Memberdayakan Remaja Dusun 3 Desa Klareyan melalui Pelatihan dan Produksi Keripik Pisang

PEMALANG - Klareyan, 8 Agustus 2025 – Sebagai Mahasiswa Ekonomi Islam  Universitas Diponegoro yang tengah menjalani program Kuliah Kerja Nyata di Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Kontribusi itu tidak selalu harus dalam bentuk besar dan kompleks. Sering kali, perubahan yang berarti justru dimulai dari pengetahuan sederhana yang aplikatif dalam kehidupan sehari hari agar masyarakat bisa lebih produktif lagi.
Berdasarkan hasil pengamatan saya sejak awal penempatan KKN, khususnya di Dusun 3 Desa Klareyan, Pemalang, masih banyak kenakalan remaja yang merajalela. Fenomena ini tentu menjadi perhatian serius, karena apabila dibiarkan berlarut-larut akan berdampak negatif terhadap perkembangan moral, sosial, dan masa depan generasi muda di desa ini. 
Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk berkontribusi dalam mengatasi permasalahan tersebut melalui program kerja KKN yang tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga mampu mengalihkan energi dan perhatian para remaja ke arah yang lebih positif. Salah satu program yang saya rancang adalah memproduksi keripik pisang bersama remaja setempat. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan dalam bidang produksi makanan ringan, tetapi juga melatih kedisiplinan, kerja sama tim, serta memberikan peluang usaha yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Dengan adanya program ini, diharapkan para remaja bisa lebih produktif, terhindar dari pergaulan yang tidak sehat, serta memiliki motivasi untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungan sekitarnya.

Sore itu, suasana Dusun 3 Desa Klareyan terasa begitu berbeda dari hari-hari biasanya. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma khas tanah basah yang berpadu dengan wangi daun pisang yang bergoyang perlahan diterpa semilir angin. Di sela-sela pohon pisang yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga, sinar matahari menembus rimbun dedaunan, menciptakan kilauan hangat yang seolah menyambut datangnya sebuah peristiwa penting bagi desa ini. Anak-anak terlihat berlarian dengan tawa riang, sementara para remaja berjalan berkelompok menuju halaman rumah kepala dusun dengan wajah penuh rasa ingin tahu dan semangat baru. 
Para ibu rumah tangga yang biasanya sibuk dengan pekerjaan domestik kini tampak berhenti sejenak, menyaksikan keramaian yang jarang terjadi, sementara para bapak berbincang di sudut-sudut jalan, membicarakan kegiatan yang akan segera dimulai. Suasana ini seakan menandai hadirnya sebuah momentum berharga, di mana seluruh elemen masyarakat bersatu padu, berbagi keceriaan, dan menyambut program yang digagas oleh mahasiswa KKN. Cahaya matahari yang kian meredup di ufuk barat seolah memberi pesan bahwa meskipun hari akan segera berganti malam, semangat kebersamaan dan harapan yang tumbuh di hati warga Klareyan tidak akan pernah redup, justru semakin menyala sebagai tanda dimulainya babak baru bagi para pemuda desa yang siap belajar, berkarya, dan berkontribusi untuk masa depan yang lebih mandiri dan bermakna.
Dari ujung gang sempit yang membelah permukiman, langkah-langkah ringan para remaja mulai terdengar jelas, seolah membawa semangat baru yang menghidupkan suasana sore itu. Mereka datang berkelompok, sebagian masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas punggung setelah pulang belajar, sementara yang lain tampil sederhana dengan kaos oblong lusuh dan celana santai yang nyaman, tanda keseharian anak desa yang apa adanya namun penuh vitalitas. Wajah-wajah muda itu memancarkan rasa ingin tahu yang bercampur dengan semangat, sorot mata mereka berbinar menyambut pengalaman baru yang akan segera mereka jalani. Ada yang berjalan sambil bercanda dan tertawa renyah, ada yang serius menggendong tas berisi buku catatan untuk mencatat setiap materi, sementara beberapa lainnya tampak sibuk dengan ponsel di tangan, siap mengabadikan setiap momen berharga agar bisa dikenang dan dibagikan.
Tujuan mereka hari itu hanya satu: berkumpul di halaman rumah Kepala Dusun, yang telah disulap menjadi ruang belajar terbuka sekaligus lokasi pelatihan pembuatan keripik pisang. Pemandangan sederhana namun penuh makna terpampang di sana, kursi-kursi plastik berjejer rapi, meja panjang yang ditutupi kain bermotif batik khas Jawa siap menampung berbagai bahan dan peralatan produksi. Di atas meja tersusun pisang kepok segar yang baru dipetik dari kebun warga, ditaruh rapi dalam keranjang bambu yang masih berbau harum alami, sementara di sisi lain telah tersedia wajan besar, spatula kayu, dan kompor gas yang menunggu untuk dinyalakan, seolah menjadi saksi bisu semangat kebersamaan dan kemandirian yang mulai tumbuh di hati para remaja Klareyan sore itu.


Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah langkah awal dari gerakan kecil yang diyakini mampu menyalakan bara perubahan besar di Desa Klareyan. Apa yang tampak sederhana — sekadar membuat keripik pisang — sesungguhnya menyimpan makna yang dalam tentang pemberdayaan, kemandirian, dan harapan baru bagi generasi muda. Program ini diprakarsai oleh Alya Putri Pinilih, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Ekonomi Islam, yang datang membawa semangat untuk menjembatani antara ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Dari keprihatinan melihat remaja desa yang kerap kali terjebak dalam pergaulan tidak produktif, lahirlah gagasan sederhana namun visioner: menjadikan potensi mereka sebagai penggerak ekonomi desa melalui produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan mengusung tema “Keripik Pisang Bukan Sekedar Camilan: Jalan Remaja Klareyan Menuju Kemandirian Ekonomi”, Alya dan Kelompok 3  tim KKN-T 123 Universitas Diponegoro ingin membuktikan bahwa tangan-tangan muda ini mampu menghasilkan karya bernilai jual, asalkan diberi ruang untuk belajar, kesempatan untuk berlatih, serta pendampingan yang berkelanjutan. Mereka percaya, dari sebuah dapur sederhana yang diisi suara tawa dan semangat kerja sama, akan lahir bukan hanya camilan yang renyah dan gurih, tetapi juga sebuah simbol kemandirian, bukti bahwa remaja desa memiliki daya juang dan energi yang, bila diarahkan dengan tepat, dapat mewujud menjadi kekuatan ekonomi nyata yang membawa manfaat bagi keluarga, desa, bahkan bangsa.

Bagi Alya, program ini bukan hanya tentang mengolah pisang menjadi camilan renyah yang gurih dan disukai banyak orang. Lebih dari itu, program ini adalah upaya untuk mengubah pola pikir remaja desa, mengalihkan energi mereka dari pergaulan yang kurang bermanfaat menuju aktivitas yang kreatif, produktif, dan bernilai ekonomi nyata. Alya melihat, di balik semangat dan tawa remaja, tersimpan potensi besar yang bila diarahkan dengan tepat dapat menjadi kekuatan pembangunan desa. Melalui kegiatan sederhana seperti membuat keripik pisang, ia ingin menunjukkan bahwa sebuah produk lokal bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi dan membuka peluang usaha yang menjanjikan. “Saya ingin adik-adik di sini tahu bahwa mereka punya kemampuan untuk mandiri, bahkan sejak muda,” ungkap Alya dalam sambutannya dengan suara penuh keyakinan, yang seketika membuat suasana hening sesaat sebelum akhirnya disambut anggukan penuh antusias dari para peserta. Kata-katanya bukan sekadar motivasi, tetapi sebuah ajakan nyata untuk berani bermimpi, berusaha, dan percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama di halaman desa mereka sendiri.

Dengan dukungan penuh dari perangkat desa dan para pelaku UMKM setempat, sore itu bukan hanya sekadar rangkaian kegiatan biasa, melainkan menjadi sebuah momentum yang akan dikenang lama oleh seluruh warga, terutama para remaja yang terlibat. Dukungan yang hadir bukan hanya dalam bentuk fasilitas dan kehadiran, tetapi juga berupa semangat, doa, serta keyakinan bahwa generasi muda desa Klareyan mampu melangkah lebih jauh dari sekadar penonton dalam roda pembangunan. Suasana kebersamaan yang tercipta membuat setiap langkah terasa ringan, setiap tawa terdengar lebih bermakna, dan setiap hasil karya terasa begitu berharga. Sore itu menjadi titik awal perjalanan baru: perjalanan menuju kemandirian yang lahir dari keberanian untuk mencoba, perjalanan menuju keberhasilan yang berawal dari usaha kecil namun penuh makna, dan perjalanan menuju kebanggaan atas karya mereka sendiri yang tidak hanya bermanfaat untuk diri pribadi, tetapi juga membawa harum nama desa.
Program pemberdayaan ini dirancang untuk:
Mengalihkan energi remaja dari kegiatan negatif menuju aktivitas produktif, kreatif, dan bernilai ekonomis.
Membekali remaja dengan keterampilan ekonomi sederhana mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Menghasilkan produk nyata yang dapat dijual di pasar lokal, sehingga remaja merasakan langsung manfaat ekonominya.
Mendorong terbentuknya kelompok usaha remaja desa, yang berpotensi menjadi cikal bakal UMKM baru.


Persiapan dimulai jauh sebelum pelatihan berlangsung. Alya dan Kelompok 3 tim KKN-T 123 UNDIP  berkoordinasi dengan perangkat Dusun 3 Siampel untuk menentukan jadwal, tempat, dan peserta kegiatan. Perencanaan ini melibatkan:
Pendataan peserta: Remaja usia 15–20 tahun yang berminat mengikuti pelatihan.
Pengadaan bahan baku: Pisang kepok pilihan, minyak goreng, bumbu rasa coklat danmatcha , dan bahan pendukung lainnya.
Peralatan produksi: Wajan besar, kompor gas, pisau, talenan, spinner peniris minyak, dan kemasan plastik.
Materi pelatihan: Teknik mengiris pisang, proses penggorengan, bumbu, pengemasan, dan strategi pemasaran.
Tahap Pertama Pelatihan - Halaman Rumah Kepala Dusun 3 Siampel  telah disulap menjadi ruang produksi sementara. Karpet telah terbentang lebar, dilengkapi dengan alat dan bahan. Di sudut ruangan, spanduk besar bertuliskan “Keripik Pisang Bukan Sekedar Camilan: Jalan Remaja Klareyan Menuju Kemandirian Ekonomi” menjadi latar semangat kegiatan.
Materi pelatihan dibagi menjadi beberapa sesi:
Pengenalan bahan dan peralatan: Peserta diperkenalkan pada jenis pisang yang cocok untuk keripik dan cara memilih yang berkualitas.
Teknik mengiris: Pisang dikupas lalu diiris tipis menggunakan alat slicer agar hasilnya rapi dan seragam.
Proses penggorengan: Pisang dimasukkan ke dalam minyak panas, digoreng hingga kuning keemasan, kemudian ditiriskan dengan spinner.
Pemberian bumbu: Varian rasa Coklat dan Matcha
Tahap Kedua - Pengemasan dan Pemasaran : Setelah menguasai teknik produksi, peserta diajak mempelajari cara pengemasan yang baik. Alya menjelaskan pentingnya kemasan yang menarik dan higienis. “Kemasan itu ibarat baju untuk produk. Kalau baju rapi dan cantik, orang akan tertarik membeli,” jelasnya.
Para peserta mencoba mengemas keripik dalam plastik transparan berlabel. Mereka juga belajar menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), menentukan harga jual, dan memahami margin keuntungan.
Materi pemasaran pun dibahas secara detail, mulai dari strategi menjual langsung ke warung-warung desa, memanfaatkan media sosial, hingga menjajaki penjualan di pasar mingguan. Alya mengajarkan dasar-dasar promosi online menggunakan WhatsApp Business dan Instagram.
Dampak dan Hasil yang Dicapai, Program ini dapat memberikan hasil yang nyata:
Keterampilan baru: Seluruh peserta kini mampu memproduksi keripik pisang secara mandiri.
Produk siap jual: Lebih dari 50 bungkus keripik pisang dihasilkan selama pelatihan.
Peningkatan kepercayaan diri: Remaja merasa bangga dapat menghasilkan produk yang layak jual.
Peluang usaha baru: Terbentuk kelompok usaha remaja yang berkomitmen melanjutkan produksi dan pemasaran.
Salah satu peserta, Rani (15), mengaku senang dengan kegiatan ini. “Biasanya saya habis sekolah cuma main HP atau tidur. Sekarang saya bisa bantu orang tua dan punya uang saku sendiri,” ujarnya.
Dukungan dan Apresiasi : Kepala Dusun 3 Siampel Klareyan menyampaikan apresiasi yang besar atas terlaksananya kegiatan ini. Menurut beliau, program tersebut bukan hanya memberikan manfaat bagi para remaja, tetapi juga memberikan dampak positif untuk kemajuan desa secara keseluruhan. “Program ini bukan hanya bermanfaat untuk remaja, tapi juga untuk desa. Pisang yang biasanya dijual murah, sekarang bisa diolah jadi produk yang punya nilai lebih,” tuturnya dengan penuh semangat. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa inisiatif semacam ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memotivasi generasi muda agar lebih kreatif dan produktif. Tidak hanya itu, pelaku UMKM setempat pun ikut memberikan dukungan dengan berbagi pengalaman berharga berupa tips produksi, teknik pengolahan agar hasil lebih berkualitas, serta informasi mengenai pemasok bahan baku yang baik dan terjangkau. Bentuk kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, dan pelaku UMKM ini menjadikan kegiatan semakin efektif, efisien, serta memiliki potensi berkelanjutan. Dengan adanya sinergi tersebut, diharapkan usaha produksi keripik pisang ini tidak hanya bertahan selama program KKN berlangsung, tetapi juga dapat berkembang menjadi usaha mandiri yang terus berjalan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Dusun 3 Desa Klareyan.
Rencana Ke Depan : Kelompok usaha remaja akan terus berkomitmen untuk memproduksi keripik pisang secara konsisten dengan menjaga kualitas rasa, kebersihan, dan kemasan produk agar tetap diminati konsumen. Selain itu, mereka juga berupaya memperluas jaringan pemasaran dengan menargetkan distribusi tidak hanya di lingkungan sekitar, tetapi juga ke kantin sekolah, warung di desa tetangga, serta pasar tradisional yang memiliki potensi pembeli lebih luas. Dengan strategi pemasaran yang lebih terarah, diharapkan produk ini mampu dikenal lebih banyak orang dan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi anggota kelompok. Dalam jangka panjang, kelompok ini tidak hanya ingin berhenti pada produksi keripik pisang saja, tetapi juga bercita-cita menghadirkan inovasi produk lain berbahan dasar pisang maupun komoditas lokal lainnya, sehingga dapat memberikan variasi pilihan kepada konsumen. Melalui langkah tersebut, mereka berharap usaha kecil ini dapat berkembang menjadi lebih maju, berkelanjutan, dan mampu memberikan dampak positif, baik dari segi ekonomi bagi para anggotanya maupun dalam meningkatkan nilai tambah hasil pertanian lokal di masyarakat sekitar.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat, remaja desa mampu bertransformasi menjadi agen perubahan ekonomi. Alya menutup acara dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, terutama Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., I.P.M., ASEAN Eng. dan Dr. Siti Fatimah, M.Kes. selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN-T 123 UNDIP 2025.
“Terima kasih atas arahan dan bimbingan yang luar biasa. Semoga kegiatan ini menjadi awal dari banyak peluang yang bermanfaat bagi Desa Klareyan,” tutup Alya.
Dengan semangat kolaborasi, Dusun 3 Siampel Desa Klareyan kini memiliki generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai pelaku ekonomi yang mandiri dan kreatif. (Eko B Art). 
Oleh : Mahasiswa KKNT - 123 Universitas Diponegoro, Desa Klareyan - Pemalang. 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati