Program Social Kemasyarakatan "Edukasi Pengelolaan Sosial Media Dengan Sederhana Dan Bermanfaat"

PEMALANG - Tepat nya pada hari sabtu sore 09 agustus 2025 yang dimulai pada pukul 16.00 WIB di desa Klareyan Dusun 4 menjadi saksi atas berjalannya program kerja social kemasyarakatan Tim 123 Desa Klareyan Kelompok 4. 

Pada sore hari yang cerah, tepat nya pada pukul 16.00 WIB, Kegiatan social masyarakat ibu-ibu dusun 4 sudah mulai berdatangan untuk menghadiri sosialisasi yang diadakan oleh kelompok 4. Sosialisasi yang diadakan oleh kelompok 4 ini cukup padata, dikarenakan sosialiasi ini menghadirkan 4 program kemasyarakatan sekaligus. 
Dengan semangat yang membara sekaligus kegugupan yang tidak bisa disembunyikan di sore hari, Kami kelompok 4 menyiapkan materi yang akan dipresentasikan kepada ibu-ibu warga RT 5 dusun 4. Rundown acara social masyarakat dimulai dengan program kerja mengenai edukasi social media secara sederhana dan bermanfaat lalu dilanjut dengan edukasi mengenai edukasi pinjaman online dan penipuan online di Dusun 4 Desa Klareyan lalu lanjut dengan edukasi pembuatan pestisida nabati kepada warga dusun 4, materi terakhir edukasi mengenai memanfaatkan limbah lele menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Acara dimulai dengan edukasi mengenai pengelolaan sosial media dengan sederhana dan bermanfaat, saat menggunakan sosial media kita harus bijak menggunakan sosial media dengan baik dan benar. Tidak menyebarkan hal-hal yang negatif dan juga menjadi sarana bullying. diketahui bahwa media sosial sudah sangat dekat dengan kehidupan warga, khususnya kalangan ibu rumah tangga. Namun, kedekatan ini tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang tepat mengenai penggunaan media sosial. Penyebaran berita hoaks yang cepat meluas di grup WhatsApp, Penggunaan media sosial sebagai ajang perundungan (bullying), terutama pada anak-anak dan remaja, Kurangnya pemahaman tentang keamanan digital, misalnya membagikan informasi pribadi secara sembarangan.
Minimnya pemanfaatan media sosial untuk hal produktif, seperti promosi usaha kecil atau berbagi informasi positif.
Melihat kondisi ini, Kelompok 4 merasa perlu menghadirkan edukasi sederhana tentang bagaimana mengelola media sosial dengan baik dan benar. Tujuannya jelas: agar ibu-ibu bukan hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memanfaatkan media sosial secara bijak dan bermanfaat. Sesi inti dimulai setelah pembukaan dan doa bersama. Anggota Kelompok 4 maju dengan slide presentasi sederhana. Fokus pertama adalah peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari. “Ibu-ibu, sekarang hampir semua orang punya WhatsApp, ada yang tiap hari dipakai untuk kirim pesan ke keluarga, ada juga yang sering dipakai untuk grup arisan. Tapi apakah kita sudah tahu cara menggunakannya dengan bijak?” tanya sang pemateri sambil tersenyum.
Pertanyaan sederhana itu langsung membuat ibu-ibu saling melirik dan tersenyum kecil. Beberapa mengangguk, ada pula yang menjawab spontan, “Kadang ya asal kirim saja.”
Dari titik itulah pemateri mulai menjelaskan bahwa media sosial tidak hanya sekadar tempat hiburan atau komunikasi, melainkan juga alat yang bisa memberikan manfaat besar. Misalnya, media sosial bisa digunakan untuk Memperluas pertemanan dan menjaga silaturahmi, Mencari informasi positif yang bisa menambah pengetahuan, Mempromosikan usaha kecil seperti jualan makanan, kerajinan, atau hasil kebun, Membangun komunitas dengan orang-orang yang memiliki minat sama.Materi pertama yang disampaikan adalah tentang peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Pemateri menjelaskan bahwa media sosial bukan hanya tempat berkirim pesan atau melihat hiburan, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk memperluas silaturahmi, mencari informasi positif, hingga mempromosikan usaha kecil. Beberapa contoh langsung diberikan, misalnya ibu-ibu yang menjual makanan, keripik, atau kue bisa dengan mudah memposting produk mereka di grup WhatsApp, sehingga lebih banyak orang tahu. Penjelasan ini membuat peserta manggut-manggut tanda setuju.
Bagian berikutnya menekankan pentingnya bijak bermedia sosial. Pemateri menyampaikan bahwa apa pun yang dibagikan di media sosial bisa berdampak pada orang lain. Karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: jangan asal menyebarkan berita sebelum dicek kebenarannya, selalu jaga etika saat berkomentar, jangan ikut menyebarkan olokan atau aib orang lain, dan jangan mudah membagikan informasi pribadi. Untuk memperkuat penjelasan, pemateri menceritakan kasus nyata tentang penyebaran hoaks penculikan anak di desa lain yang sempat membuat panik warga. Cerita ini membuat peserta teringat pengalaman serupa dan semakin sadar bahwa bijak bermedia sosial adalah hal penting.
Pemateri kemudian beralih ke masalah sehari-hari etika penggunaan dan cara membuat konten yang sederhana dan menarik. Ia menyatakan bahwa ibu-ibu tidak perlu memiliki kamera mahal atau aplikasi edit yang rumit. Hasil foto dapat tetap bagus dengan menggunakan HP yang sudah ada. Salah satu saran yang diberikan adalah menggunakan cahaya alami, memastikan objek foto jelas, menjaga konsistensi posting, dan menyertakan deskripsi singkat yang mencakup nama produk dan harga. Pemateri menunjukkan contoh foto Masakan dan dibuat status whatsApp dan juga story instagram.Saat membuat konten di media sosial pun juga harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar agar orang-orang tertarik dan juga menggunakan emoticon yang sangat rame agar semua tertarik melihat nya. Selain itu, penggunaan emoticon juga dapat menambah daya tarik visual. Emoticon membuat tampilan status atau story lebih hidup, berwarna, dan menyenangkan untuk dilihat. Misalnya, menambahkan ikon api 🔥 untuk menandakan pedas, atau ikon hati ❤️ untuk menunjukkan rasa cinta pada masakan yang dibuat. Pemakaian emoticon yang ramai namun tetap sesuai konteks akan membuat konten lebih mudah diperhatikan, sehingga audiens tidak hanya sekadar melihat sekilas, tetapi juga ikut merasakan semangat dan keseruan dari unggahan tersebut. Beberapa ibu kemudian tertawa setelah saya bilang kalau membuat status whatsApp menggunakan emoticon yang banyak sekali agar semua orang tertarik dengan konten nya. 
Di akhir acara, pemateri menutup sesi dengan memberikan tips praktis tentang apa saja yang boleh dilakukan saat bermain media sosial. Ia menekankan bahwa media sosial sebaiknya digunakan untuk hal-hal positif, seperti menjaga silaturahmi, berbagi informasi bermanfaat, atau mempromosikan usaha kecil. Dengan memanfaatkan platform digital secara tepat, media sosial dapat menjadi sarana pengembangan diri dan pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar tempat hiburan semata. 
Selain hal yang dianjurkan, pemateri juga menegaskan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya, menyebarkan berita hoaks tanpa memastikan kebenarannya, menuliskan komentar kasar yang bisa menyinggung perasaan orang lain, atau membagikan data pribadi secara sembarangan. Tindakan tersebut bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain, bahkan memicu masalah hukum atau konflik sosial. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kesadaran dalam setiap aktivitas digital menjadi sangat penting. 
 pemateri mengingatkan bahwa media sosial adalah cerminan diri di ruang publik. Setiap unggahan bisa dilihat banyak orang, sehingga bijaklah dalam memilih konten yang dipublikasikan. Gunakan bahasa yang sopan, unggah konten yang memberi inspirasi, serta hindari hal-hal negatif yang bisa menurunkan citra diri maupun keluarga. Dengan memahami batasan antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan, ibu-ibu diharapkan mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak, kreatif, dan bermanfaat bagi lingkungannya.




Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati