Menjaga Relasi dalam Peningkatan Literasi Pelaku Usaha melalui Strategi CRM
PEMALANG, 16 Agustus 2025 — Di tengah pesatnya perkembangan dunia usaha, kemampuan untuk menjalin dan menjaga relasi dengan pelanggan menjadi salah satu kunci keberhasilan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk mendukung hal ini, sebuah kegiatan bertajuk “Menjaga Relasi dalam Peningkatan Literasi Pelaku Usaha melalui Strategi Customer Relationship Management (CRM)” digelar di Kedai Jahe Exist Way, Klareyan, Pemalang, pada tanggal 16 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi pelaku UMKM tentang pentingnya membangun hubungan yang baik dengan pelanggan melalui pendekatan CRM, sekaligus meningkatkan literasi bisnis mereka agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Dalam dunia bisnis, terutama bagi UMKM, hubungan dengan pelanggan bukan sekadar transaksi jual-beli, tetapi juga tentang membangun kepercayaan, loyalitas, dan hubungan jangka panjang. Sayangnya, banyak pelaku UMKM yang belum memahami konsep dan pentingnya menjaga relasi dengan pelanggan secara strategis. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh tim penyelenggara kegiatan ini, ditemukan bahwa sebagian besar pedagang di wilayah Klareyan, termasuk di Kedai Jahe Exist Way, masih mengandalkan pendekatan konvensional dalam berbisnis. Mereka cenderung fokus pada produksi dan penjualan produk tanpa memikirkan bagaimana menjaga hubungan dengan pelanggan untuk memastikan keberlanjutan usaha mereka.
Kurangnya pemahaman tentang strategi CRM menjadi salah satu hambatan utama bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing. Banyak pelaku usaha yang belum menyadari bahwa dengan menerapkan CRM, mereka dapat memahami kebutuhan pelanggan, meningkatkan kepuasan, dan pada akhirnya menciptakan loyalitas pelanggan yang berdampak pada peningkatan pendapatan. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk memberikan wawasan baru bagi pelaku UMKM tentang bagaimana membangun relasi yang baik dengan pelanggan melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis teknologi.
Kegiatan ini juga dilatarbelakangi oleh semakin pentingnya literasi bisnis di era digital. Dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, pelaku UMKM perlu memahami cara memanfaatkan data pelanggan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif. CRM, sebagai alat untuk mengelola hubungan dengan pelanggan, menjadi solusi yang relevan untuk membantu UMKM beradaptasi dengan dinamika pasar saat ini.
Kegiatan yang diadakan di Kedai Jahe Exist Way ini memiliki tujuan utama untuk mengajarkan pelaku UMKM tentang pentingnya menjalin relasi yang baik dengan pelanggan. Melalui pendekatan CRM, para pelaku usaha diajarkan bagaimana mengelola data pelanggan, memahami preferensi mereka, dan memberikan pelayanan yang lebih personal. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi bisnis para pelaku UMKM, khususnya dalam memahami strategi pemasaran modern yang dapat meningkatkan keberlanjutan usaha mereka.
Pemilik Kedai Jahe Exist Way, Bapak Eko, menyampaikan dalam wawancara pada 15 Agustus 2025, “Kami ingin pedagang di sini tidak hanya fokus pada menjual produk, tetapi juga memahami bagaimana cara membuat pelanggan merasa dihargai. Relasi yang baik dengan pelanggan adalah kunci untuk menjaga usaha tetap berjalan, terutama di tengah persaingan yang semakin ketat.”
Untuk memastikan kegiatan ini relevan dengan kebutuhan pelaku UMKM, tim penyelenggara yang terdiri dari mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dan beberapa pakar bisnis lokal melakukan survei dan wawancara sebagai metode pendekatan awal. Survei ini dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat pemahaman pedagang tentang konsep CRM, tantangan yang mereka hadapi dalam menjalin hubungan dengan pelanggan, serta kebutuhan pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan literasi bisnis mereka.
Hasil survei menunjukkan bahwa lebih dari 70% pelaku UMKM di Klareyan belum pernah mendengar istilah CRM sebelumnya. Banyak dari mereka juga mengaku kesulitan dalam mengelola informasi pelanggan, seperti mencatat preferensi pembelian atau menindaklanjuti keluhan pelanggan. Selain itu, sebagian besar pedagang masih menggunakan metode manual, seperti buku catatan, untuk mencatat transaksi, yang dinilai kurang efisien di era digital saat ini.
Wawancara mendalam dilakukan dengan beberapa pelaku UMKM, termasuk Bapak Eko dari Kedai Jahe Exist Way dan Ibu Sari, pemilik usaha jamu “Tujuh Pitu”. Dalam wawancara tersebut, Bapak Eko mengungkapkan bahwa ia sering kali kehilangan pelanggan karena kurangnya komunikasi purna jual. “Kami sering kali hanya fokus menjual, tapi lupa untuk menanyakan apakah pelanggan puas dengan produk kami atau tidak. Akibatnya, banyak pelanggan yang beralih ke tempat lain,” ujarnya.
Sementara itu, Ibu Sari mengaku bahwa ia ingin belajar lebih banyak tentang cara memanfaatkan teknologi untuk menjaga hubungan dengan pelanggan. “Saya ingin tahu bagaimana caranya membuat pelanggan merasa spesial, misalnya dengan mengingatkan mereka tentang produk baru atau memberikan diskon khusus untuk pelanggan setia,” katanya.
Pelaksanaan Kegiatan: Sosialisasi
Kegiatan ini diadakan pada 16 Agustus 2025 di halaman Kedai Jahe Exist Way, yang menjadi pusat aktivitas UMKM di Klareyan. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 50 pelaku UMKM dari berbagai sektor, termasuk pengusaha makanan dan minuman, kerajinan tangan, serta produk herbal berbasis jahe. Kegiatan ini juga melibatkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi bisnis, dan perwakilan dari pemerintah daerah setempat.
Pertama berfokus pada pengenalan konsep CRM kepada pelaku umkm. Frisca Amelia, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dari jurusan Antropologi Sosial, menjelaskan bahwa CRM adalah strategi untuk mengelola interaksi dengan pelanggan, baik yang sudah ada maupun calon pelanggan, dengan tujuan meningkatkan kepuasan dan loyalitas. “CRM bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami pelanggan kita dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi mereka,” ujar Frisca.
Pemilik kedai diajarkan tentang pentingnya mengumpulkan data pelanggan, seperti nama, nomor kontak, dan riwayat pembelian, untuk menciptakan hubungan yang lebih personal. Mereka juga diperkenalkan pada konsep segmentasi pelanggan, di mana pelaku usaha dapat mengelompokkan pelanggan berdasarkan kebutuhan atau preferensi mereka untuk memberikan penawaran yang lebih relevansi.
Salah satu penjual jamu Ibu Sari dari “Tujuh Pitu”, mengaku sangat terbantu dengan pelatihan ini. “Saya tidak pernah tahu bahwa WhatsApp bisa digunakan untuk mengelola pelanggan dengan lebih baik. Sekarang saya tahu cara membuat grup khusus untuk pelanggan setia dan mengirimkan promo yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya.
Terakhir adalah diskusi untuk berbagi pengalaman dan tantangan dalam menjalin relasi dengan pelanggan. Dalam diskusi ini, pak eko mengungkapkan bahwa seringkali kesulitan menjaga komunikasi dengan pelanggan karena keterbatasan waktu dan tenaga. Kegiatan ini memberikan sejumlah manfaat nyata bagi pelaku UMKM di Klareyan, di antaranya:
Peningkatan Literasi Bisnis
Para peserta kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga relasi dengan pelanggan. Mereka juga mulai memahami bagaimana data pelanggan dapat digunakan untuk meningkatkan strategi pemasaran dan penjualan.
Peningkatan Loyalitas Pelanggan
Dengan menerapkan CRM, pelaku UMKM dapat memberikan pelayanan yang lebih personal, seperti mengingatkan pelanggan tentang produk baru atau memberikan diskon khusus. Hal ini membantu meningkatkan loyalitas pelanggan dan mendorong pembelian berulang.
Efisiensi Operasional
Penggunaan alat CRM sederhana, seperti Google Sheets dan WhatsApp Business, memungkinkan pelaku UMKM untuk mengelola data pelanggan dengan lebih efisien, sehingga menghemat waktu dan tenaga.
Peningkatan Daya Saing
Dengan memahami kebutuhan pelanggan dan memberikan pelayanan yang lebih baik, UMKM di Klareyan dapat bersaing dengan usaha lain di pasar lokal maupun nasional.
Meski kegiatan ini berjalan sukses, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam upaya meningkatkan literasi CRM di kalangan UMKM. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap teknologi dan internet di beberapa wilayah pedesaan. Banyak pelaku UMKM yang masih menggunakan ponsel dengan spesifikasi rendah atau tidak memiliki akses internet yang stabil. Untuk mengatasi hal ini, tim penyelenggara berencana untuk mengadakan pelatihan lanjutan yang berfokus pada penggunaan CRM offline atau alat-alat sederhana yang tidak memerlukan koneksi internet.
Selain itu, kurangnya pemahaman tentang pentingnya investasi jangka panjang dalam relasi pelanggan juga menjadi hambatan. Banyak pelaku UMKM yang masih berpikir bahwa CRM membutuhkan biaya besar dan teknologi canggih. Untuk mengubah persepsi ini, tim penyelenggara akan terus melakukan sosialisasi tentang manfaat CRM dan bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan dengan biaya minimal.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat memberikan dukungan lebih lanjut, seperti menyediakan akses permodalan untuk pengadaan teknologi sederhana atau mengadakan program pelatihan reguler. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset juga perlu diperkuat untuk mengembangkan solusi CRM yang sesuai dengan kebutuhan UMKM lokal.
Secara sosial, kegiatan ini membantu meningkatkan kepercayaan diri pelaku UMKM dalam menjalankan usaha mereka. Dengan memahami pentingnya relasi pelanggan, mereka kini lebih termotivasi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan membangun hubungan yang lebih erat dengan komunitas sekitar. Hal ini juga berdampak pada penguatan ekonomi lokal, karena pelaku UMKM yang lebih kompetitif dapat menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan pendapatan mereka.
Secara ekonomi, penerapan CRM berpotensi meningkatkan pendapatan UMKM melalui peningkatan loyalitas pelanggan dan pembelian berulang. Selain itu, dengan mengelola data pelanggan secara lebih baik, pelaku UMKM dapat mengidentifikasi peluang pasar baru, seperti mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau menawarkan promo yang lebih tepat sasaran.
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah Pemalang, melalui Dinas Perdagangan dan UMKM, memberikan fasilitas tempat dan dukungan logistik untuk kegiatan ini. Universitas Diponegoro, melalui program KKN, turut berkontribusi dengan menyediakan tenaga mahasiswa yang memiliki keahlian dalam bidang bisnis dan komunikasi. Selain itu, beberapa pelaku usaha besar di wilayah Pemalang juga memberikan dukungan berupa sponsor dan penyediaan alat pelatihan.
Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Indonesia untuk meningkatkan literasi CRM di kalangan UMKM. Dengan dukungan teknologi dan pelatihan yang tepat, UMKM dapat memanfaatkan potensi relasi pelanggan untuk memperkuat usaha mereka dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. Selain itu, inovasi dalam pengembangan alat CRM yang lebih ramah pengguna dan terjangkau perlu terus didorong. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta akan menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem bisnis yang mendukung UMKM dalam menerapkan strategi CRM secara efektif.
Kesimpulan
Kegiatan “Menjaga Relasi dalam Peningkatan Literasi Pelaku Usaha melalui Strategi CRM” di Kedai Jahe Exist Way, Klareyan, Pemalang, pada 16 Agustus 2025, menjadi langkah awal yang signifikan dalam mengedukasi pelaku UMKM tentang pentingnya menjalin relasi yang baik dengan pelanggan. Melalui pendekatan survei dan wawancara, kegiatan ini berhasil mengidentifikasi kebutuhan pelaku usaha dan memberikan solusi praktis melalui pelatihan CRM.
Dengan memahami dan menerapkan strategi CRM, pelaku UMKM tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan mereka, tetapi juga memperkuat hubungan dengan pelanggan, meningkatkan efisiensi operasional, dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, UMKM dapat bertransformasi menjadi usaha yang lebih modern dan kompetitif, sekaligus menjaga keberlanjutan hubungan dengan pelanggan mereka.
Mari kita dukung UMKM Indonesia untuk terus berinovasi dan memanfaatkan strategi CRM demi masa depan bisnis yang lebih cerah dan berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha, Indonesia dapat menjadi pusat UMKM yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Comments
Post a Comment