern sering kali diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan. Namun, dalam sesi ngaji hening bersama budayawan dan akademisi Dr. Fahrudin Faiz, masyarakat diajak untuk kembali merenungi hakikat hubungan manusia dengan dunia melalui kacamata salah satu ulama besar mazhab, Imam Malik bin Anas.

​Dalam pemaparannya, Dr. Fahrudin Faiz menggarisbawahi dua nasihat penting Imam Malik tentang konsep zuhud. Menurutnya, banyak orang salah kaprah dengan menganggap zuhud berarti harus hidup miskin atau anti terhadap harta.
​"Zuhud itu bukan ketiadaan harta, namun mengosongkan hati darinya. Orang yang zuhud batinnya tidak terikat dan tidak tergoda oleh dunia. Uniknya, ketika kita tidak mengejar dunia, justru duniaklah yang akan mengejar kita atas izin Allah," ujar Dr. Fahrudin Faiz.
​Mentalitas Zuhud di Tengah Kemewahan
​Dr. Fahrudin Faiz menceritakan bahwa Imam Malik sejatinya adalah seorang ulama yang sangat berkecukupan dan kerap mengenakan pakaian yang indah serta bersih. Kendati demikian, harta tersebut sama sekali tidak bertahta di hatinya.
​Salah satu kisah ikonik yang diangkat adalah ketika Imam Malik dihadiahi seekor kuda yang sangat gagah dan mahal oleh Walikota Madinah. Ketika muridnya, Imam Syafi'i, menyatakan kekagumannya pada kuda tersebut, Imam Malik tanpa ragu langsung menyerahkannya begitu saja.
​"Bagi Imam Malik, dunia itu tidak 'menempel'. Beliau menerima hadiah untuk menghargai dan membahagiakan pemberi, namun seketika ada yang membutuhkan atau menyukainya, beliau langsung memberikannya tanpa beban," jelas Dr. Fahrudin Faiz.
​Sebaliknya, jika pemberian tersebut berpotensi mengikat independensi akademis dan agamanya—seperti saat dikirimi ribuan dinar oleh Khalifah Al-Hadi disertai bujukan untuk pindah ke Baghdad—Imam Malik secara tegas menolak dan mengembalikannya secara utuh.
​"La Adri": Benteng Pertahanan Seorang Ilmuwan
​Selain perihal zuhud, teladan penting lain dari pendiri Mazhab Maliki ini adalah kejujuran intelektualnya yang luar biasa. Imam Malik sangat dikenal dengan prinsip “La adri” (aku tidak tahu) atau “La uhsinuha” (aku tidak memahaminya dengan baik).
​Dr. Fahrudin Faiz membeberkan riwayat di mana Imam Malik pernah ditanya mengenai 48 persoalan agama, namun beliau hanya menjawab dua pertanyaan, sementara sisanya dijawab dengan kata "tidak tahu".
​"Imam Malik mengajarkan kepada kita kalimat 'Junnatul alim quluhu la adri'—bentengnya orang alim adalah ucapan 'aku tidak tahu'. Di era sekarang, banyak orang gengsi mengakui ketidaktahuannya lalu mengarang jawaban demi terlihat pintar. Bagi ilmuwan dan ulama sejati, tidak tahu adalah batas aman agar tidak menyesatkan orang lain," tegasnya.
​Empat Nasihat Emas untuk Imam Syafi'i
​Di akhir sesi, Dr. Fahrudin Faiz merangkum empat pesan mendalam yang diwariskan Imam Malik kepada murid tercintanya, Imam Syafi'i, yang dinilai sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern saat ini:
​Biasakan berkata tidak tahu: Melatih diri agar terhindar dari penyakit kesombongan akademik.
​Menjaga cahaya di dalam dada: Ilmu adalah cahaya dari Allah, dan maksiat adalah hal utama yang meredupkan bahkan memadamkannya.
​Lebih banyak diam (berefleksi): Di tengah bisingnya media sosial hari ini, diam memberikan ruang bagi pikiran untuk mencermati lingkungan secara jernih dan mendalam.
​Kendalikan hasrat diri: Belajar menahan diri, salah satunya dengan mengangkat tangan dari hidangan makanan justru di saat keinginan untuk makan masih menggebu-gebu.
​Melalui keteladan hidup Imam Malik, Dr. Fahrudin Faiz mengajak para jemaah untuk membangun kesehatan mental yang kokoh. Dengan menyerahkan urusan hasil akhir (rezeki) sepenuhnya kepada Allah SWT serta menjaga hati dari keterikatan duniawi, manusia akan menemukan kedamaian hidup yang sejati.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati