​Sinergi Lintas Sektor, Mengubah Transformasi Pertanian Modern di Pemalang

PEMALANG - ​Festival Sistem Tanam Padi Modern yang diselenggarakan di Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, menjadi momentum penting yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan strategis. Acara ini dihadiri oleh Direktur Alat dan Mesin Pertanian Kementerian Pertanian RI, jajaran Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dari wilayah penyangga (Kabupaten Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Batang), serta Direktur Koperasi dan Komersial PT Sang Hyang Seri.


Kehadiran para pembuat kebijakan dan pelaku industri ini menegaskan bahwa transformasi sektor agraria tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan membutuhkan ekosistem jejaring yang luas.


​Sebagai bentuk edukasi praktis, rangkaian kegiatan diakhiri dengan peninjauan arena edukasi, demonstrasi alat pertanian modern, dan pameran produk (expo) oleh Bupati Pemalang, Anggota Komisi IV DPR RI, Founder Ponco Tani, dan Ketua TP PKK Kabupaten Pemalang.


Pengenalan teknologi secara langsung ini berfungsi sebagai jembatan transfer teknologi agar masyarakat tani dapat melihat visualisasi dan efisiensi mekanisasi pertanian secara nyata.


Tentang ​Mekanisasi dan Penguatan Kelembagaan Petani, dalam aspek implementasi teknologi, Kementerian Pertanian Republik Indonesia memberikan dukungan konkret berupa bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) satu unit traktor crawler/rotavator. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati kepada UPJA PAJICA Agro Teknologi Desa Bodeh. Secara akademis, penguatan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) seperti ini merupakan langkah strategis dalam modernisasi pertanian komunal, di mana keterbatasan modal petani individu untuk memiliki alat modern dapat diatasi melalui sistem kelembagaan pengelolaan bersama.


​Langkah ini sejalan dengan visi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Ponco Tani yang diresmikan bersamaan dengan hari jadi pertama lembaga tersebut, yang berlangsung di Ponco Tani, Jalan Raya Bodeh, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Sabtu (13/6/2026).


Founder Ponco Tani, Ponco Widodo, menjelaskan bahwa P4S diproyeksikan sebagai pusat inkubasi pemikiran dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Lembaga swadaya ini mengemban misi edukatif untuk mentransfer pengetahuan, berbagi pengalaman, serta mencetak regenerasi petani muda yang inovatif, produktif, dan adaptif terhadap gelombang fusi teknologi di era pertanian 4.0.


​Akselerasi Usia Dini dan Kontribusi terhadap Ketahanan Pangan Nasional, meski baru berusia satu tahun, Ponco Tani dinilai telah melakukan lompatan eksponensial dengan memproduksi hampir seribu unit alsintan secara mandiri. Capaian ini mendapat apresiasi tinggi dari Anggota Komisi IV DPR RI Bidang Pertanian, Riyono. Dari perspektif makroekonomi, inovasi lokal semacam ini merupakan pilar penting dalam mendukung pencapaian target swasembada pangan nasional, khususnya komoditas beras pada tahun 2026.


Stok beras Nasional yang stabil merupakan hasil dari integrasi kerja keras di tingkat hulu, di mana para pelaku inovasi lokal mampu menyediakan substitusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan lapangan.



​Paradigma "Hilirisasi" dan Komitmen Pemerintah Daerah, maka ​Keberhasilan Ponco Tani terletak pada keberaniannya mengubah paradigma pembangunan ekonomi. Jika selama ini fokus kebijakan sering kali tertuju pada hilirisasi (pengolahan produk pascapanen), Ponco Tani justru memulai terobosan dari hulurisasi pertanian.


Konsep hilirisasi ini berfokus pada efisiensi input produksi, penciptaan teknologi tepat guna, dan pembenahan sistem tanam sejak awal proses budidaya. Inovasi ini secara empiris terbukti mampu menekan biaya operasional (cost of production) sekaligus meningkatkan produktivitas serta efisiensi kerja petani.


​Merespons capaian tersebut, Pemerintah Kabupaten Pemalang yang dipimpin oleh Bupati Anom Widiyantoro menyatakan komitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan sistem pertanian modern ini. Peresmian P4S Ponco Tani dinilai sebagai manifestasi nyata dari model pentahelix—sebuah kolaborasi harmonis antara pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, komunitas (kelompok tani), dan media.


Sinergi multidimensional inilah yang menjadi kunci utama untuk mendongkrak kesejahteraan petani lokal serta mewujudkan kedaulatan pangan yang berkelanjutan di Kabupaten Pemalang.

(Eko B Art).

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati