Terang Gummy: Inovasi Mahasiswa UNDIP Ubah Jahe Desa Klareyan Jadi Camilan Fungsional Modern Berbasis Fitoterapi Lokal
PEMALANG - Di Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, geliat inovasi pelan namun pasti bergerak dari dapur-dapur kecil menuju etalase pasar yang kian modern. Di sanalah saya, Tiurma Fransiska Simanullang, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, menjalani Kuliah Kerja Nyata Tematik bersama rekan-rekan dan di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Siti Fatimah, M.Kes., Luthfansyah Mohammad, A.Md., S.Tr.T., M.T., serta Yusuf Ma’rifat Fajar Azis, S.T., M.T. Desa ini memiliki kekayaan rimpang yang akrab bagi orang Jawa: jahe. Hampir setiap rumah memeliharanya, sebagian mengolahnya menjadi minuman hangat, sebagian lagi menjualnya ke pasar dalam bentuk segar. Namun, dalam arus pasar yang berubah cepat, kebutuhan konsumen tidak hanya berhenti pada wedang jahe; generasi muda dan kelompok lansia mendambakan bentuk konsumsi yang lebih ramah, praktis, dan menyenangkan. Di situlah program kami mengambil tempat, mencoba menjawab persoalan lama dengan wajah baru melalui diversifikasi produk olahan jahe.
Sejak hari pertama, dukungan Kepala Desa Klareyan, Bapak Wiharnyo, S.T., menenangkan langkah. Beliau menyampaikan dengan lugas bahwa desa menyimpan potensi besar di balik kebiasaan lama; jahe yang selama ini direbus dan disruput selayaknya minuman malam, ternyata juga bisa diangkat menjadi komoditas camilan modern dengan nilai tambah lebih tinggi. Mitra UMKM kami, Bapak Eko Siswoyo, S.Pd., sudah lama mengelola rumah produksi jahe yang menghasilkan wedang instan dan minuman herbal. Beliau tahu betul siklus jual-beli, naik-turun permintaan, dan betapa kerasnya persaingan ketika produk hanya itu-itu saja. Di sela suara mesin sealer dan aroma manis bumbu, beliau menerima kami dengan hangat, membuka ruang dapur dan ruang belajar yang menyatu, mengizinkan kami bereksperimen untuk melahirkan “anak baru” dari keluarga besar olahan jahe.
Dari proses kaji cepat yang kami lakukan bersama masyarakat, terlihat jelas dua hal: potensi dan permasalahan. Potensinya terletak pada ketersediaan bahan baku, keterampilan dasar pengolahan, serta jaringan penjualan rumah tangga yang sudah berjalan. Permasalahannya ada pada bentuk dan citra produk. Jahe identik dengan pedas, minuman, dan kesan “obat” yang tidak selalu menarik bagi anak-anak. Padahal, kebutuhan keluarga terhadap camilan sehat meningkat, sementara pasar dipenuhi kudapan tinggi gula tanpa manfaat herbal. Kami memutuskan mengembangkan produk berbasis fitoterapi lokal yang menjodohkan jahe dengan bunga telang serta sentuhan rasa jeruk manis agar menyegarkan. Gagasannya kami beri nama “Terang Gummy: Pengembangan Camilan Fungsional Berbasis Fitoterapi Lokal meliputi Jahe dan Bunga Telang untuk Peningkatan Nafsu Makan dan Asupan Mikronutrien.” Nama “Terang” kami pilih bukan hanya karena telang menghadirkan warna cerah alami, tetapi juga karena kami ingin produk ini menjadi titik terang bagi UMKM desa untuk melangkah ke pasar yang lebih luas.
Pengerjaan formulasi kami mulai dari hal paling mendasar: bagaimana menjaga karakter jahe sebagai bahan aktif tanpa membuat lidah anak-anak menolak. Kami mengumpulkan jahe segar pilihan dari petani sekitar desa, mencucinya hingga bersih, lalu mengirisnya tipis untuk mempercepat pelepasan senyawa aromatik dan pedas yang khas. Proses ekstraksi kami lakukan dengan perebusan terkontrol, menjaga suhu dan waktu agar rasa hangat tetap tinggal namun getirnya tidak mendominasi. Kami belajar dari sesi uji coba awal bahwa ekstraksi yang terlalu lama membuat cairan pekat dan cenderung menyengat; karenanya, kami mengatur rasio jahe dan air yang seimbang dan menambahkan fase perenggangan suhu agar hasilnya bersahabat bagi lidah anak-anak dan lansia.
Bersamaan dengan itu, kami menyiapkan seduhan bunga telang yang kaya antosianin untuk warna alami biru keunguan yang memikat. Bunga telang kering kami seduh dalam air panas, lalu kami diamkan sejenak agar pigmen larut sempurna. Kami menemukan bahwa pH memengaruhi warna telang; keasaman ringan dari jeruk manis menggeser rona biru menjadi ungu lembut yang estetik, ekstrak jeruk manis memberi kesegaran sekaligus kontribusi vitamin C.
Tahap pengentelan adalah jantung pembuatan gummy. Kami mempertimbangkan tiga opsi: gelatin sapi halal, agar-agar, dan pektin. Gelatin menghadirkan kekenyalan lentur dan mulut-feel yang disukai anak-anak; agar-agar memberi set yang lebih padat dan stabil pada suhu ruang; pektin memberi gigitan khas permen buah. Setelah berdiskusi dengan Bapak Eko dan mempertimbangkan kemudahan produksi rumahan, kami memilih menggunakan gelatin food grade halal untuk edisi uji coba karena prosesnya lebih sederhana dan hasil teksturnya paling “bersahabat” bagi target konsumen. Gelatin kami bloom terlebih dulu dalam air dingin hingga butiran menyerap air, lalu kami larutkan dalam campuran ekstrak hangat yang sudah memadukan jahe, telang, dan jeruk. Madu murni kami tambahkan sebagai pemanis alami, juga sedikit gula pasir untuk kestabilan, serta sejumput asam sitrat sebagai pengatur keasaman agar rasa segar tidak cepat pudar dan struktur gel lebih stabil. Pada tahap ini, adonan kami aduk perlahan untuk menghindari gelembung udara berlebih dan menjaga kejernihan.
Setelah homogen, adonan hangat kami tuang ke dalam cetakan silikon berbentuk hati, bintang, dan kubus kecil. Bentuk-bentuk ini bukan sekadar estetika; ia adalah strategi persuasi kuliner untuk anak-anak. Kami mendinginkan cetakan hingga set, lalu melepas gummy satu per satu, memeriksa elastisitasnya dengan menekan perlahan dan melihat apakah ia kembali ke bentuk semula tanpa retak. Beberapa batch awal terlalu lembut karena rasio gelatin kurang; beberapa batch lain terlalu keras karena pemanasan berlebihan. Catatan-catatan kecil itu kami simpan rapi sebagai jurnal produksi, agar ketika UMKM menerapkan, mereka punya panduan yang tidak hanya berisi “resep”, melainkan juga batas toleransi dan trik menjaga konsistensi.
Uji organoleptik kami laksanakan secara sederhana namun terstruktur. Anak-anak menjadi panelis utama untuk melihat daya tarik visual dan penerimaan rasa; para lansia mencoba untuk menilai kenyamanan di mulut dan lambung; masyarakat umum berperan menilai aftertaste dan “keinginan membeli ulang.” Responnya menggembirakan. Anak-anak menyukai warna ungu lembut dan aroma jeruk yang menutupi sebagian “bau jamu.” Mereka menyebutnya “permen jahe yang lucu.” Para lansia mengatakan sensasi hangatnya tidak menusuk, teksturnya mudah dikunyah, dan tidak menimbulkan rasa panas di perut. Masyarakat luas menilai produk ini “beda” dari jahe yang biasa, modern tetapi tidak meninggalkan nilai tradisi. Masukan pun hadir: ada yang meminta variasi rasa, ada yang menyarankan ukuran lebih kecil untuk anak balita, ada pula yang mengusulkan versi “less sugar” untuk penderita diabetes. Semua masukan kami rangkum menjadi rencana pengembangan varian: rasa jeruk klasik, jeruk-markisa untuk keasaman yang lebih playful, dan varian madu-lemon rendah gula.
Ketika kualitas sensorik mulai stabil, kami masuk ke pembahasan higienitas dan shelf life. Kami memperkenalkan kebiasaan sederhana yang kuat dampaknya: sanitasi alat dengan air panas atau alkohol food grade pada permukaan yang bersentuhan langsung dengan produk, pengeringan rak, dan penggunaan sarung tangan serta penutup kepala saat produksi. Kami mengajak tim UMKM menimbang ulang penggunaan air matang, menyaring ekstrak dengan kain kasa steril, dan menyimpan gummy di ruang kering berventilasi baik. Untuk memperpanjang umur simpan tanpa bahan pengawet sintetis, kami menekankan kontrol aktivitas air melalui pengeringan ringan dengan kipas bersih, penggunaan kemasan kedap, dan penyimpanan pada suhu sejuk. Kami juga menguji stabilitas warna telang terhadap cahaya, lalu menyarankan kemasan yang meminimalkan paparan, misalnya pouch dengan jendela kecil atau label yang menutupi sebagian permukaan.
Pengemasan adalah panggung pertama produk bertemu pembeli. Bersama Bapak Eko, kami menyusun konsep merek yang sederhana dan kuat: “Terang Gummy” dengan ikon jahe bergandeng bunga telang, dihiasi garis lengkung yang memberi kesan hangat dan ramah. Kami memilih standing pouch food grade sebagai kemasan utama karena fleksibel, mudah disegel, dan menampilkan isi dengan jendela transparan kecil. Label kami desain informatif: komposisi ringkas, klaim sewajarnya seperti “menggunakan pewarna alami bunga telang,” saran penyajian, nomor kontak, dan alamat produksi. Kami menghindari klaim medis, menjaga etika dan regulasi pangan. Kami juga menulis saran penyimpanan dan tanggal kedaluwarsa konservatif berdasarkan uji simpan awal, sembari menyiapkan rencana uji lanjutan ketika produksi meningkat.
Aspek legal kami bicarakan sejak dini agar langkah UMKM tidak tersendat di tengah jalan. Kami mendorong pendaftaran Nomor Induk Berusaha sebagai fondasi legal, pelatihan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik dari dinas terkait, dan perizinan PIRT sebagai gerbang pemasaran yang lebih luas. Sertifikasi halal kami dorong untuk memperkuat kepercayaan konsumen, terlebih bahan yang digunakan memungkinkan proses halal yang jelas. Kami juga menyarankan dokumentasi batch sederhana: tanggal produksi, kode batch, komposisi, dan catatan sensorik singkat sehingga jika ada keluhan, penelusuran sebab bisa dilakukan cepat.
Strategi pemasaran kami rancang berlapis, dimulai dari pasar terdekat yang paling mungkin menerima. Pasar offline desa menjadi ladang awal: titip jual di warung sembako dan toko camilan, kolaborasi dengan koperasi sekolah untuk program jajanan sehat, serta kehadiran di acara car free day kecamatan dengan meja tester yang rapi. Kami membayangkan posyandu dan PKK sebagai simpul penyebaran informasi; para ibu yang merasakan sendiri anaknya mau “minum jamu” dalam bentuk gummy akan menjadi duta yang paling autentik. Untuk memperkuat daya tarik, kami menyusun cerita merek yang menekankan asal-usul bahan lokal, manfaat alami, dan kerja tangan warga desa. Cerita ini kami bawa ke poster sederhana, pamflet, dan narasi lisan saat demo.
Ruang digital tidak kami lewatkan. Instagram menjadi etalase visual untuk warna telang yang memesona; TikTok menampung video singkat “dapur UMKM” yang humanis; Facebook menjaga jembatan dengan komunitas lokal. Kami merencanakan konten mingguan yang ringan: behind the scenes, tips menyimpan gummy, permainan tebak warna, hingga cerita petani jahe yang memasok bahan baku. Di marketplace, kami menyiapkan paket kecil 50–80 gram untuk percobaan, serta paket ekonomis keluarga. Kami juga memikirkan bundling musiman, misalnya “paket masuk sekolah” dengan label nama anak, atau “paket keluarga sehat” untuk momentum liburan.
Harga kami susun dengan cermat, tidak hanya menutup biaya bahan, kemasan, dan tenaga, tetapi juga menyisakan ruang margin yang cukup untuk pengembangan. Kami mengajak Bapak Eko menghitung biaya per batch, menambahkan cadangan untuk susut dan uji coba, kemudian menetapkan harga ritel yang tetap terjangkau. Kami membicarakan diskon untuk penjualan grosir, tetapi tetap menjaga agar merek tidak terjebak perang harga. Di sinilah kekuatan cerita merek dan kualitas sensorik bekerja, sebab produk yang dianggap bernilai tidak perlu menjadi yang termurah.
Kemitraan kami perluas pelan-pelan. Kami membayangkan kerja sama dengan guru PAUD dan SD untuk edukasi “herbal ramah anak,” bekerja sama dengan puskesmas untuk sosialisasi gaya hidup sehat, dan membuka peluang co-branding dengan usaha roti lokal untuk menjadikan gummy sebagai topping sehat. Kami juga mempertimbangkan sinergi dengan pengrajin kemasan untuk desain box hadiah yang cocok sebagai oleh-oleh Pemalang. Setiap kemitraan kami catat efeknya, apakah meningkatkan penjualan, memperluas audiens, atau menambah kredibilitas.
Keberlanjutan usaha menjadi napas panjang program ini. Di lini bahan baku, kami mendorong pola kemitraan yang adil dengan petani jahe, memastikan harga yang layak dan jadwal panen yang sinkron dengan produksi. Pulp jahe sisa penyaringan kami olah ulang menjadi teh celup sederhana atau campuran bumbu kering, mengurangi limbah organik. Air bilas pertama kami arahkan untuk menyiram tanaman non-konsumsi, sementara air bersih kami jaga penggunaannya dengan prosedur “sekali proses, hasil maksimal.” Energi kami hemat dengan menutup panci saat perebusan, memanfaatkan panas sisa untuk melarutkan gelatin, dan mematikan alat ketika tidak terpakai. Di kemasan, kami mengeksplorasi material dengan lapisan tipis yang tetap menjaga mutu namun mengurangi plastik berlebih, serta menawarkan program isi ulang bagi pelanggan setia dengan wadah kedap milik sendiri untuk skala lokal.
Keberlanjutan juga menyentuh manusia. Kami mengajak remaja desa untuk terlibat sebagai tenaga produksi paruh waktu, memberi pelatihan kebersihan dan teknik sederhana, sambil membuka jalan keterampilan yang dapat mereka bawa ke dunia kerja. Para ibu kami latih menjadi duta merek, bukan sekadar penjual, sekaligus penerima manfaat ekonomi langsung. Kami menyiapkan SOP yang mudah dibaca, disertai foto langkah demi langkah, agar siapa pun yang baru bergabung bisa cepat beradaptasi. Kami membangun budaya catatan—catatan kualitas, catatan keluhan, catatan ide—sebab usaha kecil yang rapi administrasi lebih tahan guncangan.
Peran Dosen Pembimbing Lapangan terasa di setiap simpang. Dr. Siti Fatimah menekankan pentingnya ilmiah yang membumi: takaran dan suhu perlu dicatat, tetapi rasa masyarakat adalah kompas. Luthfansyah Mohammad memberi masukan tentang efisiensi proses dan tata letak meja kerja agar alur bersih-kotor tidak bertabrakan. Yusuf Ma’rifat Fajar Azis menyoroti kemasan dan citra, mendorong kami berani tampil modern tanpa kehilangan jejak tradisi. Kepala Desa Wiharnyo hadir pada momen-momen penting, memberi dukungan moral dan praktis, membantu membuka jalur komunikasi dengan sekolah dan kelompok masyarakat. Bagi Bapak Eko, kebersamaan ini menyalakan kembali api ingin maju; beliau menyaksikan langsung bagaimana satu resep bisa menjelma rencana bisnis yang nyata.
Sebagai mahasiswa, saya belajar bahwa inovasi bukan sekadar mencipta sesuatu yang belum ada, tetapi membuat sesuatu yang ada menjadi lebih dekat, lebih dapat dinikmati, dan lebih memberi manfaat. Saya menyaksikan rasa ragu anak-anak memudar ketika melihat cetakan bintang ungu berkilau; saya mendengar tawa seorang nenek ketika mengatakan gummy ini “hangatnya sopan”; saya mencatat komentar seorang bapak yang mengusulkan varian “lebih pedas” untuk dirinya. Semua itu menjadi data dan kisah yang setara pentingnya. Di laboratorium kampus, angka-angka bicara; di desa, manusia yang berbicara. Menggabungkan keduanya adalah inti pengalaman KKN-T saya di Klareyan.
Ke depan, kami membayangkan “Terang Gummy” tidak berhenti pada satu varian. Dengan pondasi proses yang sudah ditata, UMKM bisa menambahkan sentuhan lokal lain, seperti madu karet dari desa tetangga, atau memperkenalkan edisi khusus ketika panen jeruk melimpah. Kami juga menatap kemungkinan skala yang sedikit lebih besar dengan alat sederhana seperti panci double boiler berkapasitas lebih besar, kompor hemat energi, dan mesin sealer yang konsisten suhu. Ketika permintaan mulai bertambah, penjadwalan produksi mingguan dengan target realistis akan menjaga kualitas dan stamina tim.
Harapan kami, ketika konsumen mengunyah sepotong gummy ungu itu, mereka tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga merasakan cerita: cerita tentang jahe yang tidak lagi berada hanya di cangkir malam, tentang telang yang mewarnai tanpa menyakiti, tentang jeruk yang menautkan semua dengan segar, dan tentang tangan-tangan desa yang bekerja bersama. “Terang” bukan sekadar nama; ia adalah sikap untuk menyalakan yang baik, merawat yang lahir, dan membiarkannya tumbuh dengan arah yang benar.
Pada akhirnya, program “Diversifikasi Produk Olahan Jahe untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM Lokal” di Desa Klareyan adalah potret kecil tentang bagaimana universitas, pemerintah desa, dan pelaku usaha dapat berjalan segaris. Dari ruang dapur yang sederhana, dari percakapan sehabis magrib, dari catatan tangan di buku minyak, lahirlah sebuah produk yang punya peluang berdiri sejajar di rak-rak toko modern. Tentu jalan ke sana tidak instan; ia menuntut kedisiplinan proses, konsistensi rasa, keberanian tampil, dan kejujuran pada konsumen. Namun modal sosialnya sudah terbentuk: ada kepercayaan, ada pengetahuan, dan ada kemauan.
Ketika saya menutup periode KKN-T ini, saya membawa pulang lebih dari sekadar laporan. Saya membawa pemahaman bahwa ilmu rekayasa kimia industri bisa sangat manusiawi ketika diterapkan dengan empati. Saya membawa keyakinan bahwa UMKM, dengan pendampingan yang tepat, bisa menanggalkan rasa minder dan melangkah percaya diri. Dan saya membawa mimpi sederhana: suatu hari, “Terang Gummy” tidak hanya menjadi oleh-oleh khas Klareyan, tetapi juga simbol bagaimana desa menjemput masa depan tanpa meninggalkan akarnya. Jika kelak Anda menjumpai sepotong gummy ungu dengan senyum jahe di labelnya, semoga Anda juga melihat wajah-wajah desa yang bekerja di baliknya—wajah yang percaya bahwa cita rasa baik selalu menemukan jalannya.
Demikian narasi berita panjang ini, ditulis sepenuh hati dari pengalaman lapangan dan percakapan hangat bersama para pihak. Terima kasih kepada Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Siti Fatimah, M.Kes., Luthfansyah Mohammad, A.Md., S.Tr.T., M.T., dan Yusuf Ma’rifat Fajar Azis, S.T., M.T., atas arahan yang sabar dan tajam; kepada Bapak Wiharnyo, S.T., Kepala Desa Klareyan, atas dukungan tanpa pamrih; dan tentu kepada Bapak Eko Siswoyo, S.Pd., beserta tim UMKM jahe, yang membuka pintu rumah produksi dan hati, sehingga “Terang Gummy” dapat menemukan bentuknya. Semoga cerita ini menjadi pijakan pertama dari banyak langkah berikutnya, dan semoga terang itu terus kita jaga bersama.(Eko B Art).
Comments
Post a Comment