"Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Pot Tanaman dengan Self-Watering".Jeremia Januando – Teknik Industri

PEMALANG - Desa Klareyan, 10 Agustus 2025 — Dalam semangat pengabdian masyarakat yang berakar pada ilmu pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, saya, mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro, melaksanakan salah satu program kerja dengan tajuk "Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Pot Tanaman dengan Self-Watering". Program ini diselenggarakan pada tanggal 8 Agustus 2025, bertempat di Masjid Baitul Jannah, Dusun 3 Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, dengan melibatkan perangkat desa, ibu-ibu PKK, remaja, anak-anak, serta beberapa warga yang tertarik dalam kegiatan bercocok tanam. Kegiatan berlangsung cukup meriah dan partisipatif, dengan suasana yang penuh antusiasme serta semangat gotong royong khas masyarakat desa.
Desa Klareyan dengan Kepala Desa bernama wiharnyo, S.T. merupakan salah satu desa di Kecamatan Petarukan yang dikenal memiliki masyarakat agraris dengan kehidupan yang masih sarat nilai kebersamaan. Meskipun sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani, dalam keseharian rumah tangga masyarakat masih menyisakan persoalan lingkungan yang kerap terabaikan, yaitu sampah plastik.
Sebagai desa dengan kultur agraris, kehidupan masyarakat Klareyan masih sangat lekat dengan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal. Misalnya, tradisi rewang atau kerja bakti yang hingga kini tetap dijaga sebagai bentuk solidaritas sosial. Hal ini membuat suasana kehidupan desa terasa hangat, penuh interaksi sosial yang erat, berbeda dengan suasana individualistis di perkotaan. Namun, di balik kehangatan sosial tersebut, terdapat persoalan serius yang pelan namun pasti menggerogoti kenyamanan desa, yakni permasalahan sampah plastik rumah tangga.
Salah satu jenis sampah plastik yang sering menumpuk di desa adalah galon air mineral sekali pakai. Banyak rumah tangga membeli galon sekali pakai untuk kebutuhan sehari-hari, terutama di musim kemarau ketika pasokan air bersih menurun. Galon plastik yang sudah kosong sering kali hanya dibiarkan menumpuk di belakang rumah, dibakar, atau bahkan dibuang ke sungai kecil yang mengalir di sekitar desa. Dalam satu dekade terakhir, pola konsumsi masyarakat desa mulai berubah. Jika dahulu warga lebih sering menggunakan wadah tradisional seperti kendi tanah liat, jerigen kaca, atau tempayan untuk menyimpan air, kini masyarakat lebih memilih galon plastik sekali pakai yang lebih praktis dan mudah didapatkan di warung-warung sekitar. Hampir setiap rumah kini memiliki tumpukan galon plastik bekas di pojok dapur atau halaman belakang rumah. Sebagian galon dipakai ulang, tetapi sebagian besar akhirnya dibuang karena rusak atau dianggap tidak berguna.
Permasalahan ini tidak hanya menimbulkan pencemaran lingkungan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem perairan. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami, sehingga jika tidak ditangani dengan bijak, masalah sampah plastik akan terus menghantui generasi mendatang.
Masalahnya, tidak semua warga memiliki kesadaran untuk mengelola sampah plastik dengan baik. Sebagian galon bekas dibakar, menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Sebagian lagi dibuang begitu saja ke sungai kecil yang membelah desa, menyebabkan aliran air tersumbat, menimbulkan bau tidak sedap, serta mengancam ekosistem perairan. Jika hujan deras turun, tumpukan galon bekas yang mengapung sering kali terbawa arus hingga masuk ke lahan pertanian, mencemari tanah, dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan ekologis baru bagi Desa Klareyan: bagaimana mengelola sampah plastik rumah tangga agar tidak menjadi bencana lingkungan. Permasalahan ini semakin relevan mengingat desa juga menghadapi isu keterbatasan air bersih di musim kemarau. Warga kerap harus menghemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga aktivitas berkebun atau menanam tanaman hias di halaman rumah sering terabaikan.
Melihat permasalahan tersebut, saya bersama tim KKN-T berinisiatif mengangkat program pemanfaatan galon plastik bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat, yaitu pot tanaman berbasis Self-Watering. Program ini tidak hanya menyasar aspek pengelolaan sampah plastik, tetapi juga mendorong warga desa untuk memanfaatkan pot inovatif tersebut dalam kegiatan urban farming atau bercocok tanam skala rumah tangga.
Di sinilah kemudian ide pot tanaman Self-Watering dari galon plastik bekas menemukan relevansinya. Pot ini mampu menjawab dua masalah sekaligus: (1) mengurangi tumpukan sampah galon plastik di desa, dan (2) menyediakan sarana bercocok tanam hemat air yang praktis bagi warga. Dengan memanfaatkan sistem kapilaritas sederhana, pot Self-Watering memungkinkan tanaman menyerap air sesuai kebutuhannya, tanpa harus disiram setiap hari. Hal ini tentu sangat membantu bagi warga yang kesulitan menyiram tanaman secara rutin karena kesibukan atau keterbatasan air bersih.
Lebih jauh lagi, pengolahan galon bekas menjadi pot Self-Watering juga sejalan dengan semangat ekonomi sirkular yang mulai digalakkan di berbagai daerah. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya baru yang dapat diubah menjadi produk bermanfaat. Jika ide ini terus dikembangkan, Desa Klareyan bukan hanya berhasil mengatasi masalah sampah plastik, tetapi juga bisa menjadi contoh desa yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan lingkungan modern.

Dengan latar belakang inilah, program KKN mengenai pembuatan pot Self-Watering dari galon plastik bekas dilaksanakan. Program ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengandung misi edukasi, sosial, dan ekologis: mengajarkan masyarakat untuk berpikir kreatif dalam mengelola sampah, mendorong kebiasaan baru dalam bercocok tanam, serta membangun kesadaran bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan sendiri.
Mengapa Self-Watering Pot?
Pot Self-Watering adalah pot yang dirancang dengan sistem penyiraman mandiri, di mana tanaman dapat menyerap air sesuai kebutuhannya melalui mekanisme kapilaritas dari wadah penampungan air di bagian bawah pot. Konsep ini sangat relevan diterapkan di Desa Klareyan karena:
Hemat Air – Warga desa sering menghadapi kendala pasokan air bersih, terutama saat musim kemarau. Pot ini membantu efisiensi penggunaan air.
Praktis – Banyak warga, terutama ibu rumah tangga, yang memiliki kesibukan sehingga tidak selalu sempat menyiram tanaman setiap hari.
Ramah Lingkungan – Mengurangi limbah plastik sekaligus menyediakan solusi bercocok tanam sederhana.
Meningkatkan Kemandirian Pangan – Dengan memanfaatkan pot ini, warga dapat menanam sayuran konsumsi rumah tangga seperti cabai, tomat, kangkung, atau bayam.
Kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB dengan persiapan peralatan dan bahan. Bahan utama yang digunakan tentu saja galon plastik bekas yang telah dikumpulkan dari warga beberapa hari sebelumnya. Selain itu, bahan tambahan seperti kain flanel untuk sumbu kapilaritas, cutter, bor tangan sederhana, serta cat pilox untuk menghias pot juga telah disediakan.
Sebelum memulai praktik, Jeremia Januando selaku mahasiswa KKN terlebih dahulu memberikan penjelasan singkat mengenai prinsip kerja pot Self-Watering. Saya menggunakan poster edukatif yang berisi ilustrasi alur air dari wadah bawah ke media tanam, sehingga peserta lebih mudah memahami konsepnya.
Proses pembuatan dilakukan secara bertahap:
Pemotongan Galon – Galon plastik dipotong menjadi dua bagian. Bagian atas digunakan sebagai wadah media tanam, sementara bagian bawah berfungsi sebagai wadah penampung air.
Pembuatan Lubang Sumbu – Bagian dasar wadah media tanam dilubangi, kemudian dimasukkan kain flanel atau tali sebagai sumbu kapilaritas yang akan menyerap air dari bawah.
Perakitan Pot – Bagian atas galon dibalik dan dimasukkan ke dalam bagian bawah sehingga menyatu dengan wadah air.
Pengisian Media Tanam – Pot kemudian diisi dengan campuran tanah, kompos, dan sedikit pasir agar gembur.
Penanaman Bibit – Bibit tanaman sayuran seperti kangkung, cabai, dan sawi ditanam pada pot hasil kreasi warga.
Dekorasi Pot – Agar lebih menarik, warga terutama ibu-ibu PKK menghias pot dengan cat warna-warni dan ornamen sederhana.
Suasana pelatihan berlangsung penuh semangat. Beberapa warga bahkan membawa ide kreatif, seperti menambahkan label nama tanaman pada setiap pot, atau mendesain pot dengan motif batik sederhana.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari warga. Salah seorang remaja mengungkapkan, “Biasanya galon bekas di rumah hanya jadi sampah. Tapi ternyata bisa jadi pot yang bagus seperti ini. Apalagi tidak perlu sering-sering disiram, cocok buat saya yang sering sibuk di dapur.”
Sebagai mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi juga sarana pembelajaran sosial dan ekologis. Mahasiswa belajar bagaimana menyampaikan ilmu sederhana kepada masyarakat dengan bahasa yang komunikatif. Tidak semua orang paham istilah “kapilaritas” atau “efisiensi air”, sehingga saya menggunakan analogi seperti “tanaman minum sendiri dari sedotan yang kita pasang” untuk mempermudah pemahaman.
Mahasiswa juga melihat bahwa kegiatan sederhana seperti ini bisa memberi dampak besar. Dari sisi lingkungan, warga jadi lebih sadar bahwa sampah plastik bisa diolah kembali. Dari sisi sosial-ekonomi, ada potensi produk ini dijual sebagai pot ramah lingkungan. Dari sisi pendidikan, anak-anak desa yang ikut melihat kegiatan ini menjadi lebih tertarik mencoba bercocok tanam dengan cara baru. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yaitu Dr. dr. Siti Fatimah, M.Kes. serta Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., IPM. 
Kegiatan pembuatan pot tanaman Self-Watering dari galon plastik bekas di Desa Klareyan bukan hanya sekadar upaya mendaur ulang sampah, melainkan sebuah langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar. Inovasi sederhana ini mengajarkan bahwa keberlanjutan lingkungan dimulai dari rumah tangga, dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan sehari-hari.
Mahasiswa menyadari bahwa program ini mungkin tidak langsung mengubah desa secara drastis, tetapi ia menanamkan kesadaran ekologis yang bisa tumbuh dan berkembang seiring waktu. Pot hasil karya warga hari ini mungkin hanya belasan buah, tetapi esok bisa menjadi ratusan jika ide ini terus digerakkan.
Melalui kegiatan ini mahasiswa belajar bahwa inovasi bukan selalu soal teknologi canggih, melainkan tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar dengan cara kreatif, murah, dan bermanfaat. Semoga kegiatan ini menjadi titik awal bagi masyarakat Desa Klareyan untuk semakin mencintai lingkungannya, mengurangi sampah plastik, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga melalui urban farming sederhana.
Kegiatan sosial masyarakat berupa pembuatan pot tanaman Self-Watering dari galon plastik bekas yang dilaksanakan di Desa Klareyan bukanlah sekadar aktivitas teknis mendaur ulang sampah plastik, tetapi lebih dari itu, kegiatan ini merupakan simbol perubahan pola pikir dan gerakan kolektif menuju kehidupan desa yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.
Sejak awal, program ini dirancang untuk menjawab dua persoalan nyata yang dihadapi warga: pertama, menumpuknya sampah plastik galon bekas yang sering berakhir di sungai, dibakar, atau dibiarkan menumpuk; kedua, keterbatasan air bersih dan waktu yang membuat banyak warga kesulitan untuk merawat tanaman secara rutin. Dengan hadirnya inovasi pot Self-Watering, kedua masalah tersebut mendapatkan solusi sederhana yang aplikatif, murah, dan mudah dilakukan oleh masyarakat desa dengan sumber daya lokal yang tersedia.

Lebih jauh, keberhasilan kegiatan ini bukan semata diukur dari jumlah pot yang berhasil dibuat, melainkan dari semangat partisipasi dan antusiasme warga yang hadir. Ibu-ibu PKK yang biasanya menghabiskan waktu untuk urusan rumah tangga kini menemukan ruang baru untuk berkreasi. Mereka menghias pot dengan warna-warni cat, menanam bibit sayuran, bahkan mulai membayangkan peluang menjual pot ramah lingkungan ini di pasar lokal. Sementara itu, pemuda karang taruna yang biasanya aktif dalam kegiatan olahraga, kali ini berperan aktif dalam proses teknis pembuatan pot, dari memotong galon, memasang sumbu kain flanel, hingga mengisi media tanam. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa generasi muda desa mampu menjadi motor penggerak inovasi lingkungan.
Dari sisi edukasi, kegiatan ini berhasil memperkenalkan kepada masyarakat konsep dasar sains yang sederhana, yakni prinsip kapilaritas air dalam sistem Self-Watering. Walau awalnya terasa asing, penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami membuat warga dapat menerima konsep ini dengan cepat. Bahkan, beberapa warga menyebutnya sebagai “pot yang bisa menyiram sendiri.” Dari sini terlihat bagaimana pengetahuan ilmiah dapat dijembatani dengan komunikasi yang sederhana, sehingga mampu dipahami dan diaplikasikan oleh masyarakat tanpa kehilangan substansinya.
Selain manfaat praktis, kegiatan ini juga memiliki nilai simbolis yang sangat penting. Galon plastik yang selama ini dianggap sampah, tidak berguna, bahkan mengotori lingkungan, kini berubah menjadi wadah yang memberi kehidupan baru bagi tanaman. Transformasi ini mengajarkan kepada warga bahwa sampah bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah kemungkinan baru. Kesadaran seperti ini jika terus dipupuk akan menjadi modal sosial yang kuat untuk mendorong gerakan peduli lingkungan dalam skala yang lebih luas.
Dari sisi sosial-ekonomi, pot Self-Watering membuka peluang bagi lahirnya usaha mikro baru berbasis ramah lingkungan. Warga desa dapat menjadikannya produk kreatif yang dipasarkan tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga di pameran UMKM, bazar desa, bahkan dipromosikan secara daring melalui media sosial. Dengan desain yang menarik dan fungsi yang praktis, pot ini memiliki nilai jual yang kompetitif. Jika dikembangkan lebih lanjut, Desa Klareyan bahkan bisa dikenal sebagai desa kreatif pengolah sampah plastik menjadi produk inovatif bernilai ekonomi.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi multi pihak. Program ini bisa berjalan dengan baik berkat dukungan dosen pembimbing lapangan, pemerintah desa, perangkat lokal, serta partisipasi aktif masyarakat. Kolaborasi seperti ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program pengabdian masyarakat tidak ditentukan oleh satu pihak saja, tetapi oleh sinergi antar elemen yang saling melengkapi. Semoga kegiatan ini menjadi awal dari perubahan yang lebih besar, bukan hanya di Desa Klareyan, tetapi juga di desa-desa lain yang menghadapi persoalan serupa. Dan semoga semangat yang tumbuh dari kegiatan ini bisa terus menyala, seperti tanaman yang tumbuh subur dalam pot Self-Watering, menyerap air secukupnya, memberi oksigen, memberi harapan, dan memberi kehidupan.(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati