Program kerja multidisiplin 1 Mengeksplor Sejarah Kebudayaan Jahe Di Indonesia dalam ranah international

PEMALANG, 16 agustus 2025- Tepatnya di hari sabtu sore yang sangat cerah di desa klareyan yang menjadi saksi atas berjalan nya program multidisiplin 1. Program multidisiplin ini melibatkan mahasiswa dibidang soshum dan dibidang ilmu Sastra inggris, Administrasi Publik, Hubungan International, Ilmu pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi. Judul program program multidisiplin 1 ini ialah, “Mengeksplor Sejarah Jahe indonesia dalam ranah international”. Program ini pengerjaan nya melalui wawancara bersama pelaku umkm mitra desa, yaitu bapak eko, ia adalah pelaku umkm jahe di desa klareyan. 

Dalam proses penyusunan buku ini, tim menghadapi berbagai tantangan atau hambatan tersendiri terutama dalam pengumpulan data dan studi literatur. Karena ini pembuatan buku yang dimana diperlukan referensi dari berbagai jurnal ilmiah yang valid. Proses pencarian data ini dibutuhkan waktu yang cukup lama dikarenakan harus relevan dengan judul chapter. 

Desa Klareyan yang terletak di kabupaten pemalang merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan UMKM, khusus nya pada sektor pertanian. Salah satu komoditas unggulan di desa klareyan ini adalah rempah-rempah jahe, yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi yang tinggi tetapi juga manfaat kesehatan yang banyak. 
UMKM di Indonesia memegang peran penting dalam mengeksplorasi sejarah kebudayaan jahe hingga ke ranah internasional. Jahe yang sejak dahulu digunakan dalam tradisi dan kesehatan masyarakat Nusantara kini menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Bagi pelaku UMKM, jahe tidak hanya sekadar rempah, tetapi juga simbol kearifan lokal yang bisa diangkat menjadi produk bernilai jual tinggi. Misalnya, dengan mengemas wedang jahe tradisional menjadi minuman instan siap seduh atau membuat produk turunan seperti permen, sirup, dan teh jahe, UMKM mampu menjembatani warisan budaya dengan selera konsumen modern. 

Dalam konteks internasional, UMKM memiliki peluang besar untuk memperkenalkan budaya jahe Indonesia ke pasar global. Dengan tren gaya hidup sehat dan meningkatnya permintaan herbal di dunia, produk olahan jahe dari UMKM bisa menjadi representasi Indonesia dalam perdagangan rempah modern. Strategi branding yang menekankan pada sejarah jahe Nusantara, cerita budaya, dan kualitas rasa khas Indonesia dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk UMKM dari pesaing luar negeri seperti India atau Tiongkok. Dengan demikian, UMKM tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga berperan sebagai agen diplomasi budaya. 

Namun, UMKM harus beradaptasi dengan standar global dalam hal kualitas produk, desain kemasan, dan pemasaran digital agar dapat bertahan di ranah internasional. Umum kecil dan menengah (UMKM) dapat memperoleh akses ke pasar yang lebih luas melalui inovasi dalam teknologi pengolahan jahe, sertifikasi halal dan organik, dan promosi melalui platform e-commerce internasional. Jika UMKM melakukan hal ini, mereka akan melestarikan sejarah kebudayaan jahe dan membuatnya menjadi identitas Indonesia yang dihormati di seluruh dunia. Produk olahan jahe dari UMKM Indonesia berhasil menarik perhatian pengunjung di sebuah forum internasional tentang rempah-rempah di Singapura. Stan pameran yang dihiasi dengan nuansa budaya Nusantara menampilkan berbagai produk, mulai dari permen herbal, serbuk jahe instan, hingga minuman siap saji yang terbuat dari jahe. Para pengusaha UMKM dengan bangga mengatakan bahwa jahe yang mereka gunakan dipanen langsung dari petani lokal, sehingga mereka bukan hanya menjual produk, tetapi juga menceritakan kisah panjang tentang perjalanan jahe sebagai bagian dari sejarah Indonesia. 

Antusiasme pasar global menunjukkan bahwa jahe Indonesia memiliki daya tarik kuat karena memiliki cerita kebudayaan yang melekat. Beberapa calon distributor dari negara lain bahkan menyatakan bahwa mereka tertarik untuk bekerja sama, mengingat potensi besar jahe Indonesia untuk memenuhi permintaan konsumen global yang semakin peduli dengan gaya hidup sehat. Hal ini menjadi momentum penting bagi UMKM untuk terus mengembangkan produk baru yang tidak hanya enak dan bermanfaat, tetapi juga membawa identitas Indonesia sebagai negeri rempah-rempah. Keberhasilan ini pasti tidak datang dengan cepat. Banyak UMKM sekarang belajar strategi branding digital, sertifikasi internasional, dan pemasaran digital. Sebelumnya, mereka hanya menjual jahe secara tradisional di pasar lokal. Untuk membuat UMKM jahe Indonesia mampu bersaing dengan produk serupa dari negara lain, diperlukan dukungan dari pemerintah, komunitas bisnis, dan platform e-commerce global. Para pelaku UMKM berharap dengan semangat kebersamaan bahwa sejarah kebudayaan jahe Indonesia dapat terus hidup sekaligus mendunia dengan tangan-tangan kreatif anak-anak Indonesia.

Di buku ini juga tidak hanya membahas tentang Sejarah jahe dalam ranah international, Namun juga tentang manfaat jahe bagi kesehatan tubuh, Selama bertahun-tahun, jahe telah dikenal sebagai rempah serbaguna yang memiliki banyak manfaat kesehatan. Jahe adalah bahan utama dalam ramuan tradisional Indonesia untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan masuk angin, dan menghangatkan tubuh. Selama bertahun-tahun, jahe telah dikenal sebagai rempah serbaguna yang memiliki banyak manfaat kesehatan. Jahe adalah bahan utama dalam ramuan tradisional Indonesia untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meredakan masuk angin, dan menghangatkan tubuh. Jahe dianggap sebagai obat herbal yang efektif dan aman karena senyawa gingerol yang terkandung di dalamnya. Tidak mengherankan bahwa jahe selalu menjadi bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari masyarakat sejak lama. Jahe memiliki banyak manfaat kuliner selain bermanfaat untuk kesehatan. Jahe adalah bumbu utama dalam banyak hidangan Indonesia. Jahe memiliki aroma dan rasa hangat unik yang menambah rasa masakan Nusantara. Ini yang menjadikan masakan Indonesia semakin berciri khas dan diminati, bahkan oleh wisatawan asing yang ingin merasakan keunikan rempah Nusantara. Ini terlihat dalam wedang jahe, bandrek, gulai, dan sate.  

Sebagai salah satu komoditas unggulan indonesia, perdagangan jahe semakin mendapatkan sorotan di ranah international. Sebagai dari tren gaya hidup sehat yang berkembang pesat, peminatan jahe di seluruh dunia terus menerus meningkat. Menurut data lembaga perdagangan indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momen ini karena menjadi produsen rempah-rempah utama, Untuk memenuhi standar global dan mempertahankan daya saing dengan negara lain seperti india dan tiongkok, berbagai pelaku umkm hingga ekspotir besar mulai berkonsentrasi pada meningkatkan kualitas produksi jahe. 

Produk olahan jahe indonesia berhasil menarik perhatian pembeli asing di pameran dagang international. Sebagai rempah asli nusantara yang ditanam secara alami tanpa bahan kimia yang berlebihan, jahee indonesia dianggap memiliki nilai lebih dibandingkan pesaingnya. Produk turunan seperti serbuk instan, minyak atsiri jahee, dan permen herbal semakin diminati oleh pasar internasional. Fenomena ini menunjukan bahwa perdagangan jahe mencakup bukan hanya ekspor komoditas mentah tetapi juga penciptaan produk turunan berharga.  Namun, tantangan tetap ada dalam perdagangan jahe internasional. Mulai dari fluktuasi harga, persaingan kualitas, hingga keterbatasan akses logistik di beberapa daerah penghasil jahe masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi. Pemerintah bersama UMKM dan asosiasi eksportir berupaya memperkuat rantai pasok agar produk jahe Indonesia dapat lebih stabil di pasar global. Jika kolaborasi ini terus berjalan, maka perdagangan jahe tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mampu mengangkat identitas Indonesia sebagai “negeri rempah” yang berperan penting dalam peta perdagangan dunia.

Sebagai salah satu rempah terbaik di Nusantara, jahe semakin menunjukkan nilainya di pasar global. Seiring dengan tren global yang mengutamakan gaya hidup sehat dan konsumsi bahan alami, permintaan jahe meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang jahe Indonesia dipandang sebagai komoditas dengan nilai budaya dan ekonomi yang kuat oleh negara-negara di Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa jahe bukan hanya bumbu dapur tetapi juga simbol warisan rempah yang menyatukan Indonesia dengan dunia. Selain ekspor jahe mentah, produk turunan berbahan dasar jahe seperti minuman instan, permen herbal, dan minyak atsiri berhasil masuk ke pasar global. Banyak usaha kecil dan menengah (UMKM) yang berhasil di Indonesia mengolah jahe menjadi produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang memungkinkan mereka bersaing dengan produsen besar dari India dan Tiongkok. Kehadiran produk ini menunjukkan bahwa jahe Indonesia dapat diangkat sebagai ikon ekspor kreatif yang menggabungkan kesehatan, cita rasa, dan budaya.



Jahe tidak hanya berfungsi sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga berfungsi sebagai mediator antara budaya. Jahe sering diperkenalkan sebagai bagian dari tradisi Indonesia di berbagai pameran internasional bertema kuliner dan kesehatan. Misalnya, minuman khas seperti wedang jahe atau bandrek sering disajikan di acara kuliner di luar negeri, memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara melalui rasanya yang unik. Dengan demikian, jahe menjadi produk ekspor dan meningkatkan reputasi Indonesia di dunia. Selain itu, jahe memiliki peran penting dalam sektor kesehatan di seluruh dunia. Jahe memiliki banyak manfaat untuk meredakan peradangan, meningkatkan sistem kekebalan, dan membantu pencernaan, menurut banyak penelitian global. Permintaan untuk produk herbal yang terbuat dari jahe telah meningkat, terutama setelah pandemi COVID-19. Dengan standar kualitas internasional dan sertifikasi yang diakui dunia, fenomena ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk terus memperluas pasar ekspor produk herbal jahe.

Saat ini, jahe telah berkembang menjadi komoditas strategis yang memiliki dua manfaat: meningkatkan ekonomi dan mempertahankan identitas budaya Indonesia. Kehadiran jahe di seluruh dunia menunjukkan bahwa rempah-rempah Nusantara masih relevan di era modern. Jahe dapat meningkatkan pendapatan negara dan mengokohkan Indonesia sebagai pusat rempah dunia yang penting untuk perdagangan, budaya, dan kesehatan di seluruh dunia. Jahe adalah salah satu komoditas penting dalam perdagangan rempah-rempah kolonial, menurut sejarah. Rempah-rempah Nusantara seperti jahe, cengkeh, pala, dan lada menjadi incaran orang Eropa dari abad ke-16 hingga ke-18. Di pasar Eropa, jahe dianggap sebagai "emas hijau" karena aromanya yang tajam dan manfaatnya untuk kesehatan. Kala itu, transportasi jahe dari pedesaan Nusantara ke pelabuhan besar seperti Batavia sangat penting untuk dinamika perdagangan global.

Kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Nusantara pada tahun 1602 mengubah cara perdagangan rempah, termasuk jahe, menjadi sangat berbeda. VOC didirikan di Belanda pada tahun 1602 dan menguasai jalur perdagangan rempah dengan sistem monopoli yang ketat. Selain jahe, rempah-rempah lain sekarang diperdagangkan secara penuh oleh VOC daripada rakyat. Sementara harga jual ditetapkan secara sepihak demi keuntungan Belanda, petani lokal dipaksa menanam sesuai kebutuhan perusahaan dagang tersebut. Saat ini, jahe dipaksa masuk ke dalam jaringan perdagangan global yang dikontrol kolonial. Ini adalah komoditas dagang rakyat di pasar tradisional. Permintaan jahe dari Belanda dan negara-negara tetangga dipenuhi dengan ekspornya dari Batavia ke Eropa. Jahe digunakan sebagai obat, bumbu masakan, dan minuman herbal. Petani jahe di Nusantara hanya menghasilkan keuntungan kecil, sementara harga jahe di Eropa bisa naik berkali lipat. Ketidakadilan ini memicu penentangan rakyat terhadap sistem monopoli VOC.

Selain itu, perdagangan jahe di masa kolonial menunjukkan bagaimana jahe dapat digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan. VOC tidak hanya berdagang, tetapi mereka juga menguasai wilayah, memanfaatkan kerja paksa, dan melakukan kekerasan terhadap warga lokal yang tidak setuju dengan kebijakan mereka. Seharusnya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Nusantara, jahe malah menjadi alat eksploitasi yang menguntungkan penjajah. Catatan sejarah menunjukkan betapa buruknya monopoli rempah pada kehidupan budaya, sosial, dan ekonomi masyarakat. Namun demikian, sejarah perdagangan jahe selama era kolonial meninggalkan kesan yang signifikan pada persepsi Indonesia sebagai negara rempah-rempah. Jahe tercatat dalam catatan perdagangan global sebagai bagian dari rempah Nusantara yang legendaris dan populer di pasar domestik. Jahe kembali dipandang sebagai komoditas unggulan saat Indonesia berusaha mengembalikan popularitas rempahnya di kancah internasional. Jahe terus menjadi saksi dari perjalanan panjang perdagangan rempah yang mewarnai sejarah bangsa, dari zaman kolonial hingga zaman kontemporer.

Di buku ini juga menjelaskan tentang sejarah berdiri nya UMKM exist way Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bernama Exist ways merupakan salah satu mitra utama yang menjual berbagai makanan ringan dan minuman dengan olahan jahe, dan pemilik umkm exist ways yaitu bapak Eko Suswanto yang berlokasi di Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Bisnis kecil dan menengah (UMKM) ini bertujuan untuk menghasilkan produk kuliner yang tidak hanya lezat tetapi juga menyehatkan. Exist Ways mengolah jahe menjadi minuman dan camilan dengan cita rasa unik sambil mempertahankan nilai tradisi dengan memanfaatkan potensi lokal. Ada beragam makanan ringan dan minuman di kedai Exist Ways. Namun, minuman jahe juga dikenal sebagai wedang jahe adalah salah satu  ikon bisnis dan minuman andalan. Dibuat dengan racikan unik yang mampu menghangatkan tubuh, minuman ini dapat dinikmati di berbagai tempat. Selain menjual di tempat, UMKM Exist Ways berusaha untuk memperluas pasar melalui penjualan online dan kemasan praktis, sehingga produk olahan jahenya dapat diakses oleh lebih banyak orang, bahkan luar daerah.

Exist Ways didirikan sejak pandemi COVID-19. Bapak Eko Suswanto adalah pemilik perusahaan ini. Pada saat itu, ketika banyak bisnis terpaksa ditutup karena kebijakan lockdown, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka untuk mencegah virus menyebar. Karena tingginya permintaan terhadap minuman jahe yang dianggap dapat meningkatkan imunitas tubuh, keluarga Bapak Eko mendirikan UMKM jahe untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dari program JPS Bagian dari program  Program Mandiri didirikan oleh Bapak Eko dan teman pak eko pada tahun 2020 dan berfokus pada budidaya dan pengolahan jahe. Program ini menginspirasi banyak orang untuk menanam, membibitkan, dan bahkan menjual produk jahe, termasuk membuka kedai jahe. Sebanyak 40 orang mengikuti pelatihan penanaman jahe yang diadakan oleh program. Ibu Bapak Eko juga memproduksi jahe serbuk di angkringan jahe miliknya, yang diberi merek Si Dalang Jaka. Namun, ketika pandemi mereda dan minat masyarakat terhadap jahe menurun hingga tahun 2024, keluarga Bapak Eko kembali mengembangkan dan memperkuat merk Exist Ways (April, 2024), yang terus ada hingga sekarang.


Buku ini juga diberikan ke pelaku UMKM “exist way” bapak eko pada tanggal 18 agustus 2025 pada pukul 16.00 WIB. (Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati