​Refleksi 72 Tahun H. Sutrisno Konsistensi Menjaga Amanah Wakaf dan Nilai Kemanusiaan

H. Sutrisno bersama dua Putranya serta dua Cucunya.



PEMALANG – Menjelang milad ke-72 yang jatuh pada 20 Mei 2026, H. Sutrisno, seorang kader nasional PDI Perjuangan asal Sumatera Barat, membagikan sebuah refleksi mendalam mengenai perjalanan hidupnya.

Ungkapan ini merupakan potret perjuangan seorang yatim piatu yang berhasil mengubah tantangan masa lalu menjadi dedikasi nyata bagi masyarakat melalui pembangunan Musholl Al barokah yang sekarang sudah menjadi Masjid Al-Barokah di Desa Losari, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang.

Transformasi Harta Menjadi Mashlahat Umat.
​Salah satu poin krusial dalam pernyataan H. Sutrisno adalah penegasan mengenai status Masjid Al-Barokah. Ia menekankan bahwa tanah dan bangunan masjid tersebut merupakan hasil jerih payah pribadi, bukan berasal dari hibah maupun warisan. Keputusan untuk mewakafkan aset tersebut adalah bentuk manifestasi janji (nazar) kepada Allah SWT.
​Secara edukatif, beliau ingin memberikan pemahaman bahwa wakaf ini bersifat independen.

Awalnya Musholla kini menjadi Masjid Al-Barokah diperuntukkan bagi kepentingan umat secara luas, tanpa berafiliasi atau dikuasai oleh organisasi maupun kelompok tertentu. Ketegasan beliau dalam menjaga kemurnian amanah ini sering kali disalahpahami sebagai sikap arogan, padahal itu merupakan bentuk proteksi agar niat suci wakaf tidak melenceng dari tujuan awalnya.

Kelembagaan Dan Keberlanjutan Melalui Yayasan Barokah.
​Sebagai langkah strategis dan edukasi manajemen aset kepada generasi penerus, H. Sutrisno telah mendirikan Yayasan Barokah. Yayasan ini mengelola aset produktif berupa ruko yang berdiri di atas sisa lahan masjid. Langkah ini diambil setelah melalui proses diskusi keluarga, di mana anak-anak beliau sepakat untuk mengedepankan pengelolaan kolektif demi kepentingan sosial daripada pembagian harta secara privat.
Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana tata kelola aset wakaf harus dipersiapkan secara sistematis demi keberlangsungan manfaat (sustainability).

Rekonsiliasi Sejarah Dan Penghormatan Kepada Jasa Pendahulu.
​Narasi hidup H. Sutrisno juga memberikan perspektif tentang pentingnya menghargai akar sejarah. Meskipun terdapat diskrepansi administratif mengenai tanggal lahirnya (catatan formal 10 September 1954 vs catatan biologis 20 Mei 1954), beliau memandang hal tersebut sebagai bagian dari dinamika masa lalu.
​Kehilangan ibu kandung di usia 9 bulan dan tumbuh tanpa dokumentasi visual sang ibu tidak membuatnya patah semangat. Beliau justru menekankan pentingnya sistem pendukung sosial (social support system) yang luar biasa dari keluarga besar—mulai dari nenek, bapak angkat, hingga sepupu. Nama-nama seperti Fatimah, Sutardjo, Djahuri, Daryuni, Soepono, Minto Asih, dan Sukarti diabadikan dalam ingatannya sebagai pilar-pilar yang membentuk karakter dan kesuksesannya hari ini.

Pesan Edukatif: Integritas Dalam Mengemban Amanah.
​H. Sutrisno mengakui bahwa dalam menjaga amanah wakaf, terkadang timbul letupan emosi ketika melihat ada pihak yang mencoba membelokkan arah tujuan masjid. Hal ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa:
​Amanah adalah tanggung jawab moral yang sangat berat dan harus dijaga dengan prinsip ketegasan.
​Wakaf harus dikelola secara inklusif untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan sektarian.
​Kedermawanan sejati adalah saat seseorang mampu memberikan apa yang ia usahakan sendiri untuk kepentingan orang banyak.
​Melalui perjalanan hidupnya, H. Sutrisno mengajarkan bahwa usia 72 tahun bukan sekadar angka, melainkan akumulasi dari integritas, rasa syukur, dan pengabdian yang tiada henti bagi masyarakat dan agama.

Catatan Pesan ini disusun untuk memberikan penghormatan atas dedikasi sekaligus meluruskan perspektif publik mengenai ketegasan  H. Sutrisno, dalam menjaga Masjid Al-Barokah. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Amiin.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati