“Permen Jahe Nusantara: Kreasi Rasa untuk Semua Kalangan dan Peningkatan Efisiensi UMKM Lokal"Jeremia Januando – Teknik Industri

PEMALANG - Desa Klareyan, 26 Juli 2025 — Desa Klareyan, yang terletak di Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, dengan Kepala Desa bernama Wiharnyo, S. T., kembali menjadi saksi lahirnya inovasi produk pangan lokal melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T). Dengan semangat pengabdian multidisiplin yang berorientasi pada ilmu dan aksi nyata, Jeremia Januando, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro, melaksanakan salah satu program kerja Mata Kuliah Multidisiplin 1 dengan tajuk “GingerPop: Inovasi Permen Jahe Coklat sebagai Diversifikasi Produk UMKM Jahe”.
Desa Klareyan memang bukan sentra perkebunan jahe berskala besar, namun kehadiran UMKM pengolahan jahe milik Pak Eko telah menjadikan komoditas herbal ini bernilai tambah. Produk yang biasa dihasilkan berupa serbuk jahe instan dan permen jahe tradisional.
Produk ini tidak sekadar menjadi camilan, tetapi juga menyimpan nilai kesehatan, peluang ekonomi, serta aspek desain dan teknologi pangan yang mendukung. Program yang dilaksanakan bersama mitra lokal, Bapak Eko Siswoyo, pelaku UMKM jahe di Desa Klareyan, mendapat pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. dr. Siti Fatimah, M.Kes. serta Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., IPM.
Program ini dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2025, bertempat di rumah produksi milik Bapak Eko Siswoyo, seorang pelaku UMKM pengolahan jahe yang menjadi mitra lokal dalam kegiatan ini. Kegiatan berlangsung dalam skala kecil, dengan melibatkan mitra, tim mahasiswa, serta dukungan dari dosen pembimbing. Meski sederhana, kegiatan ini menjadi langkah penting untuk menghadirkan inovasi produk berbasis jahe yang lebih adaptif terhadap selera pasar masa kini. Kehadiran mahasiswa dengan ide GingerPop memberikan warna baru dalam usaha yang dikelolanya. Proses pembuatan dilakukan secara sederhana, menggunakan peralatan rumah tangga, namun dengan tetap memperhatikan standar kebersihan dan kualitas produk.
Berbeda dengan program kerja KKN yang hanya berfokus pada satu disiplin ilmu, kegiatan multidisiplin ini melibatkan pendekatan dari berbagai sudut pandang—mulai dari teknologi pangan, manajemen bisnis, desain produk, hingga aspek komunikasi. Hal ini sejalan dengan semangat problem-based learning dan case-based learning, di mana mahasiswa ditantang menghadirkan solusi nyata atas persoalan yang dihadapi mitra UMKM di lapangan.
Desa Klareyan bukanlah desa yang dikenal sebagai sentra besar tanaman jahe. Namun, keberadaan UMKM pengolahan jahe milik Pak Eko telah menjadi motor penggerak ekonomi kecil yang memanfaatkan potensi lokal. Selama ini, produk olahan jahe yang dipasarkan masih terbatas pada serbuk jahe instan, minuman serbuk tradisional, serta manisan jahe. Meskipun produk-produk tersebut sudah memiliki pasar loyal, inovasi diperlukan agar UMKM tetap bertahan menghadapi tantangan persaingan produk herbal modern.
Masalah muncul ketika produk-produk berbasis jahe dianggap monoton dan kurang diminati oleh generasi muda. Jahe sering diidentikkan dengan minuman orang tua atau sekadar obat masuk angin. Padahal, jahe memiliki kandungan bioaktif seperti gingerol, shogaol, dan zingeron yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, termasuk meningkatkan daya tahan tubuh, memperlancar peredaran darah, serta mengurangi rasa mual.
Dalam diskusi awal bersama Pak Eko, terungkap bahwa konsumen muda sering merasa produk berbahan jahe terlalu “pedas” atau kurang menarik untuk dijadikan camilan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan inovasi rasa yang lebih bersahabat tanpa menghilangkan khasiat jahe sebagai bahan herbal tradisional. Di sisi lain, coklat merupakan bahan pangan populer lintas generasi, terutama digemari anak-anak hingga remaja. Kandungan flavonoid pada coklat dikenal baik untuk kesehatan jantung, menurunkan stres, dan memberi efek relaksasi. Kombinasi antara jahe dan coklat sebenarnya bisa menjadi terobosan yang menarik: jahe memberi sensasi hangat dan khasiat kesehatan, sedangkan coklat memberi cita rasa manis dan lembut yang universal. Coklat telah lama menjadi salah satu komoditas unggulan dunia yang digemari berbagai kalangan. Rasanya manis legit, aromanya khas, dan manfaat kesehatannya sudah banyak diteliti. Ide untuk memadukan coklat dengan jahe bukan hanya sekadar percobaan rasa, melainkan sebuah strategi diversifikasi produk yang menggabungkan dua bahan dengan citra berbeda: jahe sebagai rempah tradisional dengan nilai kesehatan tinggi, dan coklat sebagai pangan modern yang digemari anak muda. Dari sinilah lahir gagasan permen jahe coklat — perpaduan hangat pedasnya jahe dengan manis legit dan gurihnya coklat.
Inovasi GingerPop juga merepresentasikan semangat multidisiplin. GingerPop menonjolkan manfaat senyawa aktif gingerol dari jahe dan flavonoid dari coklat. Permen ini dikembangkan dengan memperhatikan proses formulasi, kontrol suhu, dan teknik pengemasan. Dari sisi ekonomi dan bisnis, GingerPop dirancang sebagai produk yang tidak hanya sehat tetapi juga layak dijual di pasar modern. Sementara itu, aspek desain komunikasi visual menghadirkan kemasan yang menarik, modern, dan sesuai selera konsumen masa kini.
Namun, hingga kini, inovasi tersebut belum banyak dikembangkan di tingkat UMKM lokal. Mayoritas pelaku usaha masih fokus pada produk jahe tunggal, tanpa diversifikasi rasa atau tampilan. Padahal, di era pasar modern yang kompetitif, inovasi produk adalah kunci daya saing. Di sinilah program GingerPop mengambil peran: menghadirkan permen jahe dengan campuran coklat, yang lebih adaptif terhadap selera konsumen muda dan berpotensi memperluas pasar UMKM jahe lokal.
Pada hari pelaksanaan di rumah Pak Eko, kegiatan dimulai sejak pagi dengan persiapan alat dan bahan. Peralatan yang digunakan relatif sederhana: wajan anti lengket, spatula silikon, kompor gas, cetakan silikon, timbangan digital, dan alat pengemas sederhana.
Kegiatan pembuatan GingerPop dilakukan pada sore hari di rumah produksi Pak Eko. Proses ini menggunakan bahan utama berupa jahe segar pilihan dan coklat batangan murni. Jahe terlebih dahulu dikupas, dibersihkan, lalu dihaluskan untuk diambil sarinya. Sari jahe kemudian direbus bersama gula dengan takaran tertentu hingga membentuk larutan pekat. Setelah itu, cairan coklat yang telah dilelehkan dicampurkan ke dalam adonan permen jahe panas tersebut, lalu diaduk hingga rata. Evaluasi dilakukan dengan metode diskusi terbuka. Mitra diberi masukan terkait variasi rasa, seperti kemungkinan menambahkan susu bubuk atau madu untuk segmen anak-anak. Dari sisi kemasan, disarankan penggunaan plastik standing pouch dengan ziplock agar produk lebih higienis dan menarik.


Permen GingerPop bukan sekadar camilan biasa, tetapi mengandung nilai gizi dan kesehatan yang penting:
Jahe: Kaya senyawa bioaktif gingerol, shogaol, dan zingeron yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Jahe juga membantu menghangatkan tubuh, mengurangi mual, serta meningkatkan sistem imun. Manfaat kesehatan jahe antara lain yaitu meredakan mual dan masuk angin, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kolesterol dan menjaga kesehatan jantung, serta menghangatkan tubuh saat cuaca dingin.
Coklat: Mengandung flavonoid yang baik untuk kesehatan jantung, meningkatkan mood, serta memberikan efek relaksasi. Coklat juga dikenal mampu menstimulasi hormon serotonin yang menurunkan tingkat stres. Manfaat coklat bagi kesehatan yaitu melancarkan peredaran darah, menjaga kesehatan otak, memberikan efek rileks dan meningkatkan mood, serta mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
Kombinasi keduanya: Memberikan keseimbangan antara manfaat kesehatan dan cita rasa. Jahe memberi efek hangat, sedangkan coklat menambah rasa manis dan creamy yang disukai berbagai kalangan.
Nilai tambah lainnya terletak pada aspek ekonomi. Dengan menghadirkan inovasi produk seperti GingerPop, UMKM lokal tidak hanya menjual produk jahe tradisional, tetapi juga merambah segmen pasar baru yang lebih luas, termasuk anak-anak, remaja, dan konsumen urban yang mencari healthy snack.
Dengan ini, kegiatan Multidisiplin 1 dengan judul “GingerPop: Inovasi Permen Jahe Coklat sebagai Diversifikasi Produk UMKM Jahe” telah selesai dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2025, bertempat di rumah mitra UMKM Pak Eko Siswoyo, Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa tidak hanya datang membawa teori, tetapi juga mengaplikasikan ilmu dalam bentuk produk yang langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. GingerPop kemudian tidak hanya dipandang sebagai permen baru, tetapi juga sebagai ikon kolaborasi multidisiplin yang mampu menjembatani kebutuhan pasar dengan potensi lokal.
Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari dosen pembimbing serta mitra lokal. Semoga GingerPop dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk unggulan UMKM jahe yang berdaya saing tinggi, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa inovasi berbasis kearifan lokal bisa menjawab tantangan pasar modern.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa produksi permen GingerPop bisa dijalankan dengan peralatan sederhana dan biaya relatif rendah. Selain dampak ekonomi, kegiatan ini juga memberi dampak sosial. Mitra merasa lebih percaya diri untuk mencoba inovasi produk baru. Anak-anak desa pun antusias mencicipi permen jahe dalam bentuk baru yang lebih ramah lidah mereka.
Dalam pelaksanaan program, tentu ada beberapa tantangan. Salah satunya adalah pemahaman tentang pemasaran digital juga masih terbatas. Produk UMKM Klareyan selama ini lebih banyak dipasarkan melalui jalur offline. Oleh karena itu, saya menyarankan agar GingerPop dipromosikan melalui media sosial dengan konten kreatif, seperti video pendek dan testimoni konsumen. Kendala lain adalah soal daya tahan produk. Maka terdapat rekomendasi yaitu penggunaan pengemasan aluminium foil dengan zip lock agar produk lebih tahan lama.
Diharapkan kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai laporan multidisiplin, tetapi bisa menjadi embrio usaha nyata yang bermanfaat bagi mitra, masyarakat, dan bahkan pasar yang lebih luas. Seperti kata pepatah, “dari biji kecil lahirlah pohon besar”—maka dari satu butir permen GingerPop, kita bisa memulai langkah besar menuju UMKM yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Program multidisiplin GingerPop membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa membawa dampak nyata. Permen jahe coklat ini lahir dari kombinasi ilmu pengetahuan, kreativitas, dan semangat pemberdayaan masyarakat.
Meski skala awalnya kecil, GingerPop berpotensi besar menjadi produk unggulan UMKM Klareyan. Dengan dukungan berkelanjutan, GingerPop bisa dipasarkan lebih luas, memberi nilai tambah ekonomi, dan menjadi inspirasi mahasiswa lain dalam menjalankan program multidisiplin.
Program multidisiplin pengembangan produk GingerPop di Desa Klareyan telah menunjukkan bahwa kolaborasi lintas ilmu dapat menghadirkan sebuah inovasi yang nyata, aplikatif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Dari sekadar ide sederhana, mahasiswa berhasil mengubah jahe—rempah tradisional yang selama ini hanya diolah secara konvensional—menjadi produk modern bernilai tambah tinggi melalui sentuhan kreatif dan saintifik.
GingerPop hadir bukan hanya sebagai permen, melainkan sebagai sebuah konsep pangan fungsional yang memadukan kelezatan dan kesehatan. Dari sisi biologi, jahe dan coklat terbukti memiliki kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Dari sisi teknologi pangan, formulasi dan proses pengolahan dikembangkan agar tetap menjaga kualitas rasa, aroma, serta daya simpan. Dari perspektif teknik industri dan ekonomi, produk ini dipandang layak secara bisnis, dengan perhitungan biaya produksi yang efisien dan peluang pasar yang luas. Sementara dari aspek desain komunikasi visual, kemasan GingerPop dibuat menarik, modern, dan mudah dikenali sehingga dapat bersaing dengan produk sejenis.
Lebih jauh lagi, GingerPop bukan hanya produk yang berhenti di meja produksi. Ia menjadi simbol sinergi multidisiplin, sebuah contoh konkret bagaimana ilmu dari berbagai jurusan bisa berpadu dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Bagi mahasiswa, GingerPop mengajarkan pentingnya berpikir lintas batas ilmu, beradaptasi dengan kondisi lapangan, serta berkomunikasi dengan mitra secara efektif. Bagi UMKM mitra, GingerPop membuka wawasan baru bahwa inovasi tidak harus mahal atau rumit, melainkan bisa dimulai dari modifikasi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Dampak sosial dari program ini juga signifikan. Masyarakat Desa Klareyan menyambut baik produk baru ini karena selain memberikan pengalaman rasa yang berbeda, GingerPop juga merepresentasikan semangat kebaruan yang dibawa mahasiswa. UMKM Pak Eko Siswoyo memperoleh peluang usaha baru, sementara dosen pembimbing lapangan menegaskan pentingnya dokumentasi dan keberlanjutan agar GingerPop tidak hanya berhenti pada program KKN semata, tetapi bisa terus berkembang di masa depan.
Ke depan, pengembangan GingerPop diharapkan meliputi beberapa aspek:
Skala Produksi Lebih Besar – Penggunaan alat produksi modern akan meningkatkan kapasitas produksi sehingga mampu memenuhi permintaan pasar lebih luas.
Diversifikasi Produk – GingerPop dapat dikembangkan dalam berbagai varian, seperti jahe-coklat susu, jahe-coklat mint, atau bahkan jahe-coklat dengan tambahan kacang.
Strategi Pemasaran Modern – Penjualan dapat diperluas melalui marketplace online, media sosial, dan kerja sama dengan toko oleh-oleh maupun kafe.
Sertifikasi dan Legalitas – Pendaftaran merek dagang, sertifikat halal, dan izin edar dari BPOM menjadi langkah penting agar GingerPop dapat dipasarkan secara formal dan bersaing dengan produk industri besar.
Pendidikan dan Edukasi – GingerPop juga bisa menjadi media edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya diversifikasi pangan lokal, kewirausahaan, serta penerapan ilmu multidisiplin dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan segala pencapaian dan potensi tersebut, GingerPop membuktikan bahwa inovasi bukan hanya milik laboratorium besar atau perusahaan multinasional. Inovasi bisa lahir dari desa kecil seperti Klareyan, dari tangan mahasiswa yang mau turun langsung ke lapangan, berkolaborasi dengan masyarakat, dan berpikir kreatif.
Akhirnya, program multidisiplin ini menegaskan kembali esensi dari KKN: bukan sekadar pengabdian formal, melainkan wujud nyata dari ilmu yang membumi. GingerPop adalah permen kecil dengan dampak besar—bagi UMKM, bagi desa, bagi mahasiswa, dan bagi masa depan inovasi pangan lokal Indonesia.
Lebih jauh lagi, kehadiran GingerPop di Desa Klareyan memberi pesan penting: bahwa inovasi tidak harus lahir di kota besar atau laboratorium canggih. Inovasi bisa tumbuh di desa, dari bahan sederhana, dengan dukungan ilmu pengetahuan yang membumi, kolaborasi yang solid, dan semangat pengabdian.
Semoga GingerPop terus berkembang menjadi produk unggulan yang tidak hanya memperkuat daya saing UMKM Desa Klareyan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia untuk berani berinovasi, berkolaborasi, dan melahirkan karya multidisiplin yang bermanfaat luas.

GingerPop bukan sekadar permen. Ia adalah simbol kolaborasi, inovasi, dan harapan baru bagi masyarakat Desa Klareyan. (Eko B Art). 


Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati