Dengan Tidak Menerima Gratifikasi Ilegal, Kita Sedang Membangun Pondasi Kepercayaan Publik Yang Lebih Kuat Bagi Bangsa Ini
PEMALANG - Masyarakat kita dikenal sangat murah dalam berbagi. Seringkali, mereka memberi murni karena rasa syukur dan menjaga hubungan silaturahmi.
Di sinilah peran kita untuk mengedukasi Pengguna Layanan dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan.
"Terima kasih banyak atas perhatiannya, Pak/Bu. Niat baik Bapak/Ibu sudah kami terima dengan sangat baik. Namun, mohon maaf sekali, sebagai Pelayan Publik kami berkomitmen untuk tidak menerima pemberian dalam bentuk apa pun. Mohon doanya saja agar kami selalu konsisten melayani dengan amanah. Doa Bapak/Ibu adalah hadiah Lebaran terbaik bagi kami."
Idulfitri adalah hari kemenangan. Mari kita genapkan kemenangan tersebut dengan tetap tegak menjaga integritas. Dengan tidak menerima gratifikasi ilegal, kita sedang membangun pondasi kepercayaan publik yang lebih kuat bagi bangsa ini.
Selamat menyambut Idulfitri. Mari melayani dengan hati, tanpa mengharap budi, demi pelayanan publik yang bersih dan berintegritas.
Jadi ketika Ramadan telah usai, dan gema IdulFitri ada di depan mata. Di tengah suasana lebaran, ada sebuah tradisi mulia yang ada di budaya kita: saling memberi dan berbagi kebahagiaan. Namun, dalam mengemban amanah sebagai pelayan publik, tradisi ini membawa tantangan tersendiri.
Melansir dari terbitan pemberitaan https://jaga.id, disebutkan bahwa, "Bentuk Penerimaan hadiah jika diterima dari pengguna layanan—sekecil apa pun itu—bisa masuk dalam kategori gratifikasi ilegal".
Mungkin terbersit tanya, "Hanya sekadar kue lebaran atau bingkisan kecil, apa salahnya?" Namun, menjaga diri dari pemberian terkait jabatan bukan sekadar soal aturan saja, melainkan soal menjaga esensi ibadah kita:
-Keadilan untuk semua: Pelayanan publik adalah hak setiap warga negara. Dengan menolak pemberian, kita memastikan bahwa kualitas layanan kita tetap sama bagi siapa pun, tanpa memandang "buah tangan" yang dibawa.
-Menjaga marwah diri: Integritas adalah pakaian terbaik. Jika sebulan penuh kita belajar menahan diri dari lapar dan dahaga, maka menjaga diri dari pemberian yang tidak seharusnya adalah bentuk kelulusan ujian integritas kita.
-Profesionalisme yang humanis: Senyum tulus dan ucapan "terima kasih" dari masyarakat sebenarnya adalah penghargaan tertinggi. Kepuasan mereka saat urusannya selesai dengan lancar adalah "THR" batin bagi setiap pelayan publik yang amanah.
**Red/(Eko B Art).
Comments
Post a Comment